Hits: 354
Muhammad Fikri Haikal Saragih
Pijar, Medan. Pelaksanaan kegiatan orasi ilmiah menandakan puncak perayaan Dies Natalis ke-45 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) yang digelar di Gelanggang Mahasiswa (Gema) pada Sabtu (8/11/2025).
Lewat tema “Dari Kampus untuk Negeri, Creating Future Leaders”, kegiatan ini dihadiri oleh Rektor USU, Muryanto Amin; Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi RI), Meutya Hafid; Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi; sejumlah lembaga madya di Kota Medan; dan mahasiswa.
Meutya dalam orasinya mengungkapkan bahwa pemimpin sejati harus bergerak dari bagian yang paling inti dan mendasar, yaitu hak.

(Fotografer: Muhammad Fikri Haikal Saragih)
“Jika kita, kampus, bertekad untuk melahirkan pemimpin, maka yang paling utama kita sadari ialah harus bergerak dari unsur yang paling kecil, tetapi paling inti dari manusia, yaitu hak. Kepemimpinan tidak diukur dari megahnya konsep, melainkan dari ketulusan dan keberanian untuk memulai, serta konsistensi menjalankan hak,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan upaya negara dalam menciptakan pemimpin digital masa depan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP TUNAS) No.17 Tahun 2025. Peraturan ini merupakan mandat langsung dari Presiden RI kepada Menteri Komdigi sebagai bukti negara hadir melindungi generasi emas 2045.
Meutya mengungkapkan sebanyak 89% anak usia di bawah lima tahun telah menggunakan internet. Oleh karena itu, terdapat sejumlah kebijakan yang diatur sebagai bentuk mewujudkan pemimpin digital, seperti pembatasan usia dan persetujuan orang tua, mengelola data anak secara tegas dan ketat, menyediakan fitur pelaporan yang aman, serta menyesuaikan menu akses yang sesuai dan aman.
Tidak jauh berbeda, Arifah dalam orasinya menuturkan bahwa mahasiswa sebagai pemimpin masa depan harus mampu menjadi jembatan antara kemajuan teknologi dan kemanusiaan.
“Dalam konteks pembangunan bangsa, kepemimpinan masa depan tidak dapat dilepas dari nilai-nilai empati, kesetaraan, dan keberlanjutan. Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mendengar suara yang paling lemah, menguatkan kelompok yang paling rentan, dan memastikan setiap kebijakan membawa keadilan bagi semuanya,” tuturnya.
Ia berharap generasi muda sebagai pemimpin masa depan dapat mengatasi tantangan yang ada, dan mampu menjadi manusia berdaya saing.
“Saya harap, generasi kita dapat bijaksana dalam menggunakan teknologi yang menjadi tantangan utama. Jika tidak, maka akan menimbulkan hal-hal negatif. Ketika kita bisa memanfaatkan teknologi, informasi, dan sebagainya, maka hal itu akan menjadi bantuan untuk membangun manusia yang unggul dan sukses,” tutupnya.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

