Meylinda Pangestika Gunawan

“It may feel impossible but sometimes you just have to take the first step, even before you’re ready.” – Sisu.

Pijar, Medan. Disney selalu mengajak para penggemarnya berkeliling dunia dengan suguhan berbagai Disney Princess dari belahan dunia. Sebut saja Jasmine dari Timur Tengah hingga Pocahontas, sang penduduk asli Amerika. Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya Disney menyambangi Asia Tenggara melalui film terbarunya Raya and The Last Dragon.

Film ini berkisah tentang desa bernama Kumandra, desa yang memiliki keyakinan terhadap naga. Suatu ketika bencana menghampiri desa tersebut, mereka menyebutnya Druun. Druun menjadikan apapun yang dilewatinya menjadi batu. Para naga menyatukan sihir mereka dan membentuk bola kristal demi menyelamatkan manusia yang menjadi batu dan masih tersisa.

Hanya satu naga yang dapat bertahan, tetapi dia hilang bersamaan dengan hilangnya Druun. Hilangnya naga membuat masyarakat Kumandra kehilangan kepercayaan terhadap satu sama lain dikarenakan perebutan bola kristal. Kumandra pun terpecah menjadi lima, yaitu Heart, Fang, Spine, Talon dan Tail.

Kini 500 tahun berlalu, Druun kembali menyerang desa-desa yang ada. Keselamatan penduduk setiap desa berada di tangan Raya, yang di perankan oleh Kelly Marie Tran. Raya bersama dengan sahabatnya, Tuk-Tuk, berkelana mencari sang naga terakhir, Sisu (Awkwafina) yang sedang bersembunyi.

Tentang perjalananan Raya yang berusaha kembali menyatukan terpecah belahan desa-desa untuk menjadi Kumandra kembali. Bukan perjalanan yang mudah ketika mereka yang ingin dibantu tidak ingin dibantu. Raya harus menghadapi segala cemooh yang ada, tentang ketidakpercayaan antar sesama yang kian membesar.

Disutradarai oleh Carlos López Estrada dan Don Hall, Raya and The Last Dragon mengajak kita untuk menikmati ragam budaya dalam satu keharmonisan. Menampilkan perpaduan unsur budaya Asia Tenggara yang sangat apik, Walt Disney tidak gagal dalam membuat penontonnya berdecak akan kreatifitas animasi yang mereka ciptakan.

Indonesia boleh berbangga hati karena tidak hanya budayanya saja yang di serap oleh animasi ini, tetapi Disney juga menggaet anak bangsa untuk ikut terjun langsung dalam proses pembuatan film. Mereka adalah Griselda Sastrawinata, Luis Logam, Dewa Berata dan Emiko Susilo.

Banyak nilai yang dapat kita ambil dalam film ini, salah satunya adalah makna peribahasa bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Dalam film ini kita diajarkan bahwa dengan bersama kita akan bisa, bahwa dengan bersama kita akan dapat melalui segala halang rintang yang ada.

Kepercayaan jugalah kunci utama untuk dapat bersatu, percaya satu dengan lainnya. Dalam film ini, akan disuguhkan pula seberapa pentingnya nilai kepercayaan yang ada, seberapa rusaknya hati seseorang bila kepercayaan yang diberikan telah dirusak. Hal ini terjadi terhadap Raya, ketika ia merasakan trust issue terhadap sekitar akibat kepercayaan yang telah dirusak oleh orang terdekatnya.

Tetapi selalu ada kesempatan kedua bagi mereka yang ingin berubah. Kepercayaan, pengorbanan, dan kebijaksanaan adalah nilai. Kualitas yang ada pada diri manusia dapat menghapuskan segala prasangka, kebencian, dan keserakahan yang ada dalam diri manusia. Banyak nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari pada film ini yang dapat kita ambil maknanya.

Setiap manusia tidak akan pernah luput dari yang namanya kesalahan. Tetapi sebagai manusia yang memanusiakan manusia, tugas kita adalah memberi mereka sedikit kepercayaan. Semua itu tak lain untuk meyakinkan bahwa mereka dapat berubah.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment