Christian Yosua

Pijar, Medan. Ya’ahowu (semoga kita diberkati). Lompat Batu merupakan gabungan tradisi dan seni olahraga yang merepresentasikan pemuda – pemuda tangguh asal Pulau Nias yang berhasil melompati batu tersebut. Fahombo (Lompat Batu) dari sejarahnya lahir karena sering terjadinya perang antarsuku di tanah Nias. Masing-masing kampung pada masa itu mempunyai benteng yang tinggi untuk melindungi bagian wilayahnya. Hal ini membuat para pendekar Nias harus mampu melewati benteng tinggi tersebut, sehingga tercetus ide untuk melatih lompatan tinggi para pendekar Nias itu melalui media lompat batu.

Pada masa sekarang, lompat batu tidak lagi dilakukan untuk tujuan berperang antar desa maupun suku, tetapi sebagai media wisata untuk mempromosikan Pulau Nias sehingga adat dan budaya dalam kegiatan lompat batu masih terus dipertahankan hingga sekarang. Keberhasilan pelompat melompati batu menandakan pemuda Nias tersebut sudah dewasa dalam arti yang kompleks yaitu telah mempunyai karakter yang tangkas dan kuat dalam menjalani kehidupan, serta mengajarkan setinggi apapun kita melompat tidak boleh ada rasa angkuh dalam diri kita karena kehebatan lompatan ini bukan berasal dari diri sendiri melainkan suatu berkat dari Tuhan yang Maha Kuasa. Makna ini juga sekaligus menepis rumor bahwa banyak yang berpikir bahwa kedewasaan setelah mampu melompati batu ini adalah syarat kalau pemuda tersebut baru boleh menikah.

Pelompat Batu yang berhasil melompati lompat batu (Fotografer : Christian Yosua Halawa)

Salah satu desa yang masih mempertahankan budaya lompat batu Nias adalah Desa Bawomataluo, Nias Selatan yang memiliki pelompat-pelompat tangguh dari pemuda asli desa tersebut. Hal yang sangat ditakutkan adalah pelompat batu didesa ini memiliki jumlah pelompat yang semakin sedikit setiap tahunnya.

“Di tahun ini pelompat batu sangat lah minim dengan jumlah maksimal tinggal 4 orang pelompat batu di tahun 2021, dikarenakan rata-rata pelompat batu dari desa ini memilih untuk merantau keluar kota setelah sudah tamat dari sekolah di desanya,” Ujar Josua Manao seorang pelompat batu asli desa Bawomataluo.

Latihan yang keras juga harus dirasakan oleh para pelompat batu sejak kecil. Dimulai dari tahapan awal melompati susunan bambu bertingkat yang ketinggiannya terus ditambah hingga mencapai ketinggian akhir yaitu 210 cm. Jika sudah mampu melewati tinggi maksimal tersebut barulah bisa calon pelompat latihan ke batu lompatan yang asli yang ukuran batunya lebar dari atas kebawah 60 – 100 cm dan tinggi batu 210 cm. Latihan yang keras ini juga membuat setiap pemuda tidak diwajibkan menjadi pelompat batu karena tidak semua pemuda yang ada di Desa Bawamataluo punya kepercayaan diri yang kuat untuk melompati batu sakral tersebut.

Pelompat batu dalam persiapan melompatnya juga mempunyai aturan budaya yang harus dilaksanakan, para pelompat tidak boleh menyentuh batu pada saat melompat baru dikatakan berhasil dan teknik mendarat juga harus tepat jika tidak ingin kedua kaki cedera pada saat mendarat dari ketinggian. Para pelompat juga diwajibkan untuk memaki rompi atau baju adat perang Nias saat melompat yang dinamakan Baru Hada (Baju Adat Nias).

Jumlah Pelompat Batu yang terus berkurang setiap tahunnya membuat eksistensi lompat batu Nias dalam ambang kepunahan, tentunya ini menjadi tugas kita bersama dari masyarakat dan pemerintah untuk mengapresiasi lebih para pelompat batu yang terus berupaya menjaga peninggalan budaya leluhur kita. Josua Manao, salah satu pelompat batu yang tersisa mengungkapkan harapannya. “Saya sebagai pelompat batu berharap agar budaya lompat batu di Desa Bawomataluo tetap diperhatikan oleh segala unsur, dan semoga penerus pelompat batu terus bertambah kedepannya,” ujar Josua Manao.

(Editor: Muhammad Farhan)

Leave a comment