Hits: 31

Rebecca Lestari / Arya Duta

Pijar, Medan. Peran makanan dalam keseharian makhluk hidup menjadi kebutuhan biologis yang mendasar. Namun tahukah kamu bahwa zaman dahulu makanan juga merupakan alat untuk menukar barang dalam melakukan perdagangan? Sejak zaman dahulu, Indonesia merupakan bagian dari jalur perdagangan yang sangat ramai. Itu sebabnya sebagian budaya di Indonesia merupakan hasil perpaduan dari budaya-budaya asing, tidak terkecuali sajian kulinernya.

Akulturasi sendiri merupakan perpaduan dari dua budaya atau lebih dan menghasilkan budaya baru tanpa menghilangkan unsur budaya lama. Namun, tidak semua bentuk akulturasi adalah hal yang buruk. Seperti negara Indonesia yang dikenal dengan makanan tradisionalnya yang beragam. Setiap daerah di Indonesia memiliki makanan tradisionalnya masing-masing dengan cita rasa yang khas dan dibuat dari bumbu yang berbeda-beda.

Namun, banyak orang Indonesia yang tidak mengetahui makanan tradisional mereka. Mereka lebih suka menerima begitu saja, tidak tertarik pada hal dan bertanya tentang sejarah makanan mereka sehari-hari. Terlebih lagi, beberapa orang Indonesia memiliki klaim yang salah tentang apa yang mereka anggap sebagai makanan ‘tradisional’ mereka.

Sebagai contoh, sebagian besar masyarakat kita percaya bahwa nasi goreng yang sekarang dapat ditemukan hampir di mana-mana di dunia, adalah hidangan asli Indonesia. Padahal, jika kita melihat lebih dalam tentang sejarah dan migrasi di Indonesia, nasi goreng pada awalnya adalah makanan khas negeri Tiongkok yang diperkenalkan ke negara ini oleh para pendatang.

Sama seperti para pedagang dari Spanyol dan Portugis yang telah membawa berbagai bahan makanan dari negeri mereka lalu disebarkan ke Indonesia. Kemudian, selama kurang lebih 3,5 abad Belanda mempengaruhi citra makanan dan masakan yang hampir tersebar di seluruh penjuru nusantara. Bahkan, konsep makan prasmanan yang menjadi gaya penyajian masa kini merupakan adaptasi dari gaya Eropa.

Seiring berjalannya waktu, beberapa wilayah di Indonesia akhirnya memiliki banyak varian sajian kuliner yang sudah dicampur dengan sentuhan khas nusantara. Seperti perkedel yang sering kita temukan sebagai makanan pendamping di Soto atau sarapan pagi yang merupakan hasil akulturasi makanan yang berasal dari Belanda. Kata perkedel berasal dari kata serapan dari bahasa Belanda, yaitu frikadel yang berarti daging cincang yang dilumat, lalu digoreng. Sementara di Indonesia, olahan perkedel berbahan dasar kentang yang diimbuhi beberapa daging atau tanda daging.

Selanjutnya ada bakpia yang merupakan wujud akulturasi budaya dalam bidang kuliner yang terjadi antara bangsa Indonesia dengan bangsa Tiongkok. Bakpia yang dikenal sebagai makanan khas Yogyakarta dan menjadi salah satu ikon kuliner oleh wisatawan, sebenarnya berasal dari Tiongkok. Budaya yang masuk diterima melalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan budaya masyarakat Indonesia yang mayoritas berkeyakinan sebagai muslim, bakpia yang aslinya berisi daging babi kemudian diganti dengan isi kacang hijau tanpa menghilangkan unsur budaya aslinya yang telah ada.

(Redaktur Tulisan: Naomi Adisty)

Leave a comment