Hits: 23

Muhammad Fikri Haikal Saragih

 Minggu, 06.00 WIB

“Kring… kring…” bunyi alarm ponselku.

Hujan lebat di pagi hari menandakan perasaan sedih dan sedu. Membuatku malas beranjak dari tempat tidur. Aku hampir tak memedulikan bisingnya suara alarm. Namun, mengingat ibuku yang suka marah-marah, aku pun dengan sigap bangkit menuju kamar mandi. Tapi aku melihat ibu dengan wajah sedih di ruang tamu bersama ayah di sampingnya, anehnya mereka mengenakan pakaian yang sama. Aku tak acuh akan hal itu.

Pukul 10.00 WIB. Saat di kamar terbesit dalam pikiranku, “Kok gak ada orang yang memanggilku ya sampai sekarang? Kenapa ibu tidak marah-marah kalau aku tidak membantunya?”

Tanpa pikir panjang aku langsung keluar dari kamar dan bertanya kepada ibu di dapur.

“Bu… Ibu… Ibu sedang apa?” tanyaku dengan pasti.

Namun tak seorang pun yang menjawab. Benakku langsung memikirkan hal yang sama saat kulihat ibu di ruang tamu. Kenapa ibu menangis? Aku pun enggan bertanya takut mengganggu. Ingin kutanya ayah tapi dia tak di rumah.

Aku bingung bertanya-tanya, “Apa aku berbuat salah? Kenapa ayah dan ibu diam? Apa ibu membenciku?”

Aku bingung harus apa. Aku melihat keluar dari jendela tapi suasana tak berbeda. Rintik hujan, sepi tanpa ada tanda-tanda. Seharian aku mondar-mandir di dalam rumah, tapi perasaanku tak pernah sepelik ini. Aku berusaha bersikap biasa dan mencoba bertahan.

Hingga malam tiba pun tak banyak perbedaan, suasana rumah bahkan lebih hening. Tapi yang anehnya ada seseorang di halaman rumah malam-malam. Padahal tadi petang tak ada seorang pun yang datang. Dan dia berdiri tegak cukup lama di sana. Aku ingin mengadu ke ibu, tapi aku tak mau. Aku kesal tak ditegur dan disapa.

“Biarlah, mungkin cuma bayangan,” ucapku.

Aku mencoba untuk tidur cepat hari ini. Ingin sekali tiba hari esok dan lupakan semua masalah pada hari ini. Aku sudah muak.

Mataku perih tak bisa tidur. Aku gundah dan lelah. Setelah rasa resah ini memuncak, aku merasa waktu begitu lama berputar. Aku semakin merasa emosiku meluap dan merasa kebingungan dengan semua keanehan ini. Hujan tak henti dari pagi hingga kini. Namun dari sekian banyak kejanggalan yang ada, orang yang berdiri di halaman membuatku takut. Tapi aku tak bisa memalingkan pandanganku darinya. Seolah-olah dia ingin memberitahu sesuatu, namun aku tidak tahu.

Aku tak bisa tidur hingga fajar menyingsing. Seharian penuh tanpa ada komunikasi dengan ayah dan ibu. Aku menyerah. Ayah belum pulang, ibu juga tak kunjung riang. Aku keluar kamar dan mencoba meminta maaf kepada mereka. Dengan mental kuat aku hampiri ibu dengan berani. Aku tertegun. Aku lihat ibu tersenyum tipis melihatku. Ibu keluar rumah menghampiri orang aneh itu di halaman. Aku mengikutinya hingga aku sadar.

06.00 WIB tiba.

Orang yang di luar sepanjang hari itu adalah ayah. Dan ibu menghampirinya. Ada apa ini? Aku terdiam di depan pintu melihat mereka. Ternyata ayah bukan ingin memberitahuku, tapi memberitahu ibu untuk pergi.

“Kemarin ibu sedih, kenapa gak bilang? Terus ayah kenapa di luar rumah malam-malam?” tanyaku dengan suara bergetar.

Mereka tersenyum dan berkata, “Jaga diri baik-baik ya, kami pergi,” sambil berbalik meninggalkanku.

Aku bingung dan menangis tak karuan. Selama ini ayah dan ibuku tidak benar-benar ada. Kemarin itu hari terakhir mereka datang melihatku. Aku tak tahu harus apa. Aku teriak memanggil mereka, tapi sia-sia. Mereka hilang tak dapat lagi ku pandang. Aku menangis hingga sesak, aku panik merasa kehilangan.

“Bodoh… aku bodoh…, aku minta m-maaf bu…yah…, jangan…j-jangan pergi.”

Mereka tiada di waktu yang sama saat aku bangun tidur 06.00 WIB. Aku kecewa karena terlalu bodoh untuk merasa kesal. Kalau saja aku sadar. Kalau saja? Aku takkan pernah sadar. Lututku letih, mataku pedih, dan tangisku rintih. Aku termenung di depan pintu tak ingin bangkit. Pukul 10.00 WIB adalah waktu di mana aku mengingat semua memori lama. Sampai-sampai aku takut mengingatnya, itulah mengapa aku takut bertanya.

Minggu. Hari di mana orang yang kucinta tak lagi memberi cinta. Mereka telah tiada.

Namun aku tak ingat satu hal aneh ini. Mengapa mereka tiada?

Leave a comment