Rassya Priyandira

Pijar, Medan. Di Jakarta, tepat pada 20 Maret 1990 silam, lahir salah satu pria bernama Ahmad Almaududy Amri. Pria ini akrab disapa Dudy. Dia adalah sosok anak muda Indonesia yang berhasil membanggakan negaranya di kancah nasional dan internasional.

Ahmad Almaududy Amri, S.H., M.H., M.Si., Ph.D., merupakan seorang Diplomat RI pada Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York sejak 2018 lalu. Dudy juga orang yang berhasil mencatatkan namanya di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Ini terjadi lantaran ia menyelesaikan pendidikan doktor (S-3) di University of Wollongong, Australia di umur 26 tahun 9 bulan.

Pria kelahiran Jakarta ini tercatat di Rekor MURI pada 3 Maret 2021 dengan penghargaan Doktor Hukum Internasional Termuda dari Perguruan Tinggi Australia. Bagaimana tidak, semasa kecil, Dudy diharuskan untuk berpindah-pindah negara karena mengikuti tugas ayahnya yang juga seorang diplomat. Ia dominan berada di India dan menempuh pendidikan di sana hingga SMA. Sistem pendidikan di India yang cukup singkat membuat Dudy menempuh pendidikan dari SD hingga SMA hanya dalam kurun waktu 10 tahun.

Memasuki umurnya ke-15 tahun, tepatnya pada 2005, Dudy kembali ke Indonesia dan menempuh pendidikan sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 3 tahun kemudian, ia lulus dengan gelar Sarjana Hukum dan dinobatkan menjadi wisudawan termuda USU, yakni berumur 18 tahun.

Setelah lulus dari USU, pada 2009 ia lantas bergabung dengan Kementerian Luar Negeri RI. Kondisi pendidikan di India, lagi-lagi membuat Dudy yang saat itu berumur 19 tahun menjadi Diplomat Termuda RI di angkatannya.

Tak hanya sampai di situ, Dudy kemudian menempuh pendidikan magister di 2 universitas yang berbeda. Pertama, ia terdaftar sebagai mahasiswa S-2 Magister Hukum Bisnis di Universitas Gadjah Mada dan lulus pada 2010. Kedua, Dudy adalah mahasiswa S-2 Magister Hubungan Internasional di Universitas Indonesia dan lulus pada 2012.

Ahmad Almaududy Amri ditemani istri dan putrinya ketika lulus S-3 di University of Wollongong, Australia. (Sumber foto : muri.org )

Dudy kemudian mengambil studi doktor di Australian National Centre for Ocean Resources and Security (ANCORS), University of Wollongong, Australia pada 2013. Semasa S-3, ia pernah menjadi Koordinator Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPI Australia) pada periode 2014-2015. Di bawah kepemimpinannya, PPI Australia berhasil menjadi Organisasi Internasional Terbaik se-Australia dan PPI Terbaik se-Dunia.

Berkat pendidikan dan pengalamannya, pada 2018, Dudy kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Pertama di Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB, New York. Hingga kini, Dudy merupakan perwakilan Indonesia di kancah internasional sebagai Penasihat di Kantor Presiden Sidang Umum PBB.

Dilansir dari kumparan.com, Dudy mengatakan prestasi-prestasinya tersebut ditujukan untuk membahagiakan dan membanggakan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, Dudy merasa dengan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan menyelesaikannya dalam waktu sesingkat-singkatnya adalah hal yang mampu membuat kedua orang tuanya bahagia.

(Redaktur Tulisan: Lolita Wardah)

Leave a comment