Hits: 55

Tevy Ulani S Depari / Najla Khairani 

Pijar, Medan. Amaraprodem (Aliansi Mahasiswa Rakyat Pro Demokrasi) merupakan suatu aliansi yang bertujuan untuk menyuarakan segala isu yang sedang terjadi di masyarakat. Saat ini, Amaraprodem telah melaksanakan gerakan “Education: Not for Sale” dengan mengangkat isu pendidikan pada hari Selasa (01/10/24) di Posbloc Medan. Gerakan ini timbul karena keresahan yang dialami oleh murid, mahasiswa, dan masyarakat akibat kondisi pendidikan saat ini.

Aliansi ini dibentuk pada bulan September 2024 dan gerakan ini adalah bentuk aspirasi ketiga yang dirancang oleh Amaraprodem. Partisipan yang turut hadir dalam gerakan ini berorientasi pada keadilan atas hak-hak pendidikan bagi masyararakat Indonesia.

Uniknya, gerakan ini menyediakan Lapak Baca bagi siapa saja yang ingin membaca koleksi buku-buku satir milik hibah dari para partispan. Tema yang diangkat dari aksi ini adalah “Realitas Pendidikan”. Saat ini, realitas pendidikan sudah menjadi barang jual beli. Dengan adanya Lapak Baca ini, berbagai sumber bacaan di ruang publik dihadirkan untuk menarik minat baca masyarakat yang masih rendah.

Hazel, salah satu partisipan aktif lain dari gerakan ini menyampaikan bahwa setiap gerakan oleh Amaraprodem dapat diikuti oleh semua kalangan masyarakat. Amaraprodem tidak membatasi siapa saja yang ingin berjuang menciptakan keadilan.

Gerakan “Education: Not for Sale” sebagai Bentuk Penyuaraan terhadap Isu Pendidikan Saat Ini - www.mediapijar.com
Koleksi Buku Satir Amaraprodem.
(Fotografer: Tevy Ulani S Depari)

Salah satu isu keresahan di masyarakat saat ini adalah biaya pendidikan yang melonjak tinggi sehingga akses pendidikan semakin tidak dapat diperoleh oleh kelompok tertentu. Apalagi tidak banyaknya kapasitas pendidikan di pelosok.

“Hari ini, bisa dilihat bahwa pendidikan sudah dikomersialisasi. Mungkin kawan-kawan sekarang dapat merasakan bahwa semakin hari biaya pendidikan semakin mahal, terlebih di jenjang perguruan tinggi. Pendidikan sudah lari dari hakikatnya,” ucap Nesta, salah satu partisipan aktif.

“Berbicara tentang hasil, kita semua menginginkan adanya revolusi. Tetapi untuk mencapai itu, kita berjuang bersama dari seluruh aliansi, terutama mahasiswa. Perubahan tidak bisa hadir dari mahasiswa saja, tetapi kita butuh dari masyarakat. Oleh karena itu, Amaraprodem membuat penyadaran seperti ini untuk kampanye publik. Kita tidak menuntut, tetapi menyadarkan masyarakat bahwa inilah realita pendidikan hari ini,” lanjutnya.

Amaraprodem juga tidak mematok terhadap satu isu saja. Tetapi, mereka juga mengkaji isu politik, ekonomi, maupun kesehatan, dimana mereka juga pernah merasakan penindasan di dalamnya.

Dengan adanya gerakan “Education: Not for Sale” ini, diharapkan mampu menyadarkan masyarakat terhadap hakikat pendidikan yang telah jauh dari revolusinya. Gerakan ini juga diharapkan agar terus dilakukan secara rutin, tidak hanya pada isu pendidikan tetapi segala isu yang terjadi di masyarakat.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment