Aisha Tania Sinantan Sikoko

Pijar, Medan. Puisi dikatakan sudah ada di dunia sejak awal Masehi. Kemudian, puisi pun terus berkembang mengikuti perkembangan zaman dan menyesuaikan diri dengan budaya yang ada pada setiap tempat. Bentuknya juga ikut berkembang, yang mana diawali dengan puisi lisan seperti mantra-mantra dan pesan-pesan nenek moyang yang disampaikan secara turun-temurun lalu menjadi puisi tulisan.

Puisi adalah karya kesusastraan tertua di dunia yang dimulai dari negara Eropa yang terus membentangkan sayapnya ke seluruh penjuru dunia. Hampir seluruh bahasa di dunia memiliki puisi. Puisi menjadi sebuah “alat” menyampaikan perasaan, pengalaman, pemikiran, ide, informasi ataupun pesan moral yang dikemas secara ringkas, estetis, dan kreatif.

Meskipun ringkas, sebuah puisi dapat membawa pembaca ke dalam dunia imajinasi yang kaya akan emosi. Hal ini yang menjadi kekuatan puisi untuk menguasai hati para penikmatnya.

Di sekitar kita, mungkin ada anak-anak muda yang menganggap puisi sebagai sesuatu yang kuno dan tidak peduli dengan jenis karya sastra ini. Meskipun begitu, puisi ternyata cukup memikat hati para anak muda. Antusiasme terhadap puisi pun sangat tampak pada kalangan anak muda.

“Menulis saja sudah mulai kelihatan geliatnya dengan sangat baik. Banyak buku dihasilkan oleh orang-orang muda. Tetapi puisi saya lihat juga sekarang sudah sangat luar biasa. Banyak sekali seniman-seniman, penyair-penyair muda yang karya-karyanya luar biasa,” jelas Reda Gaudiamo dalam liputan media CNN Indonesia yang berjudul Eksistensi Puisi di Era Milenial.

Bentuk dari perkembangan puisi sendiri terdapat musikalisasi puisi, yaitu menggabungkan puisi dengan musik sehingga menjadi sebuah lagu. Salah satu penggiatnya adalah musisi Reda Gaudiamo. Ia telah menggeluti bidang ini sejak menjadi mahasiswa. Di mana pada saat itu dosennya adalah Bapak Sapardi Joko Darmono yang menginginkan masyarakat muda untuk mengenali karya sastra puisi. Keinginan Pak Sapardi tersebut akhirnya direalisasikan oleh Reda dan rekannya. Dan karya musikalisasi puisi Reda diawali dari karya-karya Bapak Sapardi, yang akhirnya terus ia jalani hingga saat ini dan telah menghasilkan album.

Dulunya, orang-orang membuat puisi ketika memiliki perasaan marah atau sedih. Sehingga mereka cenderung menyimpan puisi mereka sendiri untuk dapat dikonsumsi secara pribadi. Namun saat ini, puisi dibuat dengan gairah yang lebih bebas. Puisi suda tidak dibuat ketika seseorang memiliki emosi intens saja, tetapi saat biasa juga, bahkan sudah lebih berani untuk ditunjukkan kepada publik.

Reda dalam liputannya menyampaikan, “lebih berani dan lebih mau memamerkan karyanya dan itu menurut saya luar biasa. Kalau dulu mungkin membuat puisi ditaruh di diari, ditutup takut ada yang lihat. Tapi kok sekarang ada. Menurut saya media sosial sangat membantu mereka berkarya,” jelasnya.

Perkembangan teknologi jaringan internet pun turut mendukung eksistensi puisi di kalangan anak muda. Internet melawan batasan jarak, sehingga para penyair muda dapat memperoleh referensi yang lebih beragam, dan memudahkan untuk menambah wawasan saat membuat puisi. “Anak-anak jaman sekarang mudah berinteraksi dengan puisi dari manapun dan itu membuat mereka belajar banyak dan mencoba, dan mulai berkarya,” tambah Reda.

Bagi kamu anak muda yang ingin mulai menulis sebuah puisi, Reda dan Dea Anugrah, seorang sastrawan muda menyarankan sepatah pesan, yaitu banyaklah membaca. “Membaca sih. Bukan salah satunya tapi emang yang utama. Membaca karya yang bagus. Membaca karya penulis kita,” ucap Reda.

“Kalau tidak pernah baca kan tidak tahu yang bagus seperti apa dan yang jelek seperti apa,” tambah Dea.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment