Hits: 68

Yudika Phareta Simorangkir

Pijar, Medan. Pernahkah kamu berniat untuk membuka Instagram atau TikTok sebentar saja sebelum tidur, tetapi berakhir scrolling media sosial sampai larut malam? Akhir-akhir ini, kebiasaan scrolling sebelum tidur sudah menjadi ritual modern bagi banyak orang. Tidak ada batasan spesifik dari segi usia, mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, maupun pekerja, sering melakukan scrolling media sosial sebelum tidur.

Teknologi yang semakin canggih, membuat dunia maya pada saat ini seakan-akan menjadi tempat favorit banyak orang untuk menghabiskan waktu. Berbagai penyebab menjadi alasan orang-orang melakukannya, ada yang merasa takut ketinggalan informasi terbaru, pelampiasan berkedok “me time” untuk menghilangkan stres setelah lelah menjalankan aktivitas seharian, atau sekadar mencari hiburan dengan mengikuti tren yang sedang viral. Bahkan beberapa orang menganggap scrolling selama beberapa waktu, dapat membuat merasa lebih rileks dan mudah tidur di malam hari.

Amanda, anak SMA yang berumur 18 tahun, mengungkapkan alasannya melakukan scrolling sebelum waktu tidur.

”Kalau aku sih biasanya scrolling HP 30 menit sebelum tidur. Biasa sih kalau lagi stres atau bosan, terkadang nggak bisa tidur. Jadi habis main HP bakal ngantuk akhirnya aku ketiduran,” ujar Amanda.

Padahal faktanya, melakukan waktu layar sebelum tidur bisa berdampak serius bagi kualitas tidur dan kesehatan seseorang. Sebuah penelitian dari Harvard Medical School, menyatakan bahwa paparan sinar biru di malam hari bisa menggeser jam biologis tubuh hingga tiga jam lebih lambat dan mengurangi produksi hormon melatonin yang bertugas membuat kita mengantuk. Meskipun tubuh sudah lelah, otak masih mengira rasa lelah tersebut belum menandakan waktunya untuk tidur. Akibatnya? Tidur jadi lebih larut dan keesokan harinya tubuh terasa lesu, sulit fokus, bahkan emosi rentan mudah naik dan turun.

Kurang tidur juga akan mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar, yaitu hormon leptin dan ghrelin. Terganggunya keseimbangan hormon tersebut membuat keinginan makan meningkat dan berisiko terjadinya kenaikan berat badan. Studi dari Sleep Research Society (2015), menyebutkan bahwa orang yang tidur kurang dari 6 jam setiap malam, berdampak pada risiko obesitas 30% lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidurnya cukup.

Efek dari kecanduan scrolling tidak berhenti sampai di situ. Kebiasaan ini memiliki dampak yang tidak bisa dianggap remeh bagi kesehatan mental. Pernah dengar istilah doomscrolling? Ini adalah kebiasaan secara terus-menerus mengonsumsi berita atau konten negatif tanpa batas saat menggulir layar. Konten negatif yang dikonsumsi akan memengaruhi kesehatan mental, meningkatkan kecemasan, bahkan memperburuk suasana hati.

Emilia Rahmadhani, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU, menyatakan bahwa kebiasaan ini dapat membuat seseorang kecanduan dan memicu terjadinya mimpi buruk serta insomnia.

“Dalam psikologi, ada yang namanya Teori Kondisi. Artinya, jika kita mengondisikan kebiasaan tersebut berulang, maka otak kita akan memberi sinyal ‘aku harus main gadget’. Sistem limbik, yakni sistem yang mengatur emosi, memori, dan perilaku dalam otak manusia akan aktif terutama bagian otak amigdala yang merespons rasa takut. Ketika otak kita terpapar konten negatif akan membuat kita jadi hyperarousal (kecemasan berlebihan), sehingga membuat kita mengalami mimpi buruk,” jelas Emilia.

Meski scrolling sebelum tidur sering terasa seperti pelarian yang menenangkan, penting bagi kita untuk mulai menyadari dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan fisik dan mental. Mengurangi kebiasaan ini bukan berarti kita harus kehilangan cara untuk rileks setelah seharian beraktivitas.

Vera, lulusan Psikologi  Universitas Sumatera Utara, mengungkapkan pendapatnya mengenai cara yang dapat dilakukan dalam membuat tubuh rileks dan mudah untuk tertidur.

“Tetapi menurut saya, scrolling bukan satu-satunya cara terutama untuk bisa rileks dan mudah tidur. Cara lain yang bisa dicoba adalah dengan teknik pernapasan 4-7-8. Tarik napas 4 detik, tahan napas 7 detik, buang napas 8 detik. Hal ini sudah saya terapkan dan membuat saya segera tidur,” jelas Vera.

Selain teknik pernapasan, Vera juga merekomendasikan beberapa kegiatan alternatif yang bisa membantu melepas stres setelah seharian beraktivitas tanpa harus melampiaskannya dengan scrolling di malam hari. Beberapa rekomendasinya, seperti mengobrol dengan orang terdekat untuk menghilangkan stres, melakukan peregangan ringan, atau menulis untuk menuangkan isi pikiran serta mendapat kepuasan batin. Kita juga bisa memanfaatkan fitur pada ponsel seperti menggunakan screen time, mode malam, atau membuat alarm waktu tidur dan jauhkan ponsel dari tempat tidur.

Scrolling di malam mungkin terasa nyaman dan bisa memberikan kepuasan tersendiri. Tapi tidur yang berkualitas jauh lebih berharga. Kalau kamu, biasanya berapa lama scrolling sebelum tidur?

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment