Hits: 407
Icha Kumala Dewi
Pijar, Medan. Bintik kecil berwarna gelap cenderung hitam ataupun kecoklatan yang muncul pada area permukaan kulit, sering kita sebut tahi lalat. Bentuknya bisa oval, bulat, dan tak jarang malah seperti tidak mempunyai bentuk (abstrak). Teksturnya ada yang rata, menonjol, bahkan berbulu. Posisinya terkadang di wajah, tangan, kaki, punggung, atau bisa di mana saja.
Dijuluki tahi lalat oleh masyarakat Indonesia karena bentuknya yang hitam dan kecil seperti kotoran lalat. Stigma tentang mitos tahi lalat juga masih bertahan sampai sekarang. Para orang tua zaman dulu dapat menebak watak dan perilaku seseorang lewat keberadaan tahi lalat.
Walaupun kita hidup di zaman yang modern, mitos tetap memiliki eksistensinya hingga saat ini. Konon katanya, tahi lalat yang berada di bawah bibir menandakan seseorang tersebut banyak bicara atau cerewet. Tahi lalat yang letaknya di pipi, menunjukkan orang yang memiliki kebiasaan berdandan. Tahi lalat yang ada di telapak kaki, menandakan seseorang tersebut suka travelling.
Posisi tahi lalat sering kali menjadi pusat perhatian. Kehadirannya yang tidak diminta, terkadang menjadi anugerah yang disyukuri karena dianggap sebagai penanda atau pemanis. Namun, tak jarang pula yang menganggapnya sebagai penyesalan karena pada beberapa kasus, ukuran dan letaknya bisa tumbuh dan berkembang di mana saja.
Rasa tidak percaya diri atau yang biasa kita sebut dengan insecure pada dasarnya tidak hanya berasal dari dalam diri, tapi juga dari bagaimana cara orang lain memperlakukan kita. Begitu pula dengan orang yang memiliki tahi lalat. Ejekan yang dilontarkan terhadap empunya tahi lalat sering kali membuat para pemiliknya kehilangan rasa percaya diri.
Pada kenyataannya, tak sedikit orang yang tidak kuat bahkan frustrasi dengan olok-olokan masyarakat tentang tahi lalat yang dimilikinya sejak lahir. Akibat dari rasa tidak percaya diri tersebut, sudah banyak yang mencoba untuk menghilangkan anugerah Tuhan yang satu ini. Baik itu dengan operasi maupun dengan cara tradisonal yang bisa saja menyakiti diri sendiri.
Jika dilihat dari sudut pandang agama Islam, merubah ciptaan tuhan demi kecantikan tidaklah diperbolehkan. Tetapi, jika memang tahi lalat tersebut berbahaya untuk kesehatan dan menjadi bahan cemoohan karena mungkin bentuknya yang terlalu besar dan dianggap aib, maka diperbolehkan. Namun, pada realitanya, tahi lalat dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan berbahaya bagi kesehatan tetap menjadi bahan celaan bagi sebagian orang.
Bukan hal yang mudah menghilangkan stigma tahi lalat di kalangan masyarakat. Mulai dari pandangan yang terkesan mengejek bahkan menghina, sampai dengan pujian tertentu karena tahi lalat yang dimiliki membuat penampilan lebih menarik.
Sebagai manusia, ingat bahwa kita perlu berpikir sebelum berbicara. Pastikan untuk menjaga setiap tindakan dan ucapan yang kita sampaikan ke orang lain. Jangan sampai kita malah menjadi penyebab tidak bersyukurnya seseorang atas anugerah yang sudah diberikan oleh Tuhan.
(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra)

