Hits: 19

Alya Amanda

Pijar, Medan. Dunia memang identik dengan “antonim” atau si lawan kata yang seringkali mewakili kerja alam raya. Saat ada abadi, pasti ada sementara. Kala ada baik, tentu ada buruk. Ada suka, pasti diikuti dengan adanya duka. Begitu juga dengan datang, tentu ada pergi. Lalu bertemu, akan berpisah. Pada akhirnya, “antonim” tersebut bekerja untuk menyeimbangi sesuatu yang telah dicipta.

Kita kadang kala lupa bahwa “antonim” adalah hal yang lumrah. Sangat wajar jika perpisahan setelah pertemuan itu ada. Kemudian, wajar pula jika perpisahan tersebut dilanjutkan dengan munculnya gejolak sesak di dalam jiwa, rindu sebutnya.

Tatkala rindu tersebut datang tanpa diundang, memori kita mulai memutar acak di dalam bayangan, kala malam awal bertemu, kala tersenyum dan tersipu malu. Mungkin, kita juga merindukan momen tercampur aduknya perut oleh kupu-kupu yang menggelitik.

Terputar acaknya memori akibat rindu yang membuncah merupakan hal yang wajar. Namun, hal itu akan terasa menyebalkan saat kita mulai menginginkan kepingan-kepingan memori acak tersebut dapat terulang kembali. Fase rindu yang satu itu memang membuat empunya gelisah sendiri, lalu berakhir mendramatisir cinta yang masanya memang harus tersudahi.

Pertemuan berakhir dengan perpisahan, munculnya rindu yang membuncah, diikuti keinginan mengulang kembali sebuah masa yang terkandung episode bersama dirinya. Semuanya terbungkus elok dalam sebuah karya lagu yang berumur sekitar sembilan tahun, “The Night We Met”, judulnya.

“The Night We Met” ini seakan dirajut memang untuk mendukung para insan yang tengah mengalami kerinduan dahsyat. Pasalnya, bahan dasar dari lagu ini, yaitu liriknya sangat membangkitkan puing-puing memori. Belum lagi bumbu-bumbu dalam bentuk melodi dari lagu ini, seakan Lord Huron yang merupakan grup musik di balik terciptanya “The Night We Met” memang sengaja mengacak perasaan dan memori si pendengar.

What the hell I’m supposed to do

And then I can tell myself

Melalui untaian lirik tersebut, Lord Huron mengantarkan pendengar menuju sebuah fakta yang tajam.

Not to ride along with you

I had all and then most of you

Some and now none of you

Bahwa semua yang terputar di memori tak lebih dari sebuah kenangan; hanya untuk di-ke-nang. Untaian lirik itu menyalurkan rasa gelisah yang mungkin saja mewakili kita yang memang berada di fasenya. Selain rasa gelisah, untaiannya juga tersalurkan kekosongan; saat munculnya rasa ketidakbiasaan yang pernah menjadi sebuah kebiasaan, yaitu episode hari bersama dirinya.

Ketidakbiasaan yang pernah menjadi kebiasaan itu lantas menggiring ke fase rindu, mengulang kembali momen yang harusnya hanya untuk di-ke-nang.

Take me back to the night we met

I don’t know what I’m supposed to do

Terlantunnya melodi yang terkemas apik, seakan menemani rindu yang datang selama ratusan detik.

Haunted by the ghost of you

Oh, take me back to the night we met

Hingga akhirnya, kita menyadari bahwa salah satu karya Lord Huron pada albumnya yang bertajuk Strange Tails ini berhasil menjebak kita selama 3 menit 28 detik.

(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

Leave a comment