Hits: 74

Ruth Syahputri Situmorang

Pijar, Medan. Bayangkan bila kamu masuk ke rumah seseorang untuk mencuri, tetapi justru kamu yang tidak bisa keluar. Hal itulah yang terjadi di film Don’t Breathe, sebuah film thriller yang berbeda dari film horor biasa. Dirilis pada tahun 2016, film ini disutradarai oleh Fede Álvarez, yang sebelumnya juga dikenal lewat remake film horor Evil Dead.

Dalam film Don’t Breathe, Fede menyajikan sesuatu yang berbeda. Film ini bukan soal hantu atau makhluk gaib, tetapi soal ketakutan yang datang dari manusia itu sendiri. Ceritanya cukup sederhana. Tiga orang remaja bernama Rocky, Alex, dan Money, memutuskan untuk mencuri rumah seorang pria buta yang tinggal sendirian di sebuah kawasan sepi di Detroit. Mereka mengira ini akan jadi pencurian yang mudah, nyatanya pria buta itu justru sangat berbahaya.

Biasanya, orang yang buta dianggap lemah atau butuh pertolongan, tapi di film Don’t Breathe, si pria buta yang diperankan oleh Stephen Lang justru menjadi sumber ancaman utama bagi mereka. Stephen Lang tampil luar biasa di film ini. Meski tidak banyak berbicara, ekspresi wajah dan gerak tubuhnya cukup untuk membuat penonton merinding.

Karakternya bukan orang biasa. Ia adalah mantan tentara dengan kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Ia tidak bisa melihat, tetapi indra pendengarannya sangat tajam. Ia tahu dan sangat hafal setiap sudut rumahnya, setiap lantai yang berderit, dan setiap suara napas yang keluar dari para penyusup. Bahkan dalam kegelapan, ia bisa memburu orang-orang yang masuk ke rumahnya dengan sangat kejam.

Hal yang membuat film ini menarik adalah sisi gelap dari semua karakter. Tiga remaja pencuri ini memang bersalah karena ingin mencuri, tetapi lama-kelamaan, penonton juga mulai bersimpati kepada mereka, terutama pada Rocky yang ingin keluar dari kehidupan buruknya dan memberikan masa depan yang lebih baik untuk adiknya.

Don’t Breathe hampir tidak memiliki adegan dialog yang panjang atau percakapan yang mendalam, tetapi justru itu kekuatannya. Film ini ditampilkan dengan suasana sunyi, napas tertahan, dan kegelapan. Dari awal sampai akhir, film ini dipenuhi dengan ketegangan. Penonton seperti diajak masuk ke dalam rumah itu. Salah satu adegan paling menegangkan adalah saat para pencuri bersembunyi dan si pria buta meraba-raba area sekitar mereka. Penonton ikut menahan napas, seolah mereka juga ada di dalam rumah itu.

Sang sutradara, Fede Álvarez benar-benar tahu bagaimana membangun rasa takut tanpa harus berlebihan. Kamera yang bergerak pelan mengikuti karakter di lorong gelap, memperlihatkan bahwa kapan saja mereka bisa ketahuan. Walaupun tidak terdapat banyak dialog, ekspresi ketakutan dari para pemainnya sangat terasa.

Film ini membuktikan bahwa manusia bisa jauh lebih menakutkan dari makhluk halus. Dengan cerita yang padat, suasana yang mencekam, dan alur yang tidak terduga, Don’t Breathe berhasil membuat penonton merasa tegang selama hampir satu setengah jam. Film yang membuktikan bahwa terkadang, hal paling menyeramkan bisa datang dari rumah yang terlihat biasa dan dari orang yang kelihatannya tidak berdaya.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment