Hits: 26

Tasya Azzahra Nasution

Pijar, Medan. Sadar atau tidak, ketika kita ditanya “Who are you?” pada saat itu kita sedang diberi panggung untuk dapat nge-branding diri dengan menunjukkan siapa kita sebenarnya. Branding yang kita lakukan akan memperlihatkan sisi diri kita, yang mana orang lain belum tahu atau bahkan tidak punya dan harus belajar dari kita. Namun sayangnya, masih ada di antara kita yang belum tahu cara untuk membangun personal branding.

Jemari Organizer menghadirkan webinar yang membahas tentang “How to Branding Yourself in Digital Era” pada Sabtu (17/4) melalui Zoom meeting. Webinar yang dimulai pada pukul 10.00 WIB ini menghadirkan dua pemateri, yaitu Boy Situmorang yang merupakan President of Tanoto Scholars Association dan mahasiswa di Humblodt University, German. Lalu hadir juga M. Iqbal Harefa yang merupakan Presiden Mahasiswa USU 2019-2020 sekaligus owner @jaheatok sebagai pembicara.

Dalam pemaparannya, Boy Situmorang menyatakan bahwa untuk membangun personal branding kita harus membiasakan diri agar dapat disorot oleh orang lain. Ia juga menjelaskan mengenai teori purple cow atau sapi ungu. Kita tahu bahwa sapi biasanya berwana putih, hitam, atau mungkin coklat, sedangkan untuk sapi berwarna ungu mungkin tidak ada. Teori tersebut menyatakan bahwa ketika banyak sapi berjejer di padang rumput dengan warna-warna yang sudah biasa kita lihat, ada sapi ungu yang muncul di antaranya. Hal tersebut yang membuat fokus perhatian kita mau tidak mau akan mengarah ke sapi berwarna ungu.

Pemaparan materi oleh Boy Situmorang dalam webinar “How to Branding Yourself in Digital Era” pada Sabtu (17/4). (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

“Kita harus membuat titik bedanya kita teman-teman, karena ketika kita beda, kita tidak ada, makanya orang harus mencari kita. Selanjutnya setelah kita memiliki titik bedanya, kita harus original dan otentik,” jelas Boy Situmorang.

Iqbal Harefa juga menyampaikan dalam pemaparannya, bahwa kita harus membuat suatu ide baru atau ide yang berbeda. Ia juga menjelaskan mengenai mentalitas, di mana masih banyak yang tidak siap mendengarkan orang lain dan tidak kuat dengan cibiran orang lain.

“Ini gawat teman-teman, kalau akhirnya kita hanya memikirkan orang lain, perkataan orang lain, itu tidak akan ada siapnya. Kalau dibedah dalam sebuah buku, misalnya dengan judul omongan tetangga, omongan kawan, itu bab-nya banyak dan tidak akan siap-siap kita bedah. Itu pasti akan ada, mau sebaik apapun kita pasti akan ada yang mencibir,” tegas Iqbal.

Dalam melakukan personal branding, sebenarnya pencitraan itu sah-sah saja. Pada dasarnya pencitraan merupakan kata yang positif, namun dapat menjadi negatif ketika apa yang kita citrakan tidak sesuai dengan diri kita. Maka ketika kita ingin mempersonal branding diri, berikanlah citra sesuai dengan jati diri kita.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment