Nadya Divariz Bhayitta Syam

Pijar, Medan. Saat ini ada sebuah tren besar yang sedang berjalan. Tren ini pun akan terus berlanjut bahkan hingga Covid-19 selesai, kata Menteri pendidikan Singapore.

Namun, apasih trennya? Yap, memakai masker, rutin mencuci tangan, selalu membawa hand sanitizer, dan semua hal popular yang disebut sebagai new normal.

Sesuai dengan namanya, saat ini kita sedang berada pada masa yang dulunya kita anggap biasa, menjadi luar biasa. Normal baru (new normal), yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang perlahan masuk dan memaksa semua orang untuk membiasakan diri. Tetapi, apakah ini masih disebut normal atau hanya sebuah keabnormalan yang memaksa? Semua itu tergantung kepada siapa kita bertanya.

Wakil rektor Universitas Pertamina bidang Riset, Pengembangan, dan Kerjasama mengatakan bahwa, “pada akhirnya situasi seperti saat ini membuat kita menyadari satu hal. Sebagai manusia kita seakan dikerangkeng, terjebak, dipaksa hidup dalam sebuah kotak bernama rumah atau tempat berlindung seluas apapun itu. Lalu, mengapa hingga kini masih memenjarakan hewan dengan cara yang sama? Bukankah kita semua pada dasarnya adalah sama? Sama-sama makhluk hidup,” ujarnya.

Moderator dan seluruh pemateri yang hadir di webinar Pertamina Space Up 3.0 Living with COVID-19 in New Normal Era
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Namun jika dilihat dari sudut pandang berbeda, bukankah lebih mudah me-normal-kan binatang di dalam kandang daripada manusia dikandangkan?

Selain sebutan dan cara berpikir yang berubah-ubah, hal lain yang pasti tak sama lagi adalah kegiatan ‘normal’ kita. Mulai dari praktek jual beli, tata cara berkunjung, peraturan saat bepergian, hingga bagaimana cara mendapatkan pendidikan semua digantikan. Seluruh dunia seakan hidup di dunia daring (dalam jaringan).

Sebenarnya, ada banyak hal yang tidak bisa digantikan oleh dunia daring, secanggih apapun hal itu nantinya berkembang. Hal tersebut dikatakan oleh Siwage, Dosen Yusof Ishak Institute Singapore pada webinar Pertamina Space Up 3.0, Living With Covid-19 in New Normal Era.

Membawakan topik tentang bagaimana adaptasi pendidikan di Singapura pada era New Normal, Siwage berpendapat bahwa sebaik apapun sistem belajar daring yang diterapkan di Singapore ataupun negara lainnya, tetap tidak akan bisa menggantikan efektifitas sekolah tatap muka. Ada begitu banyak hal yang hanya bisa didapat dengan bertemu.

“Kemampuan bersosialisasi, melatih beberapa softskill, inisiatif, dan hal-hal analog lainnya. Solusi mungkin akan ada suatu saat nanti. Ntah harus menunggu pandemic berakhir atau mencari cara lain agar semua bisa kembali seperti dahulu,” ungkap Siwage.

 

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

 

Leave a comment