Jenni Sihombing

Pijar, Medan. Jika film selalu menyuguhkan latar dan tokoh yang beragam, hal itu tidak akan  ditemui dalam film thriller India berjudul Pihu. Film yang diperankan seorang balita bernama Pihu (Myra Vishwakarma) memang hanya menceritakan berbagai aktivitas yang dilakukan oleh seorang balita berusia dua tahun dalam apartemen. Namun, apa jadinya jika balita tersebut terperangkap selama tiga hari bersama seorang mayat? Kira-kira hal apa yang dilakukan balita tersebut untuk dapat bertahan hidup?

“Gaurav, aku bertengkar dengan keluargaku demi menikahimu. Tapi apa yang kudapatkan darimu? Katamu, kau akan pulang hanya saat kumati. Aku pamit. Tadinya aku mau mengajak Pihu tapi aku tak kuasa. Sampai jumpa. Puja,” sebuah kalimat perpisahan ditulis pada sebuah cermin yang cukup mengiris hati sekaligus sebagai awal dari kisah ini. Puja, ibu dari Pihu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah pertengkaran hebat dengan suaminya sehari setelah perayaan ulang tahun Pihu.

Pihu yang mengira ibunya sedang tertidur pulas berusaha membangunkannya karena ingin buang air. Sang ibu yang tak kunjung memberikan respon akhirnya membawa Pihu untuk melakukan semua hal sendiri.

“Ibu, ibu aku lapar,” begitu Pihu berulang kali berusaha membangunkan ibunya sembari menangis karena tak kunjung menerima respon. Lagi-lagi Pihu kembali melakukan semuanya sendiri. Ia turun ke lantai bawah apartemen, lalu berusaha memanggang roti di microwave sampai gosong karena tak mengerti cara mematikannya. Tak habis akal, Pihu berusaha memanggang roti tersebut di atas kompor gas menyala dan seolah sedang bermain-main dengan gas sampai rotinya terbakar penuh oleh api.

Setiap menit yang kita lihat pada film ini mengundang kekhawatiran serta memicu rasa was-was saat menontonnya. Ada banyak kejadian-kejadian tak terduga yang membuat kita seolah membayangkan hal buruk yang akan menimpa. Terutama, ketika Pihu berusaha mengambil bonekanya dengan memanjat pagar besi di luar apartemen.

Secara tidak langsung, film ini seolah menohok orang-orang tentang bagaimana seorang balita harus tetap selalu dalam pengawasan orang dewasa. Sebab, ada banyak hal-hal yang tidak terduga saat meninggalkan balita seorang diri. Di sisi lain, tindakan bunuh diri, tanpa memikirkan nasib sang anak sungguh bukan perbuatan yang terpuji. Walaupun memiliki masalah yang cukup berat, sebagai seorang Ibu, memikirkan nasib anak dan menghilangkan keegoisan adalah sebuah hal yang penting.

Salah satu keistimewaan yang dapat kita temui dalam film ini adalah pekerjanya yang hanya dimainkan oleh seorang balita berusia dua tahun dengan beberapa suara sebagai pendukungnya. Walaupun hanya diperankan oleh satu tokoh saja, film ini berhasil mencuri perhatian penonton dengan kisahnya yang benar-benar hidup. Berbagai emosi akan dapat dirasakan oleh penonton mulai dari rasa marah, geram, kaget, sampai pada kondisi yang membuat kita menitikkan air mata.

Vinod Kapri sebagai penulis dari film ini, tak jauh-jauh mengangkat kisah karena berdasarkan kejadian nyata pada 2014 silam di New Delhi, India tentang seorang anak berumur empat tahun yang ditinggal sendirian. Kapri juga harus melakukan adaptasi yang lebih terhadap Myra, demi mempelajari karakternya dengan kisah Pihu yang ingin digambarkan.

Berkat keberhasilannya, film Pihu berhasil memenangkan kategori film fitur terbaik, di Festival Film Internasional Trans-Sahara ke-14. Film berdurasi 1 jam 30 menit ini juga mendapatkan banyak apresiasi Festival Film Internasional, meliputi Festival Film Internasional Vancouver, Festival Film Palm Spring (California), Festival Film India (Stuttgart). Pihu juga didapuk sebagai film pembuka pada Festival Film Internasional India ke-48 (IFFI).

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment