Hits: 25

Shofiyana Fadhiilah

Pijar, Medan. Gerakan 30 September 1965 (Gestapu) atau yang dikenal dengan G30S/PKI selalu diperingati untuk mengingat seberapa besar perjuangan Indonesia dalam memperoleh kemerdekaannya. Peristiwa G30S/PKI masih menjadi topik hangat di kalangan masyarakat karena kebenarannya yang belum terungkap hingga sekarang.

Mengulik sejarah lama, G30S/PKI merupakan sebuah gerakan yang dipimpin oleh D.N. Aidit selaku ketua dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang bertujuan untuk menggulingkan masa pemerintahan Presiden Soekarno dan menjadikan Indonesia sebagai negara komunis. Gerakan ini dilatarbelakangi oleh dominasi ideologi Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (Nasakom).

Era orde baru, tepatnya pada masa pemerintahan Presiden Soeharto merupakan masa ketika G30S/PKI dengan gencar diperingati setiap tahunnya. Adapun di zaman milenial ini, masih perlukah peristiwa tersebut diperingati, terkhusus bagi para mahasiswa?

Uswatun Hasanah, mahasiswa Fakultas Ilmu Bahasa mengaku bahwa perlu untuk memperingati peristiwa G30S/PKI setiap tahunnya, mengingat betapa sadisnya saat peristiwa berdarah yang memakan korban itu terjadi.

“Walaupun saya kurang mengerti mengenai perpolitikan, menurut saya peristiwa ini tetap perlu diperingati. Saya sendiri merasa miris dengan PKI, sebab mereka terlalu agresif dan memang melakukan perbuatan yang sangat terbukti salah. Mereka juga tidak mempunyai rasa kemanusiaan saat itu. Karena itu menurut saya, perlu untuk memperingati G30S/PKI setiap tahunnya sebagai cerminan bahwa peristiwa tersebut adalah peristiwa yang melanggar moral dan etika,” ungkap Uswa.

Dalam rangka memperingati peristiwa G30S/PKI juga diperlukan jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam diri mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh oleh hasutan bangsa lain yang ingin memecah belah negara Indonesia. Menanamkan nilai Pancasila di dalam diri juga sangat diperlukan, yakni dengan mengimplementasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya di bangku perkuliahan.

“Lebih menghargai pendapat orang lain, sih. Seperti di Pancasila juga ada dalam sila ke-2 kan? Terus, di Indonesia udah ada hak asasi manusia yang juga menegaskan tentang hak manusia dalam berpendapat. Lebih waspada akan paham komunis di Indonesia juga perlu dilakukan untuk mencegah dan melawan paham tersebut masuk ke lingkungan kampus,” jelas Tiara Gracia selaku mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Terlepas dari lubang hitam yang belum terpecahkan dalam peristiwa G30S/PKI, generasi muda khususnya mahasiswa, harus berpegang teguh terhadap ideologi Pancasila agar sejarah kelam ini tidak akan terulang kembali di kemudian hari. Nilai-nilai yang ada di dalamnya, diharapkan dapat menanamkan rasa nasionalisme dan patriotisme agar kehidupan perkuliahan selalu mencerminkan kedamaian dan saling menghargai satu sama lain.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment