Christian Yosua

Pijar, Medan. Ya’ahowu (semoga kita diberkati). Perjuangan dan harapan, sebuah bagian yang melekat dalam hidup manusia. Setiap insan yang memiliki harapan tentunya akan berjuang untuk mencapainya. Berbicara tentang perjuangan, Christian Zebua merupakan sosok pejuang dalam segala hal, terutama untuk daerah asalnya, Pulau Nias.

Mayor Jenderal (Purn) Drs. Christian Zebua, MM merupakan tokoh kebanggaan masyarakat Pulau Nias. Ia pun dinobatkan sebagai salah satu putra terbaik Nias di Indonesia. Pria kelahiran Gunungsitoli, 24 Oktober 1957 ini adalah seorang purnawirawan yang dihormati dalam dunia militer karena loyalitas dan prestasi yang didapatnya semasa aktif menjadi prajurit.

Hingga sekarang, ia sepenuhnya mengabdikan diri untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat Pulau Nias dengan menjadi Ketua Badan Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias. Tidak mudah baginya untuk memperjuangkan segala hal yang sudah ia raih. Baginya, dalam perjuangan terkadang kita sukses dan terkadang kita perlu belajar dari prosesnya.

Dari kecil ia sudah mendapatkan didikan yang sangat disiplin dari kedua orang tuanya. Setiap pagi harus bangun jam 5, kemudian belajar dan ibadah bersama keluarga, lalu berangkat ke sekolah. Sepulangnya dari sekolah, kesempatan ia untuk bermain juga singkat. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar, membangun relasi yang baik dengan saudara, serta ibadah bersama.

Mayor Jenderal Drs. Chris. (Sumber Foto : images.app.goo.gl)

Keinginan kedua orang tuanya adalah ia menjadi seorang insinyur. Tetapi, takdir berkehendak lain. Christian Zebua mendaftar sebagai Taruna Akademi Militer setelah menyelesaikan pendidikan sekolahnya. Tidak mudah baginya melewati setiap seleksi terutama tes renang. Ini disebabkan karena saat itu ia tidak pandai berenang. Tetapi karena perjuangannya yang gigih dan pantang menyerah, ia memberanikan diri berenang dengan mengepak-ngepakkan tangannya dan berhasil sampai di garis akhir.

Ini adalah awal mula bagi dirinya dalam mencapai kesuksesan kariernya di dunia militer. Puncaknya ketika ia menjadi Panglima Kodam XVII/Cenderawasih pada September 2012. Dedikasinya di tanah Papua membuat masyarakat Papua sangat mencintai sosoknya. Hal ini terlihat jelas ketika ia berhenti sebagai Pangdam Papua karena masalah internal dalam kemiliteran.

Berbagai lapisan masyarakat Papua, dari tokoh agama, tokoh adat, hingga Gubernur Papua pun melayangkan protes terkait pencopotan ini dan datang langsung ke Jakarta menemui Presiden Indonesia untuk meminta evaluasi dari keputusan pencopotan beliau. Perjuangan pun tidak sia sia. Berdasarkan keputusan Presiden, Christian Zebua kembali ditempatkan menjadi Pangdam XVII/Cenderawasih Papua.

Setelah pensiun dari dunia militer, ia ditawarkan menjadi duta besar. Tetapi, ia menolak. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan hak dan keadilan masyarakat Pulau Nias, tanah kelahirannya. Baginya, Pulau Nias mempunyai sumber daya alam yang melimpah, sehingga harus seimbang dengan sumber daya manusia yang mengolahnya.

Untuk diketahui, masyarakat Pulau Nias mempunyai fatalifus?ta (semangat persaudaraan) yang tinggi, sehingga perjuangannya tidak akan sendiri dan dibantu oleh masyarakat Pulau Nias lainnya.

Perjuangannya membangun Pulau Nias ini dimulai ketika menjadi Ketua BPP Provinsi Kepulauan Nias. Berkat relasi yang ia miliki, tentunya perjuangan pulau Nias menjadi provinsi bukan hanya wacana. Pada tahun 2014, Presiden menyetujui penetapan provinsi Kepulauan Nias, tetapi ditunda pengesahannya karena satu dan lain hal.

Tujuh tahun sudah berlalu, tetapi semangat perjuangannya masih tinggi untuk mendapatkan pengesahan dari Presiden terkait Pulau Nias menjadi provinsi. Karena hal inilah yang membuat perjuangan tidak akan pernah berakhir baginya. Ia sangat mengetahui banyak tantangan dari setiap perjuangan yang sudah ia lakukan.

“Selama kita percaya, maka harapan itu ada dan di situ kita akan terus memperjuangkannya,” ujar Christian Zebua.

“Dalam berjuang ingatlah selalu hal ini untuk dilakukan. Pertama, selalu takut akan Tuhan. Jangan pernah lupa serahkan dirimu pada Tuhan agar dalam perjuanganmu dirimu selalu dilindungi. Kedua, inovasi dan kreatif dalam segala hal yang mendukung perjuanganmu. Terakhir, selalu rendah hati dengan pencapaian yang sudah engkau dapatkan,” tambahnya.

(Editor: Rassya Priyandira)

Leave a comment