Samuel Sinurat

Pijar, Medan. Para fans sepak bola di seluruh dunia dihebohkan dengan kabar adanya sebuah kompetisi baru yang mempertemukan klub-klub besar eropa yaitu Europa Super League (ESL) atau Liga Super Eropa. Europa Super League yang dibentuk oleh dua belas klub eropa ini mendapat kecaman dari UEFA selaku federasi sepak bola di benua biru tersebut.

Pembentukan Europa Super League (ESL) sebenarnya sudah lama direncanakan yaitu pada tahun 80-an oleh politisi Italia sekaligus pemilik klub AC Milan Silvio Berlusconi. Namun ide tersebut gagal diteruskan setelah UEFA menggantikan Piala Champions menjadi Liga Champions dan meningkatkan nilai komersial dari kompetisi ini. Setelah satu dekade, ide pembentukan Europa Super League (ESL) kembali muncul pada tahun 1997 yang diusulkan oleh Bogarelli dengan iming-iming tiga puluh juta euro bagi klub peserta yang ikut berkompetisi.

UEFA sebagai federasi sepak bola tertinggi di eropa langsung angkat bicara melalui Sekretaris Jenderal UEFA saat itu, Gerhard Aigner, “Super League akan membagi sepak bola eropa menjadi miskin atau kaya. Klub-klub yang ikut bergabung dengan gagasan Mr. Hecht akan dikeluarkan dari kompetisi resmi FIFA dan UEFA. Para pemain tim-tim tersebut juga tidak akan bisa bermain di Piala Dunia.”

Lalu pada tahun 2009, ide pembentukan Europa Super League (ESL) kembali muncul. Ide tersebut berasal dari Presiden Klub Real Madrid yakni Florentino Perez. Perez menyebut dengan adanya Europa Super League (ESL) maka klub-klub terbaik akan dapat bertemu, sebab di Liga Champions jarang terjadi pertemuan antara klub-klub terbaik Eropa. Ide ini kemudian menghilang setelah UEFA mengubah format pertandingan Liga Champions yang dimulai dari babak 16 besar.

Wacana Europa Super League (ESL) muncul lagi di tahun 2021 ini yang diusung oleh 12 klub besar eropa. Klub-klub tersebut adalah tiga dari Italia yaitu AC Milan, Inter Milan, dan Juventus. Lalu enam klub dari Inggris yaitu Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United dan Tottenham Hotspur. Serta dari Spanyol yaitu Atletico Madrid, Barcelona, dan Real Madrid.

Alasan sebenarnya dua belas klub ini ingin membuat kompetisi Europa Super League (ESL) karena faktor finansial klub di masa pandemi covid 19 yang mengalami kemerosotan. Dengan adanya kompetisi Europa Super League (ESL), maka klub-klub pendiri dan yang ikut berpastisipasi akan mendapatkan 3,5 miliar Euro. Kompetisi Europa Super League (ESL) akan disponsori oleh bank asal Amerika Serikat yaitu JP Morgan.

Mendengar kabar tersebut, UEFA mengecam dua belas klub yang berpatisipasi pada kompetisi itu. Presiden UEFA Aleksander Ceferin langsung memberi sanksi dengan memberi hukuman, denda, dan mengeluarkan klub-klub pendiri ESL dari asosiasi sepak bola negara asal sehingga tidak bisa mengikuti kompetisi domestik di bawah naungan UEFA dan FIFA, yakni Liga Champions, Liga Europa, Piala Super Eropa dan Piala Dunia antarklub.

Penolakan tidak hanya datang dari UEFA, melainkan juga datang dari para pelatih yakni Pep Guardiola, Jurgen Klopp, dan Marcelo Bielsa. Lalu dari para legenda sepak bola yakni Gary Neville, Rio Ferdinand, dan Eric Catona. Hingga dari para pemain yaitu Ander Herrera, Toni Kroos, Jordan Hederson dan Mesut Ozil.

Para fans juga turut datang ke stadion klub-klub untuk melakukan demonstarsi menolak kompetisi Europa Super League (ESL). Menurut mereka, kompetisi tersebut akan merusak citra sepak bola yang sebenarnya serta akan membuat jadwal pertandingan semakin padat sehingga tidak adanya waktu istirahat bagi para pemain.

Munculnya ide membuat kompetisi Europa Super League (ESL) adalah bentuk keserahkahan dari para petinggi klub-klub besar yang lebih mementingkan finansial tanpa mempedulikan para pemain dan pelatih yang menjalaninya. Selain itu, kompetisi sejenis ini juga dapat merusak makna dari sepak bola yakni menyatukan semua orang.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment