Hits: 42
Evelin M. Purba / Dicky Wahyudi
Pijar, Medan. Pada bulan November mendatang Indonesia akan melaksakan pemilihan kepada daerah (pilkada) kembali yang akan memilih gubernur, bupati, dan walikota setelah pemilihan umum (pemilu) pada Februari lalu. Dalam pemilihan yang akan datang, sangat penting untuk melihat partisipasi dan kesadaran yang dimiliki oleh generasi muda.
Berkaca pada pemilu Februari lalu, mahasiswa atau generasi muda merupakan pemilih dengan jumlah terbanyak atau mayoritas yang akan menggunakan suaranya pada Pilkada mendatang. Oleh sebab itu, kepedulian mahasiswa sangat dibutuhkan dalam partisipasi pilkada tahun ini, karena pilihan mereka menentukan siapa kepala di Sumatra Utara ini selama lima tahun mendatang.
Dilansir dari dataindonesia.id,data Badan Pusat Statisik (BPS) menunjukkan bahwa pada Pemilu 2019 terdapat 34,75 juta orang yang tidak menggunakan hak pilihnya. Semakin banyak mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya dengan bijak, maka akan memperkecil angka golongan putih (golput) di suatu daerah yang akan berdampak terhadap terpilihnya pemimpin terbaik yang akan memimpin daerah-daerah di Sumatra Utara ini.
“Menurut aku sih perlu ya, perlu banget malah (untuk menggunakan hak pilih). Menurut aku pribadi sih, mungkin penting ya, untuk mahasiswa memahami visi misi dari calon-calon yang ada. Jangan asal milih,” ujar Arsyka Naziha salah seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU).
Sebagai yang memiliki akses lebih baik untuk mencari informasi dan menentukan sikap, mahasiswa dapat menjadi mesin penggerak untuk lingkungan sekitarnya dalam ikut peduli terhadap pilkada yang akan datang. Mahasiswa selayaknya dapat menjadi pemberi pemahaman betapa pentingnya pilkada ini untuk kelangsungan pemerintahan di daerah.
“Urgensi mengikuti pilkada sebagai mahasiswa selain sebagai pemilih, juga sebagai pemberi pemahaman bagi masyarakat yang akan memilih. Mau tidak mau, sebagai kaum akademisi, mahasiswa mempunyai tanggung jawab moral untuk memastikan hal-hal demokratis tetap berjalan di Indonesia,” ujar Daffa Fudail sebagai mahasiswa FISIP USU.
Kepentingan setiap daerah untuk memilih pemimpin terbaik yang akan mengurusi permasalahan didaerah haruslah diperhatikan tiap mahasiswa dan masyarakat, agar mereka dapat merasakan dampak langsung dari hasil pilkada tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Jika pemimpin terbaik yang terpilih, maka berkembangnya suatu daerah dapat dirasakan langsung oleh masyarakatnya.
“Harus ikut, karena partisipasi mahasiswa dalam pilkada ini tak hanya menentukan nasib daerahnya lima tahun ke depan. Namun, menjadi sarana untuk memastikan arah gerak bangsa ini ke depannya. Sikap mahasiswa harusnya memanfaatkan lingkungan akademisnya untuk mengkaji tiap-tiap calon kepala daerah yang ada agar tidak salah dalam memilih,” tambah Daffa.
(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

