Alvira Rosa Damayanti

Pijar, Medan. Banyak masyarakat yang berpikir bahwa kesetaraan gender merupakan suatu perilaku buatan budaya barat. Di mana kesetaraan gender yang ada, tidak sesuai dengan negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam.

Atas pemikiran tersebut, Iris Kmitera yang merupakan Layanan Pengaduan Kekerasan Seksual, yang berada di Institut Teknologi Sumatera mengadakan sebuah webinar bertemakan, “Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Islam” pada (10/04), pukul 18.00 WIB, melalui platform Zoom meeting.

Webinar ini diadakan demi meningkatkan pengetahuan masyarakat, pengetahuan Indonesia dalam kesetaraan gender,” ungkap Dianita, salah satu panitia acara menjelaskan maksud dan tujuan diadakannya webinar ini.

Dengan mengundang dua narasumber, yang diantaranya ada : Prof. Alimatul Qibtiyah (Komisioner Komnas Perempuan), dan Nurul Bahrul Ulum (Aktivis Perempuan Pendiri Cherbon Feminist). Materi pertama pun membahas mengenai gender dan pemaknaanya, penyebab ketidakadilan gender, prinsip kesetaraan dalam islam, dan beberapa contoh lainnya, dibawakan oleh Prof. Alimatul Qibtiyah.

“Gender secara perspektif adalah sebuah pandangan yang memiliki kesadaran adanya keadilan,” ujar Komisioner Komnas Perempuan ini.

Ada beberapa perbedaan antara gender dan jenis kelamin. Diantara perbedaan tersebut, Prof. Alimatul Qibtiyah berbicara dengan lugas bahwa, segala sesuatu yang dilakukan bukan oleh alat reproduksi, maka bukanlah kodrat. Namun, jika sesuatu dilakukan oleh alat reproduksi itu namanya kodrat.

“Tidak ada yang diunggulkan, tidak ada yang direndahkan. Masing–masing memiliki nilai yang sama. Dan semuanya sama dimata Allah,” pungkas Alimatul di akhir pemaparan materi miliknya.

Materi selanjutnya dibawakan oleh aktivis cantik bernama Nurul Bahrul. Dalam penjabaran materinya kali ini, ia mengemukakan bahwa kesetaraan gender, sudah merupakan perintah dalam islam. “Tidak hanya perempuan yang mendapatkan pelecehan, namun laki-laki juga mendapatkan pelecehan,” tegasnya.

Nurul Bahrul Ulum, saat memaparkan contoh konten yang beredar dalam media sosial. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Mengapa yang paling banyak ditonjolkan itu  kesalahan dosa yang terdapat pada wanita? Itu dikarenakan perspektif masyarakat yang sudah terbentuk sejak dahulu, bahwa wanita merupakan tiang sebuah negara. Maka dalam artian, jika sebuah negara hancur dan berantakan, apakah ini adalah kesalahan wanita? Tentu saja tidak, karena dalam islam, ada yang namanya hadis-hadis kesalingan. Hadis–hadis kesalingan tersebut diantaranya ialah:

  • Bahwa Allah SWT tidak memandang jenis kelamin sebagai keutamaan, tetapi amal dan ketak (Shahih Muslim, No. 6708)
  • Bahwa relasi antara laki–laki dan perempuan adalah kesalingan dan kerjasama. (Shahih Bukhari, No. 13)
  • Bahwa laki–laki dan perempuan adalah mitra. (Sunan Abu Daud, No 236)
  • Bahwa ketika perempuan berada pada posisi rendah secara sosial, maka harus ada tindakan nyata untuk mengangkatnya. (Sunan Abu Daud, No 1924)

Setiap poin yang terdapat pada hadis tersebut, dituliskan kembali oleh para aktivis perempuan pendiri Cherbon Feminist, Nurul Bahrul Ulum.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment