Samuel Sinurat

Pijar, Medan. Berbicara soal kopi, pastinya sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonsesia. Di Indonesia sendiri, kopi sudah ada sejak abad 16 di masa penjajahan Belanda. Pada saat itu, orang Belanda menemukan benih kopi termahal di Yaman. Beberapa orang Belanda yang memiliki perkebunan luas di Sumatera dan Jawa, akhirnya mencoba menanam kembali kopi mahal tersebut dengan tujuan untuk dijual kembali di negara mereka.

Mirisnya, kopi yang ditanam di Indonesia tersebut tidak dapat dinikmati oleh orang Indonesia. Mereka dilarang oleh para penjajah Belanda untuk mengambil biji kopi tersebut. Bahkan jika mereka membeli kopi yang sudah di proses, pasti harganya mahal. Sehingga  masyarakat indonesia tidak ada yang mampu membelinya dan sama sekali tidak mengetahui cita rasa kopi yang sebenarnya.

Kopi Luwak adalah kopi yang diperoleh dari kotoran hewan luwak. Luwak atau yang dikenal dengan musang palem merupakan hewan yang aktif di malam hari (nokturnal). Hewan luwak ini sangat suka dengan biji-bijian, termasuk biji kopi. Namun, biji kopi yang dimakan oleh luwak sebenarnya tidak bisa mengalami proses pencernaannya yang baik, sehingga biji kopi tersebut bercampur aduk dengan kotoran luwak. Penemuan ini berawal ketika para pekerja di perkebunan kopi milik Belanda melihat hewan luwak memakan biji kopi yang terjatuh. Kemudian para pekerja itu melihat biji kopi yang masih bercampur kotoran luwak dan berani mengambilnya, serta memisahkan biji dan kotoran dari luwak tersebut. Sebab mengingat harga kopi di hasil proses masa itu sangat mahal.

Ternyata biji kopi yang berasal dari kotoran luwak tersebut memiliki aroma dan cita rasa yang khas dan mantap. Bahkan mampu membuatnya beda dengan aroma dan cita rasa kopi lainnya. Mengetahui adanya penemuan aroma kopi yang khas, orang Belanda langsung mencari tahu dan menjadikannya minuman para bangsawan Belanda.

Dalam pembuatan kopi luwak ada beberapa tahapan dalam proses pembuatan. Pertama, menentukan biji kopi untuk di proses oleh luwak. Pada proses menentukan biji kopi, sungguh tidaklah mudah. Hanya buah kopi yang berwarna kemerahan dan matang saja yang akan dipilih dan diproses ke tahap berikutnya. Kedua, yaitu memilih kembali biji buah kopi yang sudah dipilih. Pada proses ini biji buah kopi yang sebelumnya sudah diseleksi akan kembali dipilih dan direndam untuk menentukan buah kopi mana yang baik dan bagus untuk masuk ke tahap berikutnya. Ketiga yaitu memberi biji kopi untuk dimakan hewan luwak. Pada proses ketiga, biji kopi yang diberikan pada hewan luwak untuk dimakan, tidak sepenuhnya dimakan oleh luwak. Luwak hanya akan memakan buah kopi yang benar-benar matang. Luwak memiliki indera penciuman yang sangat tajam jadi luwak dapat mengetahui biji buah kopi yang benar-benar matang.

Proses keempat yaitu memanen kotoran hewan luwak. Pada proses ini kotoran luwak akan di panen untuk dikumpulkan dan dicuci hingga bersih. Setelah itu, akan masuk ke proses penjemuran, hingga biji kopi yang dihasilkan oleh luwak kering. Tahap pembersihannya juga dilakukan berkali-kali, sehingga tidak ada sisa kotoran dari proses pencernaan hewan luwak.

Kelima yaitu penggilingan biji kopi luwak. Proses ini membutuhkan ketelitian tingkat ekstra, karena biji kopi yang sudah di jemur dan kering akan dipilih secara manual, sebelum masuk ke tahap sangrai. Selanjutnya, masuk ke tahap sangrai. Pada tahap ini biji kopi luwak dibuat kering dengan kandungan air yang harus sedikit sekitar sepuluh persen.

Kopi luwak termasuk dari lima kopi termahal di dunia. Harga kopi luwak yang asli ditaksir hingga kisaran Rp4.000.000 untuk 500 gramnya. Terbilang mahal karena kopi luwak memiliki aroma dan tekstur yang lembut. Tidak hanya itu, kopi luwak juga ada yang memiliki rasa seperti cokelat dengan tingkat pahit kopi yang cukup rendah.

Bagaimana Sobat Pijar? Tergiur untuk mencoba?

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment