Hits: 309

Fatiha Fayza / Najla Khairani

Pijar, Medan. Tidak semua orang menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan perubahan, tetapi Sadam Permana Wijaya menjadikan platform tersebut sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan dan edukasi publik. Sadam merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 2023, dikenal melalui gaya debatnya yang tegas dan logis. Sapaan khasnya, yaitu “saudaraku” menjadi identitas yang melekat dalam setiap penampilannya di dunia maya maupun saat tampil di berbagai acara.

Sadam mulai dikenal publik setelah konten video yang dibuatnya tentang debat, dengan melakukan beberapa interupsi, viral di media sosial TikTok. Potongan video tersebut menyebar luas dan menarik perhatian banyak pengguna. Sejak saat itu, ia aktif membagikan berbagai konten mulai dari wicara publik (public speaking), hingga yang berkaitan dengan kesadaran hukum, kesetaraan gender, serta perilaku sosial masyarakat. Ia juga beberapa kali diundang ke berbagai kampus untuk menjadi pembicara dalam seminar.

Sadam kembali ramai diperbincangkan setelah ia mengunggah video TikTok berisi imbauan agar perokok, tidak merokok di depan orang-orang yang non-perokok. Video tersebut viral dan telah ditonton lebih dari 42,9 juta kali. Unggahan tersebut memicu beragam tanggapan dari warganet, mulai dari dukungan hingga kritik.

Selain isu perilaku sosial, Sadam juga menyoroti kasus-kasus pelecehan seksual yang sering terjadi di lingkungan pendidikan dan dunia kerja. Dalam beberapa unggahannya, ia menekankan pentingnya keberanian korban untuk bersuara dan pentingnya penegakan hukum yang adil. Pandangan tersebut kerap mengundang diskusi hangat di kolom komentarnya.

Topik lain yang kerap muncul dalam kontennya adalah pendidikan bagi perempuan. Sadam menyoroti pandangan stereotip yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi, serta mendorong generasi muda untuk lebih terbuka terhadap kesetaraan.

“Aku laki laki dan aku akan sangat bangga, apabila pasanganku ingin mengejar kariernya setinggi mungkin,” tambahnya.

Lelaki Muslim keturunan Tionghoa-Minang ini juga membuat konten bernuansa religius. Baru-baru ini, ia membuat imbauan agar umat Muslim menormalisasikan salat lima waktu dan tidak mabuk. Ia sempat diundang menjadi salah satu pembicara dalam seminar gelar wicara (talkshow) Psycho-Syar’i di Universitas Sumatera Utara pada bulan Juni lalu.

Dalam acara tersebut, Sadam membagikan kisah perjalanan hidupnya termasuk pengalaman pribadi saat menghadapi masa-masa sulit, hingga awal mula ia membuat video debat yang kemudian viral di TikTok.

“Ketika kamu dihadapkan oleh suatu kondisi di mana kamu benci diri kamu sendiri, kamu hanya punya dua opsi. Pertama, kamu memilih untuk mendengar dan percaya semua kata-kata negatif yang ada di kepalamu, atau kamu memilih untuk mencari jalan keluar dari kata-katamu,” ucapnya.

Perjalanan Sadam di media sosial tidak selalu mulus. Akun TikTok miliknya sempat diblokir aksesnya (banned) karena salah satu kontennya yang dinilai melanggar pedoman komunitas (community guideline), hingga akhirnya ia membuat akun baru dan kembali aktif menyuarakan pendapatnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Sadam tetap konsisten menggunakan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan pengetahuan dan mengasah kemampuan berpikir kritis masyarakat. Hingga kini, Sadam terus menggunakan media sosial untuk menyampaikan gagasan dan mengedukasi masyarakat melalui diskusi terbuka, seputar hukum, sosial, dan kehidupan sehari-hari.

Dikenal sebagai sosok yang rendah hati (humble) dan terbuka terhadap kritik, Sadam Permana menjadi contoh nyata generasi muda yang memanfaatkan media sosial bukan sekadar untuk hiburan, tetapi sebagai alat perubahan dan pemberdayaan masyarakat.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment