Hits: 86

Hana Anggie Sachari Pasaribu / Tasya Azzahra

Pijar, Medan. Setiap tahunnya terdapat perayaan Buy Nothing Day atau Hari Tanpa Belanja. Orang-orang yang ikut dalam perayaan harus mampu menahan diri untuk meniadakan kegiatan berbelanja selama 24 jam atau sehari penuh. Bukan tanpa alasan, hal ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya konsumerisme.

Terdapat perbedaan waktu mengenai perayaan Hari Tanpa Belanja ini di sejumlah negara. Di negara asalnya, Kanada, perayaan dilakukan sehari setelah Thanksgiving Day atau Hari Pengucapan Syukur. Begitu juga di Amerika Serikat, Amerika Utara, Inggris, Swedia, dan Finlandia.

Sedangkan, di beberapa negara lainnya, perayaan dipilih di hari banyaknya transaksi jual beli berlangsung. Seperti di Indonesia, perayaan dilakukan pada hari Sabtu di minggu terakhir bulan November. Artinya di tahun 2022 ini, perayaan jatuh pada tanggal 26 November.

Ted Dave, seorang seniman asal Vancouver, Kanada, diketahui sebagai pemrakarsa dari perayaan ini. Perayaan pertama kali ia lakukan pada bulan September 1992 setelah Hari Pengucapan Syukur berlangsung. Oleh majalah Adbusters Kanada perayaan ini dipromosikan pada tahun 1993.

Dilansir dari detik.com, majalah Adbusters Kanada menganggap Hari Tanpa Belanja sebagai ajang yang positif. Bukan sekadar menyadarkan masyarakat tentang gaya hidup konsumtif, tetapi juga untuk menanamkan komitmen agar masyarakat meninggalkan budaya konsumerisme sehingga limbah yang dihasilkan dapat ditekan.

Banyak negara merayakan Hari Tanpa Belanja bertepatan dengan hari Jumat Hitam atau Black Friday sejak tahun 1997. Hal tersebut dilakukan karena menyiratkan makna simbolis. Hari Jumat Hitam merupakan istilah untuk menyebutkan hari Jumat setelah Hari Pengucapan Syukur yang menjadi pertanda dimulainya musim belanja dalam rangka menyambut Natal.

Saat Hari Jumat Hitam berlangsung, banyak perusahaan ataupun toko yang memberikan diskon besar-besaran. Tentu saja hal tersebut membuat masyarakat tergiur dan menghabiskan banyak uang untuk berbelanja. Banyaknya diskon yang ditawarkan terkadang sampai membuat masyarakat tidak bisa mengontrol diri sehingga berlebihan dalam berbelanja. Alhasil, limbah dari perbelanjaan pun meningkat.

Adanya perayaan Hari Tanpa Belanja diharapkan dapat menyadarkan masyarakat tentang bahaya pola hidup konsumtif. Orang-orang dengan pola hidup konsumtif memiliki kebiasaan menghambur-hamburkan uang secara berlebihan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

Melalui Hari Tanpa Belanja, masyarakat diingatkan kembali agar lebih bijak dalam mengelola keuangan. Selain itu, masyarakat juga diharapkan untuk dapat memulai gaya hidup hemat serta turut berpartisipasi dalam mengurangi limbah lingkungan.

Selain meniadakan transaksi jual beli, orang-orang yang berkontribusi dalam perayaan biasanya akan menggaungkan kampanye tentang bahaya konsumerisme. Lalu, mereka juga mengajak publik untuk ikut berpartisipasi. Meskipun tidak termasuk perayaan resmi, tetapi Hari Tanpa Belanja telah dirayakan di lebih dari 30 negara.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment