Hidayat Sikumbang

Pijar, Medan. Denting dan deru ban mobil, hiruk pikuk kemacetan di pagi hari membuat mentari yang baru saja bersinar dengan terang akan menertawakan penghuni dari seisi kota ini. Jakarta, si kota kejam kesayangan.

Ketika mendengar nama Jakarta, tempat-tempat apa yang sangat ingin disambangi selain Monas? Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie akan mengajakmu berkeliling Jakarta dengan mendengar nama-nama tempat yang barangkali belum pernah didengar sebelumnya, lewat buku Jakarta Sebelum Pagi.

Nillmij atau Nederlandsch-Indische Levensverzekerings en Lijfrente Maatschappij yang merupakan cikal bakal dari Jiwasraya, Kanal Molenvliet yang merupakan saksi bisu sejarah pintu air di Batavia, Planetarium, hingga Museum Taman Prasasti. Ziggy mengajak kita berjalan-jalan di sepanjang kota yang kalau siang hari dikenal begitu kejam, namun ketika malam, deru kendaraan akan disulap menjadi suara jangkrik yang saling bersahut-sahutan.

Seperti khasnya Ziggy dengan tulisan-tulisannya yang ringan, novel setebal 270 halaman ini menceritakan tentang bagaimana Emina, dengan terus-menerus diteror dengan surat-surat oleh seseorang yang tidak ia kenal dan tidak ia ketahui siapa.

Pada awal cerita, kita akan disuguhkan tentang kehidupan seekor binatang, bagaimana kasta binatang tersebut, dan bagaimana binatang tersebut mampu bertahan hidup. Emina, tokoh utama di cerita ini menganggap bahwa manusia juga tak ada ubahnya dengan seekor babi. Ia juga menganggap manusia telah menciptakan kelas-kelasnya sendiri seperti babi.

Selain menceritakan tentang bagaimana potret Jakarta dalam warna yang berbeda dengan suguhan petualangan saat dini hari, novel Jakarta Sebelum Pagi juga akan memberikan kita wawasan baru, bagaimana menjelajah Jakarta tempo dulu, dan pengetahuan-pengetahuan lainnya seperti minum teh, yang pernah menjadi upacara sakral, dan hermafrodit.

Lantas, di mana letak potret Jakarta Sebelum Pagi? Di sinilah perjalanan mulai berlanjut. Teror-teror yang dialami Emina akan mengantarkan kita kepada si bocah ajaib, Suki. Suki adalah bocah jenius yang di usianya masih 6 tahun sudah mampu mengelola usaha miliknya sendiri. Karakter Suki tentu mengingatkan kita terhadap Ava, tokoh utama dalam novel Di Tanah Lada yang juga sama ajaibnya.

Uniknya lagi, Ziggy sang penulis mencoba menggabungkan dua buku yang barangkali favoritnya, Animal Farm dan Dunia Sophie sekaligus. Kasta hewan dan penggambaran babi mengingatkan pembaca terhadap novel Kamerad– George Orwell dan teror surat yang dialami Emina, si karakter utama mengingatkan kita juga dengan novel Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder.

Lantas, apakah kalian tertarik membaca buku ini? Ziggy, sang penulis menyisipkan sebuah pesan untuk banyak orang yang ingin membaca sebuah buku. Pada halaman 72, ada sebuah kutipan yang ia tulis dan terasa begitu menohok.

“Kadang-kadang, orang membaca buku supaya dikira pintar. Lalu mereka membaca buku sastra terkenal, buku yang mendapat penghargaan. Dan, meskipun mereka tidak menyukainya, mereka bilang sebaliknya, karena ingin dianggap bisa memahami pemikiran sastrawan kelas atas. Ini adalah hal bodoh. Jangan pernah membaca karena ingin dianggap pintar, bacalah karena kamu mau membaca, dan dengan sendirinya kamu akan jadi pintar,” ungkapnya dalam buku ini.

(Editor : Lolita Wardah)

Leave a comment