Hits: 28
Nathasya Sianipar
Pijar, Medan. Memiliki tubuh dengan bentuk yang ideal tentunya menjadi keinginan semua orang sehingga banyak orang menjalankan program diet untuk menurunkan berat badannya. Tidak hanya untuk alasan estetika, diet juga biasanya dilakukan seseorang untuk mempertahankan kesehatannya dari berbagai penyakit yang ditimbulkan akibat berat badan yang berlebihan, seperti darah tinggi, serangan jantung, strok, dan lainnya.
Berbagai macam cara dilakukan untuk meraih berat badan yang ideal, mulai dari cara yang biasa seperti berolahraga rutin hingga cara instan yang cukup ekstrim seperti operasi. Selain itu, salah satu upaya yang biasa dilakukan oleh orang yang menjalankan program diet adalah dengan mengurangi jumlah kalori dalam makanan yang dikonsumsi atau yang lebih dikenal juga sebagai defisit kalori.
Diet defisit kalori merupakan salah satu cara menurunkan berat badan yang efektif dan cenderung sederhana pelaksanaannya. Meskipun demikian, masih banyak yang salah dalam mengartikan implementasi defisit kalori dan bagaimana melaksanakannya dengan benar. Sebagian besar orang yang melakukan kesalahan dalam defisit kalori biasanya karena pengurangan jumlah makanan yang dikonsumsi secara drastis tanpa memperhatikan kebutuhan utama tubuhnya.
Manusia dewasa membutuhkan setidaknya 2.100-2.500 kalori per harinya agar tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga pengurangan kalori ini harus dilakukan dengan berhati-hati dengan mempertimbangkan kebutuhan tubuh dan beratnya aktivitas sehari-hari. Mengingat bahwa fungsi utama kalori adalah sebagai sumber energi bagi anggota tubuh, penurunan asupan kalori secara drastis dan berlebihan akan berpengaruh bagi kebugaran tubuh itu sendiri.
Dilansir dari alodokter.com, defisit kalori yang benar dapat dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah kalori yang akan dikurangi dan jumlah kebutuhan kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh sehari-hari agar tetap terpenuhi dan tubuh menjadi bugar. Jenis makanan yang dikonsumsi selama diet defisit kalori juga perlu dipilih dengan benar. Makanan dengan kandungan protein dan serat yang tinggi lebih disarankan daripada karbohidrat sederhana dan makan-makanan cepat saji.
Selain memperhatikan jumlah kalori dan jenis kandungan makanan yang dikonsumsi, diet defisit kalori juga harus dibarengi dengan olahraga yang rutin dan cukup untuk meningkatkan efektivitas dan optimalisasi hasil diet. Dengan melakukan olahraga yang rutin, maka jumlah kalori yang masuk dapat dibakar menjadi energi yang disalurkan melalui kegiatan gerak tubuh saaat berolahraga.
Perlu dicatat bahwa defisit kalori merupakan diet dengan mengubah pola dan kebiasaan makan, sehingga hal ini sedikit banyaknya akan mempengaruhi kebugaran anggota tubuh. Defisit kalori yang dilakukan dengan tepat akan memberikan hasil memuaskan pada berat tubuh yang ideal dan kesehatan yang berkembang. Namun, jika dilakukan dengan salah maka akan dapat memicu berbagai efek negative, seperti mudah lelah, kurang gizi, metabolisme rendah, penurunan massa tulang, fungsi otak melemah, dan lainnya.
(Redaktur Tulisan: Laura Nadapdap)

