Salah satu pemandangan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Kota Medan dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara yang dilakukan pada Kamis (7/3) silam. Foto : M. Irfan Batubara.

Pijar, Medan. Pagi itu cuaca kota Medan begitu cerah, tampak matahari terlihat tersenyum cerah membumbung indah tinggi di langit, seiring menggambarkan suasana hati masyarakat Sumatera Utara yang suka cita menyambut pesta demokrasi lima tahunan ini. Sebentar lagi  mereka juga akan mengetahui siapa gubernur Sumatera Utara yang akan menduduki kursi singgasana Diponegoro satu, untuk periode 2013 – 2018 mendatang.

Sedikit berjalan dari rumah saya akhirnya berhenti di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 29, melalui pantauan dari kejauhan tampak aktivitas para anggota KPPS sedang sibuk mengurusi para tamu undangan yang akan menggunakan hak suaranya, untuk memilih para calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara sesuai hati nurani mereka masing-masing. Hari semakin menjelang siang suasana lenggang terlihat di TPS 29, hampir tidak ada aktivitas yang berarti yang terjadi, hanya segelintir pemilih saja yang hilir mudik. Dari data yang ada di TPS 29 jumlah daftar pemilih tetap (DPT) yang ada berjumlah 543 orang sedangkan yang datang dan menggunakan hak suaranya untuk memilih hanya berjumlah 190 orang. Sungguh fenomena yang mengecewakan, sulitnya membendung laju Golongan Putih (golput) yang semakin bertambah setiap tahunnya.

Dibalik cerita aktivitas hiruk pikuknya pemilihan calon gubernur dan calon wakil gubernur Sumatera Utara kemarin tersimpan kisah yang menarik. Sebut saja Alamsyah, ia merupakan salah satu dari sekian banyaknya pemilih pemula di pemilihan kepala daerah Sumatera Utara tahun ini. Ketika ditanya mengenai tanggapannya mengenai pengalaman pertamanya ikut serta dalam pemilihan umum tahun ini, “Senang rasanya, bisa ikut memberikan suara dan turut berpartisipasi dalam memilih orang nomor satu di Sumut ini”,ungkapnya singkat. Ketika disinggung mengenai fenomena golput yang terus bertambah jumlahnya, ia juga menilai, “Mereka (golput) tidak memilki rasa dan jiwa nasionalisme, karena tidak mau tahu dan masa bodoh, untuk kemajuan Provinsi Sumatera Utara ini”, ujarnya dengan nada kesal. Mengenai harapannya untuk kemajuan Sumatera Utara ke depan, ia berharap, “ Siapapun yang menjadi gubernurnya nanti, ya saya harap, bisa membawa Sumut lebih baik dan maju dari tahun-tahun  sebelumnya, dan wajib dapat menepati janji ketika mereka mengucapkan visi dan misinya tersebut di hadapan masyarakat Sumut”, ungkap mahasiswa UISU fakultas pertanian tersebut.

Salah satu warga sedang mencoblos di TPS 29 Kota Medan. Foto : M. Irfan Batubara.

Cerita berbeda lainnya juga hadir, dibalik semaraknya pesta demokrasi lima tahunan ini, Novia Ginting, yang merupakan mahasiswi perantauan yang berdomisili di Medan, ia menganggap pengalamannya saat ini tinggal diperantauan dan tidak menggunakan hak suaranya di Pilgubsu 2013, sebagai hal yang lumrah. “ Biasa aja kok, soalnya dari dulu memang tidak pernah milih”, ujarnya singkat. Dan ketika ditanya, mengapa tidak memilih pulang dan kembali ke kampung halamanya untuk menggunakan hak suaranya, ia beralasan, “Tanggung, soalnya kalau pulang kampung biasanya itu libur panjang, dan ada kegiatan organisasi juga”, ungkapnya. Saat disinggung mengenai penggunaan hak suara sebagai warga Negara yang baik, tentunya turut andil dalam menyukseskan Pemilukada Sumatera Utara tahun ini, ia menilai, “Apa memang warga Negara yang baik itu harus memilih, walaupun mereka tidak tahu siapa yang mau dipilih ?”, ungkapnya. Ketika ditanya apakah tidak takut apabila hak suaranya nanti, disalahgunakan oleh para oknum-oknum yang curang dan tidak bertanggung jawab, “Tidak takut, soalnya itu tidak berpengaruh siapapun dipilihnya, pasti semuanya punya program yang memang menurut mereka baik”, tandasnya. Meskipun  demikian ia sampaikan juga harapannya, “Semoga Gubsu yang terpilih bisa lebih memberikan hal-hal  baru bagi Sumut, dan hal-hal baik yang belum pernah didapatkan Sumut, intinya Sumut yang lebih berbeda”, ujar mahasiswi FISIP USU ini.

Segelintir cerita yang terlihat kontras dari dua sudut pandang narasumber yang berbeda, namun memiliki tujuan dan harapan yang mulia, dimana sama-sama ingin melihat adanya pembangunan dan perbedaan di Sumatera Utara ini kearah yang lebih baik dan sejahtera nanti kedepannya, siapapun itu Gubernur dan Wakil Gubernurnya. Dan berharap janji-janji selama masa kampanye itu dapat terwujudkan dengan nyata, amin. (bb)

Leave a comment