Cut Tasya Salsabila

Pijar, Medan. Yakusoku no Neverland  atau biasa disebut The Promised Neverland adalah sebuah anime petualangan tentang anak-anak berusia di bawah 12 tahun berusaha menyelamatkan diri mereka yang terkurung dengan nasib tragis berbalut kekeluargaan.

Grace Field House, merupakan nama panti asuhan yang terdapat di tengah hutan dan dibatasi oleh tembok batu besar di tahun 2045. Di sana, tinggal puluhan anak dari latar belakang berbeda  yang telah kehilangan keluarga sejak mereka kecil. Kehidupan di panti ini tidak sama seperti kebanyakan cerita di luar sana yang biasanya diisi dengan kesedihan.

Di panti, mereka hidup bahagia dan saling ketergantungan pada hal apapun tanpa memandang ciri fisik yang berasal dari etnis berbeda satu sama lain. Bagi mereka, siapapun itu jika sudah tinggal di tempat sama berarti adalah keluarga. Panti ini sendiri diurus oleh seorang wanita disebut Mama yang merupakan kesayangan seluruh anak-anak. Merupakan suatu agenda wajar apabila setiap beberapa bulan sekali salah satu anak akan dibawa ke gerbang besar di dekat hutan yang konon untuk dijemput oleh keluarga barunya dan hidup bahagia di luar sana.

Kehidupan demikianlah yang selama ini dipercayai oleh Emma, Ray, dan Norman, ketiga anak tertua di Grace Field House. Semuanya tampak normal hingga suatu hari Emma dan Norman menemukan fakta mencengangkan bahwa ternyata mereka tidak diasuh untuk menunggu keluarga adopsi baru melainkan untuk dijadikan daging bagi monster-monster di luar sana.  Semenjak saat itu, mereka tidak bisa lagi melihat kehidupan panti dengan kacamata yang sama terlebih ketika mereka mengetahui bahwa Mama, satu-satunya orang dewasa di sana, merupakan sekongkolan monster untuk memproduksi anak berkualitas tinggi sebagai santapan.

Berawal dari kenyataan pahit itu, anime ini mulai menampilkan bagaimana ketiga anak tertua dengan IQ tertinggi berusaha menyusun strategi untuk memperbaiki takdir buruk mereka semua yang dimulai dari rencana kabur dari panti asuhan yang terkurung dalam tembok tinggi berbentuk heksagonal.

Sejak episode perdananya, The Promised Neverland telah mampu membawa rasa penasaran dan ketertarikan penonton untuk menikmati setiap episode-episodenya. Tidak hanya perjuangan keras yang ditampilkan namun juga keputusasaan dan kepercayaan yang teruji dalam misi pelolosan mereka dari tempat itu. Di setiap episodenya, secara perlahan penggambaran karakter tiap tokoh mulai terbangun. Misalnya saja karakter Emma, Norman, dan Ray, tiga serangkai berotak cerdas dengan kepribadian berbeda yang memiliki kekompakan tinggi dalam mengatasi hal apapun. Tidak hanya di ketiga tokoh utama, tapi juga tokoh pendukung bahkan Mama yang merupakan tokoh antagonis dalam cerita ini juga turut mengalami perkembangan karakter.

Ide yang disajikan anak-anak memang tidak selalu berjalan sesuai harapan akan tetapi hal itulah yang menjadi kejutan dalam animenya. Walaupun tokoh-tokoh utamanya terdiri dari anak-anak, namun kejadian ini tidak terlepas dari adegan yang membuat penonton menahan napas sekaligus berdecak kagum melihat kemampuan mereka untuk mengatasi permasalahan. Emma, Norman, dan Ray membuktikan bahwa meskipun mereka masih berusia di bawah umur, namun pola pikir mereka tidak boleh diremehkan.

Dari segi tampilan, memang kebanyakan berlatar hutan ataupun panti asuhan sehingga latarnya tidak seberagam anime bergenre sama lainnya namun penggambaran suasana mampu ditampilkan dengan cukup baik yang didukung oleh latar musik pembangun mood penonton untuk menyimak kisah anak-anak di Grace Field House.

The Promised Neverland adalah film yang menarik untuk ditonton khususnya bagi penikmat anime. Cerita yang disuguhkan mampu membuat penonton dihujani berbagai macam emosi. Namun untuk cerita yang bergenre petualangan, aksi yang ditampilkan masih terlampau minim dibandingkan manga aslinya sehingga ada baiknya bagi yang menggemari komik untuk turut menyimak hal-hal terlewatkan melalui manga asli The Promised Neverland.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment