Hits: 86

Dwi Garini Oktavianti

Pijar, Medan. Pemilu sebagai ajang pemilihan presiden-wakil presiden dan anggota legislatif periode 2024-2029 di Indonesia telah selesai dilaksanakan pada 14 Februari 2024. Berdasarkan hitung cepat (quick count), pasangan calon (paslon) Prabowo-Gibran lebih unggul dibandingkan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud.

Hasil hitung cepat tersebut menyoroti fenomena mayoritas diam (silent majority) yang disebut-sebut sebagai salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kemenangan paslon 02, Prabowo-Gibran.

Silent majority adalah sekelompok besar orang yang diam-diam mendukung suatu kebijakan, pandangan, atau kelompok tertentu, tetapi jarang atau bahkan tidak pernah mengekspresikan pendapatnya secara terbuka.

Silent majority pertama kali dipopulerkan oleh presiden Amerika Serikat, Richard Nixon, ketika menyampaikan pidato mengenai Perang Vietnam pada tahun 1969. Istilah ini merujuk kepada warga Amerika yang tidak ikut andil dalam demonstrasi terhadap Perang Vietnam, tetapi secara diam-diam mendukung kebijakan pemerintah untuk melanjutkan keterlibatan militer di sana.

Pihak yang mendapat dukungan dari silent majority memiliki kesempatan untuk memenangkan suatu keadaan.

Sebagai contoh dalam dunia politik, khususnya ketika pemilu diadakan. Para kandidat yang mampu menarik dukungan dari silent majority, berpeluang besar untuk mendapat keunggulan dan meraih kemenangan. Meskipun kelompok silent majority mungkin tidak selalu terlihat vokal di hadapan publik, tetapi kekuatan mereka sebagai mayoritas diam-diam dapat menjadi faktor penentu dalam hasil pemilihan.

Fenomena Silent Majority di Kalangan Mahasiswa pada Pemilu 2024 - www.mediapijar.com
Ilustrasi surat suara Pemilu 2024
(Sumber Foto: cnbcindonesia.com)

Mahasiswa sebagai salah satu kelompok yang menyumbangkan suara terbesar dalam pemilu kali ini disinyalir merupakan bagian besar dari fenomena silent majority.

Para mahasiswa ini seringkali tidak terlibat secara aktif dalam kegiatan politik dan cenderung bersikap pasif terhadap perdebatan atau gerakan-gerakan yang ada meskipun mereka termasuk dalam kategori pemilih dengan jumlah yang besar.

“Bukan berarti saya tidak peduli atau bersifat apatis, tetapi seringkali saya merasa bahwa suara kami tidak akan cukup didengar atau dihargai dalam lingkungan yang didominasi oleh suara-suara yang lebih vokal,” ujar Arya Prayoga, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Mahasiswa yang memilih menjadi bagian dari silent majority mungkin kehilangan kesempatan untuk terlibat dalam aktivitas politik dan sosial. Keberadaan silent majority di lingkungan kampus juga dapat mengurangi keragaman pemikiran serta menciptakan budaya ketidakpedulian terhadap isu-isu penting menjadi normal. Akibatnya, suara mahasiswa tidak diwakili dengan baik dalam proses politik atau pembuatan kebijakan yang memengaruhi mereka.

Adapun silent majority ini juga menimbulkan berbagai tanggapan di media sosial. Tak hanya kalangan mahasiswa saja, tetapi terlihat juga dalam pengguna platform media sosial, seperti media sosial X yang dahulunya dikenal Twitter membagikan pendapatnya.

“Saya pribadi memilih untuk tidak bersuara karena lingkungan sekitar saya susah untuk menerima pendapat yang berbeda,” cuitan dari akun @gacorist.

Jadi, keputusan untuk menjadi bagian dari silent majority sebagai mahasiswa bukanlah pilihan yang pasti tepat atau salah. Namun, lebih merupakan hasil dari pertimbangan pribadi, lingkungan, dan nilai-nilai individu.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment