Hits: 6

Ghina Raudhatul Jannah

Pijar, Medan. Film horor komedi Ghost in the Cell garapan Joko Anwar hadir dengan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan film horor. Tidak hanya mengandalkan suasana mencekam, film ini juga menyisipkan humor absurd yang membuat pengalaman menonton terasa lebih segar dan tidak monoton.

Cerita berlatar di sebuah lembaga pemasyarakatan (lapas) bernama Labuhan Angsana. Di tempat ini, para narapidana (napi) hidup dalam tekanan, menghadapi penindasan dari oknum pejabat lapas serta kekerasan antar sesama tahanan. Situasi yang sudah mencekam itu semakin memburuk ketika seorang napi baru masuk. Sejak saat itu, satu per satu tahanan mulai ditemukan tewas dengan cara yang mengerikan.

Teror tersebut kemudian diketahui berkaitan dengan sosok hantu misterius yang hanya membunuh orang-orang dengan aura atau energi paling negatif. Menyadari hal ini, para napi pun mulai berusaha berubah. Mereka berlomba-lomba berbuat baik demi menjaga aura tetap positif agar bisa selamat.

Namun, perubahan itu tidak mudah dilakukan di lingkungan yang penuh ketidakadilan. Tekanan, konflik, dan kekerasan justru membuat mereka semakin sulit mengendalikan diri. Hingga akhirnya, para napi menyadari bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan bersatu melawan penindasan sekaligus menghadapi ancaman hantu tersebut.

Latar penjara yang tertutup berhasil membangun atmosfer yang kuat. Para karakter digambarkan berada dalam kondisi terjebak, baik secara fisik maupun psikologis, sehingga tekanan yang mereka alami terasa semakin nyata. Kondisi ini sekaligus memperkuat gambaran penjara sebagai ruang penindasan yang mengontrol dan menekan individu di dalamnya.

Selain membangun suasana, film ini juga memuat kritik sosial yang tajam. Lapas Labuhan Angsana menjadi representasi kecil dari sistem yang sarat ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan praktik korupsi.

Hierarki kekuasaan di dalam penjara juga tergambar dengan jelas, termasuk relasi antara oknum sipir dan pihak tertentu untuk mempertahankan kendali. Kondisi ini membuat lapas kehilangan fungsi utamanya dan justru menjadi ruang penindasan.

Dalam konteks tersebut, film ini juga menyampaikan pesan moral yang kuat. Energi negatif seperti kemarahan dan kebencian dapat memicu konsekuensi berbahaya. Teror yang muncul tidak semata-mata menjadi elemen horor, tetapi juga simbol dari akumulasi kejahatan manusia itu sendiri.

Meskipun terdapat beberapa bagian cerita yang terasa membingungkan, film ini tetap berhasil meninggalkan kesan melalui karakter-karakter yang kuat. Hal ini turut didukung oleh penampilan para aktor, seperti Abimana Aryasatya, Aming Sugandhi, Rio Dewanto, Endy Arfian, Faiz Vishal, Almanzo Konoralma, Bront Palarae, Dimas Danang, Yuhang Ho, Ical Tanjung, Kiki Narendra, Lukman Sardi, Tora Sudiro, Morgan Oey, Endy Arfian, dan Arswendy Bening Swara yang mampu menghidupkan dinamika cerita dengan baik.

Dialog-dialog satir yang disisipkan memberikan ruang refleksi sekaligus hiburan. Beberapa di antaranya bahkan secara langsung menyinggung realitas sosial di Indonesia, sehingga terasa relevan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ghost in the Cell juga dapat dianggap sebagai medium kritik sosial yang dikemas secara kreatif melalui perpaduan horor dan komedi.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment