Hits: 57

Salwa Salsabila

Pijar, Medan. “Dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.” Begitulah bunyi kalimat terakhir dalam dongeng legendaris Cinderella. Kisah hidup Cinderella dan pangerannya memang kerap kali diasosiasikan sebagai standar kehidupan bahagia bak alkisah dunia kerajaan yang hanya dipenuhi dengan cerita romansa yang mendayu-dayu.

Namun, pernahkah kamu menyangka, bahwa akhirnya nama Cinderella disandangkan dengan nama sebuah gangguan psikologis yang terjadi pada perempuan? Ya, sekarang kamu harus menyangka karena itu benar adanya. Cinderella Complex atau Sindrom Cinderella namanya.

Pernah gak sih, kamu bertemu dengan orang yang tidak pernah punya keputusan sendiri dan selalu bergantung pada orang lain? Atau jangan-jangan kamu adalah salah satu orangnya? Menurut halodoc.com, orang-orang yang tidak mandiri dan selalu bergantung kepada orang lain merupakan salah satu gejala dari Cinderella Complex atau Sindrom Cinderella. Lalu, apakah yang menjadi pemicu hadirnya Cinderella Complex ini dalam diri seseorang?

Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Collete Dowling, seorang terapis asal New York, di dalam bukunya yang berjudul The Cinderella Complex: Women’s Hidden Fear of Independence. Dideskripsikan, fenomena psikologis ini membuat wanita cenderung menilai diri sendiri dan hidup mereka tergantung pada kedekatan sosok pelindung, yakni pasangannya. Dalam hal ini, pasangan dapat berupa pacar, sahabat, maupun saudara.

Wanita dengan sindrom ini memiliki rasa rakut akan kemandirian dan menghubungkan kebahagiaan dengan status emosional mereka. Mereka memiliki kecenderungan untuk tergantung secara psikis yang ditunjukkan dengan adanya keinginan yang kuat untuk dilindungi oleh orang lain terutama laki-laki sehingga mereka menginginkan datangnya prince charming yang dianggap membawa kebahagiaan untuk mereka. Ini pula yang menjadi alasan penggunaan kata cinderella dalam penamaan sindrom ini.

Cinderella Complex bukanlah konsep yang digunakan dalam psikologi klinis atau psikiatri. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pola perilaku tertentu yang didorong oleh kebiasaaan dan stereotip tentang perbedaan antara pria dan wanita. Secara psikologi klinis, sindrom ini mendekati atau dapat digolongkan ke dalam karakteristik personality disorder atau dependent personality disorder.

Dilansir melalui journals.ums.ac.id, berdasarkan dari hasil pengkajian dari berbagai sumber mengenai Cinderella Complex ini, faktor yang dapat mempengaruhi munculnya sindrom ini pada diri seseorang adalah pola asuh orang tua yang terlalu mengekang dan tidak pernah memberikan kesempatan sang anak dalam pengambilan keputusan, kematangan pribadi, dan konsep diri.

Dalam perspektif gender, sindrom ini ada pada perempuan yang dipengaruhi oleh budaya setempat yang acap kali mempersepsikan perempuan sebagai makhluk yang lemah dan tidak mandiri.

Dikutip dari halodoc.com, karakteristik wanita dengan sindrom ini adalah memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, ketergantungan konstan dengan orang lain, takut meninggalkan zona nyaman, dan mengidealkan pasangan.

Karakteristik yang paling lekat dari diri seorang yang memiliki Cinderella Complex ini adalah terlalu menggantungkan diri kepada pasangan. Mereka cenderung patuh terhadap pilihan dan keputusan dari pasangan. Salah satu metode terbaik untuk memerangi atau mengubah perilaku “terlalu bergantung” ini adalah untuk mencoba mencari kebahagiaan sendiri dan tidak perlu bersumber dari pasangan. Lakukanlah hal-hal untuk diri sendiri, tanpa menunggu orang lain datang dan mengubah realita.

Dengan adanya sindrom ini, kita sebagai seorang wanita harus lebih baik lagi dalam mempelajari diri sendiri. Katakan apa yang ingin dikatakan. Pilih apa yang ingin dipilih. Jangan takut jika pilihan itu salah, karena poinnya adalah kita harus belajar untuk lebih berani dan mampu untuk hidup di atas tumpuan kaki sendiri.

(Redaktur Tulisan: Laura Nadapdap)

Leave a comment