Dira Claudia Bahroeny / Valencia Christiani Zebua

Pijar, Medan. Di Indonesia bahkan di negara lain, kanker merupakan penyakit yang banyak menyerang masyarakat. Penyakit tersebut tidak mengenal usia ataupun jenis kelaminnya, baik itu pria maupun wanita bisa saja terkena penyakit ini.

Menjelang Hari Kanker Sedunia, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menyelenggarakan Webinar Nasional Yayasan Kanker Indonesia Pusat dalam upaya meningkatkan kepedulian masyarakat akan kanker. Acara yang terdiri dari talk show edukasi kanker dan peluncuran perdana jingle YKI ini dilaksana melalui video conference Zoom meeting dan YouTube, Selasa (02/01) pukul 14.00 WIB.

Dihadiri oleh dokter hebat sebagai pemateri, yakni Anwar Jusuf, Syahrul Rauf, Heru Priyanto, Brahmana Askandar, Laila Nuranna, Susanna Hilda, dan Natalia Widiasih, yang mengangkat pembahasan seputar kanker paru, kanker serviks, kanker usus, dan kesehatan jiwa para pejuang kanker.

Di Indonesia, kanker paru merupakan salah satu kanker terbanyak diderita masyarakat. Walaupun sudah banyak obat yang dapat dijumpai untuk penyakit ini, tetapi tetap saja tidak dapat menghambat peningkatan kurva penderita kanker paru yang diakibatkan oleh keterlambatan diagnosis.

Anwar Jusuf menjelaskan bahwa menurut Hadiarto Mangunnegoro, 43% pasien kanker paru telah didiagnosis sebagai TBC. Demikian juga menurut Taufik, bahwa 38% pasien kanker paru telah diobati sebagai TBC beberapa bulan, ketika akhirnya didiagnosis sebagai kanker.

“Contohnya adalah yang di duga tb (tuberculosis) ternyata bukan tb (tuberculosis) tetapi kanker. Karena memang bayangan rontgen-nya pun hampir sama, letaknya juga hampir sama,” jelas Anwar Jusuf.

Tidak hanya kanker paru, kanker serviks juga merupakan salah satu kanker dengan penderita terbanyak. Sebagaimana yang disampaikan oleh Syahrul Rauf, bahwa dalam 1 jam terdapat 1 wanita yang meninggal di Indonesia dan dalam 2 menit terdapat 1 wanita yang meninggal di dunia akibat kanker serviks.

Tingginya tingkat penderita kanker dapat diberantas dengan dilakukannya screening regular. Dengan screening yang teratur, kanker diharapkan dapat terdeteksi secara dini dan dapat dilakukan pencegahan untuk berkembang.

“Penemuan kanker serviks atau lesi prakanker ini pada kondisi yang lebih dini akan mempermudah pengobatannya. Sehingga seseorang tidak akan sampai pada penyakit kanker serviks dan insiden dari kanker seviks ini kita bisa turunkan, demikian pula angka kematian akibat kanker serviks,” ujar Syahrul Rauf.

Akhir acara, webinar nasional ini ditutup dengan peluncuruan perdana jingle Yayasan Kanker Indonesia dan foto bersama dengan seluruh peserta.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment