Rizha Ananda

Pijar, Medan. Meskipun sejarah merupakan masa lalu, namun keberadaannya yang dapat membentuk diri kita saat ini. Sejarah telah menjadi bagian dari pengalaman dan pelajaran dalam hidup kita. Sama halnya dengan Indonesia, untuk merdeka pun ia harus melewati sejarah perjuangan yang sangat panjang. Walau waktu tak dapat diulang, sejarah tetap dapat dilihat melalui gambaran dari beberapa film. Salah satunya adalah film yang berjudul De Oost (The East).

De Oost merupakan film produksi asal negeri kincir angin yang disutradarai oleh Jim Taihuttu dari New Amsterdam Film Company. Film ini tayang perdana di festival film Belanda pada 25 September 2020. De Oost dilatarbelakangi dengan sejarah Indonesia pasca kemerdekaan yang alurnya didasari dari sudut pandang penjajah yaitu Belanda.

Film De Oost bercerita tentang seorang tentara Belanda bernama Johan De Vries yang diberi tugas dan ditempatkan di Semarang. Kisahnya pun dimulai saat De Vries bertemu dengan Raymond Westerling saat ia sedang menegur tentara Jepang yang menyiksa salah satu rakyat Indonesia. De Vries mengagumi sosok Westerling yang gagah karena hanya dalam satu tindakan saja, ia sudah berhasil membuat tentara Jepang pergi ketakutan.

Raymond Westerling adalah seorang tentara senior Belanda yang sudah banyak berjuang di berbagai negara dan terkenal di Indonesia. Sejak kejadian itu De Vries semakin dekat dengan Westerling dan mulai mendedikasikan dirinya untuk menjadi salah satu anak buah Westerling. De Vries percaya jika Westerling adalah seorang pemimpin yang baik dan memiliki pemikiran yang sama dengannya.

Namun, kebengisan Westerling mulai tampak saat mereka sedang menjalankan misi di Sulawesi. Raymond Westerling mulai membantai rakyat Indonesia dengan keji dan tanpa ampun. Ia menembaki orang-orang Indonesia sesuka hati tanpa merasa berdosa. Karena hal tersebut, terjadi konflik batin pada diri De Vries, ia mulai merasa bahwa apa yang dilakukan Westerling sudah sangat berlebihan.

Film De Oost mendapat banyak pujian dari berbagai kalangan terutama rakyat Indonesia lantaran berani menyuarakan kebenaran yang selama ini seolah dibungkam oleh Belanda. Faktanya, di Belanda tak banyak yang tahu jika negaranya pernah menjajah Indonesia berabad-abad lamanya. Hal ini terdengar sedikit tidak adil mengetahui rakyat Indonesia diwajibkan mempelajari pengetahuan sejarah penjajahan Belanda sejak kecil, namun ternyata negara sang penjajah melupakan sejarah yang cukup menyakitkan dan bermakna bagi Indonesia.

Terlepas dari itu, film ini juga mendapatkan kritik dan cacian. Beberapa berpendapat kalau film ini terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan fakta sejarah. Hal yang sama dirasakan pula oleh anak kandung dari Westerling mengenai peran ayahnya yang digambarkan dengan sangat kejam.

Meskipun bukan suatu dokumenter yang alur sepenuhnya asli, De Oost merupakan film fiksi Belanda yang berbumbu sejarah. Tokoh yang ada di dalam film juga terbilang fiktif. Tetapi Jim Taihuttu selaku sutradara meyakini penggambaran Raymond Westerling sangat mendekati sosok aslinya. Jim Taihuttu beserta timnya bahkan melakukan riset empat tahun lamanya agar tak banyak fakta sejarah yang meleset. Sosok Raymond Westerling di buku-buku juga digambarkan sebagai seseorang yang sangat kejam bahkan lebih dari apa yang ditampilkan di film.

Film luar negeri yang menceritakan tentang peperangan di Indonesia masih terbilang sedikit, dan De Oost adalah salah satunya. Terlebih lagi sutradara dari film ini yaitu Jim Taihuttu memiliki darah Maluku yang diturunkan dari kakeknya. Tetapi, film ini tetaplah produksi dari negara Belanda yang disajikan secara detail.

Selain itu, De Oost juga dapat menambah wawasan kita terhadap sejarah Indonesia di masa Agresi Militer II. Untuk Sobat Pijar yang masih penasaran, coba buka kembali buku sejarah dan baca hal mengerikan seperti apa yang telah dilakukan oleh Westerling di Makassar. Untuk melengkapi penggambaran tersebut, film De Oost adalah tontonan yang sangat tepat untuk disaksikan.

(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra)

Leave a comment