Hits: 47

Adelima Patricya

Pijar, Medan. Dalam memperingati dan memeriahkan Hari Ulang Tahun Permata Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) yang ke-76 Tahun, Permata Bethesda (Permata GBKP Pasar II Titi Rantai) menyelengarakan acara Gendang Guro-Guro Aron yang bertemakan “Tedeh Ateku Kam”. Acara ini diselengarakan di Balai Namaken pada Sabtu (14/9/2024) pukul 15.30 WIB.

Tedeh ateku kam merupakan Bahasa Karo yang memiliki arti aku merindukanmu. Aan Christian Pranata Purba, selaku Ketua Panitia, menjelaskan bahwa tema ini dipilih dengan harapan dapat mengumpulkan pemuda-pemuda GBKP Pasar II untuk berkumpul kembali dalam acara ini dan saling melepas rindu.

“Gereja Pasar II merupakan salah satu gereja paling tua di Kota Medan, jadi banyak pemuda-pemuda yang dulunya bergereja di GBKP Pasar II yang sudah sukses dapat berkumpul kembali. Harapannya, acara ini dapat mengumpulkan para orang tua (jemaat Gereja) kami yang sebelumnya,” ujar Aan.

Aan juga menjelaskan bahwa Gendang Guro-Guro Aron merupakan sebuah acara pesta panen dari budaya Karo. Dalam GBKP sendiri, acara ini biasanya diadakan empat tahun sekali, tetapi bergantung pada pergolakan pengurus yang menjabat kala itu.

Sejalan dengan berlangsungnya pesta panen tahun ini, Permata Bethesda memberikan apresiasi dalam bentuk acara yang meriah, yang mana pemuda-pemuda berkumpul dalam kerja tahunan.

“Jadi sebenarnya Gendang Guro-Guro Aron itu adalah pesta tahunannya orang Karo. Jadi setiap daerahnya itu punya pesta tahunannya masing-masing, khususnya kita di GBKP karena kita banyak menganut suku Karo, program itu kita balut dengan budaya kita,” jelas Aan.

Acara ini juga menghadirkan Iche Br. Ginting, Tambar Sitepu, Narta Siregar, Riel Sinuhaji, dan Batu Tarigan sebagai pengisi dan pemeriah acara.

Gendang Guro-Guro Aron Permata Bethesda: Meriahkan Ulang Tahun Permata Ke-76 - www.mediapijar.com
Penampilan Tari Tradisional Karo dari pasangan utama
(Fotografer: Adelima Patricya)

Aan ingin menyorot bahwa acara ini dapat menjadi wadah bagi para pemuda-pemuda di GBKP untuk mengenal dan melestarikan budaya Karo, terlebih tari tradisional mereka yang biasa disebut landek.

“Yang mau di-highlight adalah bagaimana kita kaum muda yang sekarang tidak lupa dengan budaya kita. Banyak pemuda-pemuda sekarang yang mungkin tari tradisionalnya aja ga ngerti gimana. Sekarang dengan adanya program ini dapat memberikan edukasi kepada pemuda-pemuda yang ada di gereja bawasannya penting menjaga kelestarian budaya, yaitu budaya Karo,” ujarnya.

(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

Leave a comment