Hits: 41
Alya Rizky Fitriani
Pijar, Medan. Hari Buku Nasional telah diperingati setiap tahunnya sejak 17 Mei 2002. Dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat literasi rakyat Indonesia, Hari Buku Nasional kemudian dicetuskan oleh Abdul Malik Fadjar bersamaan dengan tanggal didirikannya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1980.
Abdul Malik Fadjar sebagai Menteri Pendidikan Nasional tahun 2001 – 2004 melahirkan peringatan Hari Buku Nasional guna mendorong jumlah penjualan buku di Indonesia. Sebab minat baca masyarakat masih minim, angka penjualan dan percetakan buku di Indonesia juga sangat rendah jika dibandingkan negara Asia lain pada saat itu. Jumlah cetakan buku di Jepang mencapai 40 ribu, Cina mencapai 140 ribu, sedangkan Indonesia hanya berhasil mencapai angka 18 ribu.
Pada 2019, tingkat literasi Indonesia menempati peringkat 62 dari 70 negara. Data ini menurut riset yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) dan dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Hasil tersebut menandakan bahwa minat literasi masyarakat Indonesia tetap harus diperhatikan.
Tiga tahun setelahnya yaitu pada 2022, dilansir dari dataindonesia.id, berdasarkan riset Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tingkat kegemaran membaca Indonesia telah mengalami peningkatan sebanyak 7,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa minat membaca buku masyarakat Indonesia sudah berangsur meningkat dari waktu ke waktu.
Masita, Pustakawan di MAN 2 Model Medan, juga berpendapat bahwa minat baca masyarakat Indonesia saat ini sudah cukup baik. Namun, adanya kemudahan untuk mengakses bahan bacaan membuat masyarakat lebih memilih bersandar pada internet daripada buku fisik.
“Minat baca masyarakat Indonesia saat ini semakin baik. Namun, minat baca di perpustakaan semakin berkurang karena masyarakat sekarang membaca melalui internet. Minat baca anak di perpustakaan juga hampir sama. Anak sekolah membaca karena ada tugas dari gurunya,” ujar Masita pada Senin (15/5/23).
Untuk meningkatkan minat masyarakat Indonesia terhadap buku khususnya buku dari dalam negeri, Masita mengatakan bahwa buku lokal seharusnya memuat topik yang lebih menarik. Kualitas buku lokal tak akan kalah saing dengan buku asing jika ditulis oleh seseorang yang ahli. Perbedaan kualitas hanya terletak pada penampilan fisik saja.
“Buku dibuat lebih menarik. Dipilih topik yang lagi tren, ditulis dengan bahasa ringan, kecuali buku ilmiah memang pembahasannya harus detail. Kalau isi buku ditulis seorang yang ahli pasti lokal maupun luar negeri isinya gak jauh berbeda. Buku di luar harganya mahal sesuai kualitas, dari segi kertasnya, tinta cetaknya, cover-nya, penjilidannya,” jelasnya.
(Redaktur Tulisan: Laura Nadapdap)

