Hits: 69

Sinta Wulandari / Chairunnisa Asriani Lubis

Pijar, Medan. Plain Feminism mengadakan webinar bertajuk “Beauty Is Pain, But Let’s Heal”, Minggu (19/12/21) pukul 13.00-15.00 WIB. Webinar yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting ini bertujuan untuk memahami makna “cantik” dalam dinamika standar kecantikan dan mengajak berdamai dengan diri sendiri dari trauma akibat tuntutan sosial tentang kecantikan.

Webinar ini menghadirkan Ratu Ghania, seorang konten kreator sekaligus influencer dan Amanda Triwulandari seorang psikolog. Webinar ini dipandu oleh Galuh Amalia selaku MC dan moderator.

Pada sesi pertama, penyampaian materi mengangkat topik tentang standar kecantikan. Ratu menjelaskan bahwa standar kecantikan adalah pola yang menggambarkan bagaimana perempuan harus memprioritaskan penampilan fisiknya.

“Perempuan cantik itu sebenarnya tidak ada karakteristik atau ciri-cirinya. Tidak ada list-list tertentu yang harus dicapai perempuan supaya dia dibilang cantik,” jelasnya.

Ratu juga menambahkan, makna cantik yang sebenarnya berasal dari hati dan pengetahuan yang luas.

“Cantik itu dari hati. Punya attitude bagus, manner bagus, insightful ketika diajak berbicara, memiliki pengetahuan yang luas. Itu baru cantik,” tambahnya.

Mengakhiri sesi pertama, Ratu menjelaskan tentang bagaimana pentingnya penerimaan diri supaya tidak terjebak dalam standar kecantikan.

“Merasa cukup dengan diri sendiri. Ketika kita bisa menerima diri sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan kita, itu adalah hal yang terpenting. Mulailah mencari potensi diri dan buatlah perubahan untuk menjadi versi terbaik diri kita,” ucapnya.

Sesi kedua dilanjut oleh Amanda Triwulandari. Pada sesi ini, topik yang dibahas adalah mengenai penyembuhan diri sendiri dan penerimaan diri.

Amanda menjelaskan, ada beberapa metode penyembuhan diri yang dapat dilakukan untuk mengurangi insecurity dalam diri, yaitu kesadaran diri, menganalisis diri, dan sadari batasan yang dimiliki supaya kita tidak memaksakan diri sendiri.

Amanda juga menerangkan betapa pentingnya penyembuhan diri untuk orang-orang yang mengalami trauma.

“Ketika kita punya luka, kemudian luka itu kita beri obat. Apa yang kita rasakan? Pasti perih. Seperti itu juga trauma atau luka batin. Ketika kita mencoba untuk mengobatinya pasti ada rasa perih. Namun, jika kita biarkan luka itu terus ada dalam diri kita, luka itu pasti akan semakin parah. Malah akan membekas,” tuturnya.

Kemudian, Amanda juga menambahkan pentingnya untuk tidak memikirkan rasa insecure.

“Bagaimana cara kita tidak terjebak dengan rasa insecure itu hal penting. Kita punya kekuatan dan potensi, sehingga kita jangan kalah dengan rasa insecure itu. Sehat mental itu dimulai dari diri sendiri dan keterbukaan diri untuk mendapat bantuan dari orang lain,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra)

Leave a comment