Icha Kumala Dewi

Pijar, Medan. Ada kabar gembira untuk para mahasiswa, karena Kebijakan Kampus Merdeka telah resmi dibuka di beberapa kampus dan salah satunya Universitas Sumatera Utara. Kebijakan Kampus Merdeka merupakan lanjutan dari rancangan Merdeka Belajar. Kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim untuk lingkup perguruan tinggi dengan tajuk “Kampus Merdeka”.  Di tengah gencarnya program Rektor USU, Dr Muryanto Amin, program Pertukaran Mahasiswa Merdeka MBKM dan Program Kampus Mengajar Angkatan ke 2 MBKM resmi telah dibuka di Universitas Sumatera Utara.

Menurut Nadiem Makariem kebijakan Kampus Merdeka ini akan menjadi langkah awal untuk perguruan tinggi. “Kampus Merdeka” dalam “Merdeka Belajar” memiliki otonomi bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta (PTS). Otonomi ini dilakukan agar dapat menunjang pembukaan program studi baru yang nantinya akan dibuka dengan akreditasi C. Diberikan kepada Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta yang memiliki akreditasi A dan B. Dengan salah satu syarat telah melakukan kerja sama dengan organisasi atau universitas yang termasuk ke dalam QS Top 100 World. Kerjasama dengan organisasi tersebut bertujuan untuk melancarkan praktik kerja atau magang bagi Mahasiswa. Tetapi kebijakan ini tidak berlaku untuk prodi pendidikan dan kesehatan.

Seperti yang kita ketahui selama ini bahwa kampus merupakan tempat belajar dan mengajar. Tempat di mana bertemunya Mahasiswa dengan Dosen melalui tatap muka secara langsung. Selama ini kampus mengadakan sistem pembelajaran sks yang selalu dilaksanakan di dalam kelas. Namun kali ini, ada kebijakan baru bagi para mahasiswa. Kemendikbud menjelaskan mengenai perubahan pengertian sks. Sks yang awalnya diartikan sebagai “Jam Belajar” berubah pengertian menjadi “Jam Kegiatan”.

“Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka” adalah kebijakan yang memberikan hak kepada mahasiswa untuk dapat merasakan belajar di kampus lain. Kebijakan ini dilakukan secara sukarela, mahasiswa boleh mengambil 1 semester atau setara dengan 20 sks di kampus lain. Program ini nantinya akan dilaksanakan dengan cara seleksi terlebih dahulu. Kemudian ditargetkan sekitar 20.000 mahasiswa yang akan lolos dari berbagai wilayah di Indonesia. Program ini akan menjadi wadah bertemunya mahasiswa dari berbagai wilayah. Dengan program ini mahasiswa dapat memperluas kompetensi akademiknya dan pengalaman langsung serta dapat mempelajari kebudayaan daerah lain.

Selain itu, program ini juga memberikan intensif kepada mahasiswa yang lolos. Terdapat uang saku dan biaya akomodasi selama 4 bulan serta potongan UKT. Di tengah kondisi yang seperti ini, tidak perlu khawatir lagi karena program ini juga memberikan jaminan rapid antigen sebanyak 2 kali (pergi dan pulang).

“Kampus Mengajar” merupakan program Kemendikbud dalam membantu pengadaptasian sistem belajar mengajar yang serba online di masa pandemi. Menghadirkan mahasiswa melalui seleksi terlebih dahulu untuk menjadi bagian dari penguatan pembelajaran literasi dan numerasi di SD dan SMP.  Dengan menugaskan para mahasiswa untuk membantu pihak sekolah dan guru di daerah terpencil dalam melakukan kreativitas dan inovasi pembelajaran. Ini juga menjadi program baru dari pemerintah yang sekarang berjalan pada pendaftaran angkatan ke-2. Sebelumnya telah terlaksana angkatan perintis dan 1. Program ini juga memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat. Dengan kata lain, program ini merupakan salah satu wujud nyata pengabdian dalam dunia pendidikan.

“Kalau untuk angkatan 1 itu ditempatkan di domisili kita. Jadi waktu itu diberi pilihan sekolah di provinsi, kota, dan kecamatan. Alhamdulillah saya ditugaskan di wilayah kecamatan. Di dalam melaksanakan program ini, biasanya ditempatkan di satu sekolah bersama 7-8 orang. Awalnya saya dan tim ditempatkan di SDS Riama, salah satu sekolah swasta di kec. Medan Amplas. Tetapi sekolah ini sudah mau tutup dan tidak beroperasi lagi. Akhirnya saya dan tim mencari sekolah lain yang akreditasinya juga c, yaitu UPT SDN 060926. Untuk tugas sebenarnya hanya mendampingi Guru dan bagaimana kita bisa membuat media pembelajaran lebih menarik untuk adik-adik sekolah dasar. Tetapi ini bisa berbeda saat di lapangan, sesuai dengan sekolahnya masing-masing minta bantuan apa nantinya,” jelas Shalli selaku mahasiswa angkatan 1 program kampus mengajar.

“Kalau saya sendiri mendampingi murid kelas 6 sd. Saya menggantikan wali kelasnya untuk mengajar karena beliau tidak pernah datang. Dalam proses penyampaian pembelajaran, saya bersama tim membuat media pembelajaran melalui audio-visual dan kuis games. Jadi fokus saya dan tim yaitu bagaimana caranya membuat mereka memiliki motivasi belajar yang tinggi. Sederhananya membuat proses penyampaian pembelajaran yang menyenangkan untuk mereka. Itu metode yang saya gunakan ketika luring. Jika online biasanya saya memberi tugas melalui via Whatsapp grup. Kemudian saya juga mengajak anak-anak untuk berkreativitas membuat taman dengan memanfaatkan botol plastik bekas. Jadi rencana kegiatan itu selalu ada setiap minggunya dan akan dituliskan di laporan setiap minggunya juga,” tambah Shalli.

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk program kampus mengajar. Salah satunya yaitu minimal berada di semester 5, memiliki IPK minimal 3, dan dari prodi yang memiliki akreditasi minimal B. Program ini selain melatih kreativitas dan jiwa kepemimpinan mahasiswa juga mendukung perguruan tinggi untuk mencapai Indikator Kinerja Utama (IKU).

“Menurut saya penting sekali mencoba mengikuti Kampus Mengajar yang merupakan salah satu Program Kampus Merdeka. Karena selain mendapatkan benefit yang banyak mulai dari konversi sks, uang saku, pemotongan ukt, dan yang paling utama adalah teman-teman, pengalaman dan pengetahuan baru,” tutur Shalli.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment