Intan Husnul Khatimah

Pijar, Medan. Takdir, satu kata yang sering kali dibawa dalam hidup. Kadang pula, menjadi kata yang digunakan untuk mempertanyakan hidup. Namun, jika melihat secara istilah, takdir merupakan segala yang terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi.

Ini sudah terjadi beberapa waktu yang lalu, penyanyi dan penulis lagu muda bertalenta, Nadin Amizah kembali meramaikan dunia musik tanah air dengan merilis lagu barunya pada 24 Maret 2021 lalu. Lagu yang ia garap bersama Ramadhan Zuqi dan Kevin Rinaldi sejak bulan Juli 2020 ini bertajuk “Seperti Takdir Kita Yang Tulis”, iya, takdir. Dikemas dan digubah dengan instrumen musik yang apik oleh seorang produser, arranger, dan penyanyi Eky Rizkani.

Anak baru dari Nadin ini adalah pembuka dan single pertama dari mini albumnya, Kalah Bertaruh. Mini album ini pun merupakan narasi lanjutan dari lagu “Taruh” pada album sebelumnya dan akan melengkapi keseluruhan narasi yang telah dibuat dalam “Taruh”.

Nadin yang kerap menyebut lagu-lagunya sebagai anak-anaknya pun telah memberikan bocoran dan membiarkan penggemarnya mendengarkan demo lagu sebulan sebelum dirilis. Dua hari sebelum dirilis pun, ia aktif mengunggah cuplikan-cuplikan dari single terbarunya ini.

Namun, perilisan lagunya yang kali ini membuat Nadin ragu dan takut karena ia merilisnya tepat setelah menginjak 1 juta pengikut di akun Instagram-nya. Tentu, banyak sekali orang-orang baru. “Gimana kalau misalnya apa yang aku sampaikan mereka nggak ngerti, gimana kalau misalnya aku mau ngomong apa dan mereka malah menangkapnya apa,” ungkap Nadin melalui IG TV miliknya.

Lagu ini bercerita tentang seseorang yang tak yakin bahwa takdir ditulis sesuai dengan kata hatinya. Yang lebih tepatnya lagi, Nadin mengatakan bahwa lagu ini adalah tentang dia dan kenaifannya. Menurut Nadin, mempunyai mimpi dan mempunyai rencana itu adalah hal yang baik. Namun ketika sudah terlalu pede dan over planning, seakan-akan kita bisa melakukan segalanya, “kayak siapa elo? Tuhan?”, hal tersebut menjadi ejekan  dirinya yang terlalu banyak membuat planning.

Hal yang lumrah dan selalu dilakukan oleh manusia, bermimpi. Bermimpi, menciptakan sayapnya sendiri, berharap bisa terbang setinggi mungkin untuk menggapai mimpi tersebut. Namun, ketika sayap itu patah dan terjatuh, manusia merasa Tuhan tidak adil akan takdirnya, seolah-olah mimpi tersebut bukan ia yang menulis. Ada saatnya kita akan tersadar bahwa tidak semua yang kita impikan akan mudah didapatkan di waktu yang  diinginkan.

Bukan Nadin namanya kalau tidak menyentuh hati para pendengarnya lewat bait-bait lagu yang ia ciptakan dan nyanyikan.  Kata demi kata dirangkai menjadi lirik yang indah, mempunyai arti yang mendalam dan tetap ringan untuk didengar.

Lalu… lalu… lalu… lalu…

Bagaimana waktu berhenti bodoh di masa lalu?

Lalu.. lalu.. lalu…

Secepatnya aku berhenti berjalan

Lirik tersebut diucap berulang-ulang, yang menegaskan kebingungan bagi kedua belah jiwa yang kisah cintanya diselimuti ketidakpastian. Suatu keyakinan bahwa cintanya akan berujung indah seketika dipatahkan oleh takdir yang berlawanan.

Dinyanyikan dengan berbisik-bisik dan pelan-pelan, bukan karena tidak ingin didengar, namun Nadin tidak berani menyatakannya dengan lantang karena ini sangatlah penting. “Seperti Takdir Kita Yang Tulis” direkam di kamar Nadin sendiri karena bedroom recording yang juga sudah menjadi ciri khasnya.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment