Hits: 10

Alya Rizky Fitriani

Pijar, Medan. Film merupakan media komunikasi audio visual yang menggabungkan keindahan sinematografi dengan kompleksitas jalan cerita, disampaikan melalui kebolehan akting para aktor dan merujuk pada kualitas skenario yang baik. Setiap tahun di Indonesia, karya film mendapatkan peringatan tersendiri lewat Hari Film Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret.

Momentum Hari Film Nasional mulai diperingati sejak ditandatanganinya Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) No. 5 Tahun 1999 oleh Presiden B. J. Habibie. Tanggal 30 Maret sendiri merujuk pada hari awal pengambilan gambar film Darah dan Doa atau The Long March of Siliwangi. Film tersebut menjadi salah satu film Indonesia pertama yang disutradarai dan diproduseri langsung oleh pribumi, yaitu Usmar Ismail pada 1950.

Telah 7 dekade berlalu sejak Darah dan Doa dirilis, kini perkembangan genre film di Indonesia cukup pesat. Beragam film Indonesia pun mampu bersaing di kancah internasional. Namun, menurut hasil riset yang dilakukan oleh Lembaga Sensor Film pada 2023, film horor merupakan genre favorit bagi 34% orang Indonesia, komedi (28%), drama (24,73%), musikal (3%), dan kategori lainnya (7%).

Sepanjang tahun 2023 saja, ada sebanyak 20 film horor Indonesia ditayangkan. Tingginya minat penonton Indonesia terhadap film horor membuat genre tersebut diproduksi dengan lebih variatif. Sayangnya, sejumlah film horor mulai menyangkutpautkan nilai-nilai agama dan disalahgunakan.

Gina S. Noer, sutradara film Dua Garis Biru mengutarakan kekecewaannya terhadap film horor Indonesia lewat unggahan di akun Instagram pribadi.

“Masalahnya, dengan kebanyakan horor Indonesia yang temanya agama saat ini sudah masuk ke ranah eksploitasi agama. Terutama agama Islam, mungkin karena mayoritas, ya. Kebanyakan film horor menggunakan salat, doa, zikir, dan lain-lain cuma jadi plot devices untuk jumpscare,” ujar Gina pada Kamis (21/3/2024).

Dikarenakan adanya unsur eksploitasi agama di film-film horor Indonesia, Gina melihat banyak penonton mulai terganggu dalam beribadah.

“Proses suci mengafankan terus-menerus dieksploitasi jadi pocong. Cek di sosial media, banyak orang jadi takut salat karena diganggu setan. Enggak semua orang dapat pengajaran agama Islam yang baik di lembaga pendidikannya bahkan keluarganya. Masa kita yang bikin film dan berkesenian nggak mindful sama hal ini,” lanjut Gina.

Diperingatinya Hari Film Nasional 2024 dapat membuat para filmmaker nasional terdorong untuk menciptakan lebih banyak karya-karya inspiratif. Peringatan hari ini pula dapat menyulut semangat anak bangsa untuk terus mengembangkan industri perfilman Indonesia agar menjadi lebih baik dan berdaya saing global.

 

(Redaktur Tulisan: Alya Amanda)

Leave a comment