Hits: 67

Rani Sakraloi

Pijar, Medan. Filosofi nilai dan estetika Indonesia terlukis dalam warisan budaya batik. Seni yang lekat akan sejarah, luhur, dan budaya bangsa ini adalah kebanggaan yang menjadi wajah serta kehormatan penerus bangsa untuk melestarikannya.

Kilas balik akan peresmian batik sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO pada tahun 2009 menumbuhkan motivasi akan pelestarian budaya. Memperingati Hari Batik Nasional ke-14, tema tahun ini menyorot kondisi industri batik yang sempat terpuruk, terutama saat pandemi Covid-19. Mengusung tema “Batik Bangkit” diharapkan agar batik dan industrinya akan terus membangkitkan semangat bangsa meningkatkan rasa cinta tanah air serta produk dalam negeri.

Peringatan tahunan ini disambut baik dilihat dari banyaknya pihak yang memanfaatkan momentumnya untuk memperkenalkan dan mempromosikan batik. Salah satunya adalah penyelenggaraan “Istana Berbatik” di area Istana Kepresidenan Jakarta pada Minggu (1/10/2023).

Peragaan busana di pagelaran Istana Berbatik
(Sumber foto: travel.okezone.com)

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam sambutannya yang disiarkan di akun resmi YouTube Sekretariat Presiden, menyampaikan bahwa bangsa Indonesia patut berbangga memiliki batik dan mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kebanggaan terhadapnya.

Sayangnya, penggunaan batik kurang diminati meskipun semakin mudah didapatkan secara langsung maupun lewat e-commerce. Disadur dari akurat.co, seorang desainer batik, Iwet Ramadhan, menjelaskan alasan batik kurang diminati di kalangan anak muda, diantaranya karena batik dipandang identik dengan hal kuno, mahal, dan desainnya kurang menarik.

Oleh karenanya, diperlukan inovasi dengan memperbanyak tipe desain batik untuk mengembalikan minat publik terhadap pelestarian budaya batik. Hingga saat ini, terdapat beragam jenis pengolahan batik yang dipasarkan, seperti batik tulis, cap, printing, dan kombinasi sehingga munculah variasi harga serta kualitas batik itu sendiri.

Sriana Br Ginting, pemilik usaha “Lydianta Batik” asal Tanah Karo memproduksi dan memasarkan batik Karo di Magelang.

Kreasi batik yang dibuat memiliki corak dan motif sesuai kebudayaan Karo. Ia mengombinasikan desain batik dengan gambar rumah adat hingga aksara Karo sehingga batik buatannya memiliki ciri khas yang berbeda dari batik di Jawa.

Batik Karo motif Aksara Karo yang dipadukan dengan ornamen dan rumah adat Karo
(Sumber foto: Facebook Lydianta Batik)

“Karena kita memilih pasar kita khusus Sumatra Utara, daerah asal. Di sana belum ada dulunya yang khusus batik Karo. Kalau batik Jawa kan persaingannya tinggi, sudah lebih banyak yang senior. Jadi kita memang sengaja memilih pasarnya ke arah sana sekalian melestarikan budaya,” ungkap pengrajin batik Karo ini.

Mengenai Hari Batik Nasional, Sriana berharap agar masyarakat, khususnya suku Karo bisa semakin bangga mengenakan batik,.

“Harapannya orang Karo, pertamanya, bangga pakai batik Karo. Jadi batik Karo bisa sejajar dengan batik-batik dari daerah lain,” pungkasnya.

Melalui inovasi dan kreativitas keragaman jenis batik ini, semoga industri batik semakin tersokong serta bangkit perekonomiannya. Tidak hanya itu, setiap generasi masyarakat Indonesia juga semakin leluasa dan bangga mengenakan batik yang menjadi identitas budaya bangsa. Selamat Hari Batik Nasional!

(Redaktur Tulisan: Hana Anggie)

Leave a comment