Hits: 62

Reporter Pijar / Reny Elyna

Pijar, Medan. Fenomena Chat GPT yang saat ini menyelimuti khalayak ramai, khususnya di dalam lingkup perguruan tinggi, sedang gencar-gencarnya diperbincangkan. Pemakaiannya dinilai menurunkan daya juang dan nilai kreativitas dari berbagai sivitas akademik di dalam perguruan tinggi.

Dilansir dari Liputan6.com, Chat GPT adalah bot otomatis yang dapat mempelajari pola pemakaian bahasa manusia dan menghasilkan teks yang kemiripannya hampir sama persis dengan bahasa manusia pada umumnya. Dibarengi oleh berkembangnya teknologi Artificial Intelligence (AI), Chat GPT dikemas dalam format percakapan (dialog).

Mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum USU Anisa Maharani Putri Kurniawan Tarigan membagikan pendapatnya mengenai fenomena Chat GPT. Ia berpendapat bahwa Chat GPT adalah teknologi yang di dalamnya terdapat pengetahuan dan berfungsi untuk memudahkan pekerjaan dari berbagai bidang.

“Namun, fenomena Chat GPT ini dapat menaikkan tingkat plagiarisme dan menurunkan skala kreativitas, karena kemudahan yang diberikan sehingga orang-orang menjadi malas untuk berpikir bahkan tidak mampu untuk berinovasi lagi,” ungkapnya.

Sofiari Ananda selaku dosen dari Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU turut memberikan opininya mengenai fenomena ini.

“Chat GPT ini tidak hanya digunakan di kalangan mahasiswa, melainkan juga di kalangan dosen yang digunakan untuk keperluan keterampilan tulis menulis. Chat GPT ini juga bersifat luas, tidak hanya dipakai di lingkup perguruan tinggi, tetapi juga bagi orang-orang yang bekerja juga membutuhkan pemakaian dari tools ini,” jelasnya.

Sofiari juga menambahkan bahwa pengaruh yang dibawa oleh Chat GPT di lingkup kampus dinilai besar.

“Pengaruhnya pasti besar, karena perguruan tinggi bahkan sivitas akademika itu tidak lepas dari hal tulis menulis. Tidak hanya itu, bahkan tenaga pendidik dan pegawai tetap membutuhkannya, sesederhana apabila ingin menulis sebuah surat, kata sambutan, kata pengantar, dan lain sebagainya yang memang memerlukan seni tulis menulis itu sendiri,” tambahnya.

Pemakaian Chat GPT bagi mahasiswa dinilai belum tentu efektif dalam keberlangsungan perkuliahan, tetapi hal ini pasti memudahkan mereka. Sofiari mengatakan bahwa ia menggunakan plagiarism checker untuk memeriksa tugas mahasiswa.

Fenomena Chat GPT ini pastinya menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak, terkhusus pada lingkup perguruan tinggi. Sofiari sebagai dosen menjelaskan bahwa dirinya berada di pihak pro pada polemik Chat GPT.

“Saya termasuk ke dalam pihak pro terhadap Chat GPT, karena dapat memudahkan kita dalam pekerjaan dan mampu bekerja dengan cepat akan hal yang ingin kita cari tahu. Sebaliknya, hal ini akan menjadi kontra apabila kita memakai teknologi AI secara tidak bijak. Artinya, ketika kita menggunakannya tanpa membaca ulang hasilnya, tentunya kita tidak akan mendapatkan esensi apapun dari pemakaiannya,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

Leave a comment