Penyanyi jenaka asal Betawi, Benyamin Sueb, sempat populer berkat single Hujan Gerimis. Foto : http://gandhi-purwanto.blogspot.com/2009/01/hujan-gerimis-aje_14.html.

Eh ujan gerimis aje

Ikan teri diasinin

Eh jangan menangis aje

Yang pergi jangan dipikirin

Eh ujan gerimis aje

Ikan lele ada kumisnye

Eh jangan menangis aje

Kalo boleh cari gantinye

Mengapa ujan gerimis aje

Pergi berlayar ke tanjung cina

Mengapa adek menangis aje

Kalo emang jodoh nggak kemane, hei hei….

 

Pijar, Medan. Sepertinya lirik lagu diatas sudah tak asing lagi bagi kita, atau bahkan sebahagian dari  kita sudah sangat hapal keseluruhan lirik hingga musik dari lagu tersebut. Hujan Gerimis, lagu dengan melodi dan lirik yang apik. Pertama sekali diperkenalkan ke publik oleh almarhum Benyamin Sueb dengan duetnya Ida Royani. Lagu yang menyampaikan pesan yang seharusnya berat tapi disampaikan dengan cara yang luar biasa ringan. Mengapa saya katakan demikian? Coba baca sekali penggalan lirik yang diatas.

Saya berkenalan dengan lagu tersebut sekitar delapan tahun yang lalu. Terlambat memang, tapi saya merasa beruntung karena lagu dengan lirik logat betawi tersebut sudah merubah pola pikir saya tentang cara melawak. Ternyata melawak itu tak selamanya harus dengan kata-kata yang panjang, tak harus di muncul depan umum, tak perlu dengan menirukan tingkah-tingkah yang aneh, tapi ternyata melawak bisa hanya melalui sebuah lagu. Hmmm, cara yang unik dari seorang jenius seperti Benyamin.

Benyamin Sueb lahir di Kampung Bugis, Kemayoran, Jakarta Pusat pada 5 Maret 1939. Bungsu yang lahir dari pasangan Sukirman dan Siti Aisyah ini sudah menekuni dunia seni sejak masa kanak-kanaknya. Pada umur tujuh tahun, dia bersama tujuh saudaranya membentuk kelompok musik “Orkes Kaleng”. Dinamakan Orkes Kaleng karena semua instrumen musik yang digunakan terbuat dari kaleng. Keroncong dari kaleng biskuit, stem bas dari kaleng minyak besi, dan kotak obat yang disulap jadi rebab. Berbekal alat tempur kaleng tersebut, mereka mulai berkeliling dan menghibur seisi kampung. Dan sejak saat itulah, petualangan seniman yang kerap disapa Ben ini dimulai. Lagu-lagu dengan tema kocak, kritik sosial, atau bahkan erotik mulai lahir dari tangan dinginnya.

Kekuatan dari lirik lagu Benyamin yang unik, terkadang membuat saya senyum-senyum sendiri. Apalagi ketika saya mendengarkan lagu Hujan Gerimis. Luar biasa lucu. Saya tak harus keluar rumah untuk mendapatkan hiburan, tapi saya cukup memutar Hujan Gerimis di playlist. Ada lelucon gratis yang saya dapatkan. Lagu unik,, yang komikal, lagu yang melawak.

Dengan cara apa rasa humor senantiasa walafiat? Tak lain dan tak bukan adalah dengan menjaga rasa jenaka dan tertawa. Dengan tertawa maka manusia akan bahagia. Benyamin Sueb dengan Hujan Gerimis-nya layak menjadi konsumsi wajib bagi kita yang mulai dibohongi dengan lawakan zaman sekarang yang kasar dengan nada mengejek. Hujan Gerimis sudah sepantasnya menjadi salah satu obat dari sekian banyak obat tertawa  di luar sana. Jika rutinitas mulai membunuhmu, ada baiknya berhenti sebentar dan mulai nikmati sejuk dari Hujan Gerimis. Apalagi dengan suasana kota Medan yang sekarang ini sedang panas-panasnya, sudah seharusnya kita menjaga gerimis di hati kita masing-masing.[ded]

 

 

Leave a comment