Hits: 63

Pijar, Medan. Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei seharusnya dijadikan momentum oleh golongan muda seperti mahasiswa sebagai agent of change untuk memberikan kontribusi serta perhatian untuk bangsa ini, khususnya dalam bidang pendidikan. Seperti yang dilakukan Triple-P, sebuah komunitas yang dibangun oleh para volunteer (suka relawan) di Kota Medan. Komunitas yang terdiri dari para pemuda ini siap mengajar anak-anak panti asuhan secara sukarela.
Jika sudah tamat sekolah dan keluar panti, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain kembali ke kampung atau menikah. Begitulah pola pikir yang telah terdoktrin di kalangan anak panti, sehingga atas dasar pemikiran tersebut kemudian timbul inisiatif untuk mengumpulkan para volunteer yang bersedia mengajar di panti asuhan. Pengalaman para pendiri yang pernah mengikuti kegiatan Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) memperkokoh berdirinya komunitas ini. Sejak Triple-P ini terbentuk pada 29 April 2012, Dian Azhari Syam, Suci Miranda, dan Andini Nur Bahri berhasil menambah anggota sebanyak 15 orang yang secara sukarela berbagi ilmu dengan orang lain.
Setiap akhir pekan, para volunteer yang tergabung di Triple-P rutin mengajar di tiga panti asuhan dan satu yayasan. Awalnya mereka hanya mengajar di dua tempat saja yaitu Yayasan Rumah Anak Madani dan Panti Asuhan Brayan. Seiring bertambahnya jumlah volunteer yang mendaftar, komunitas ini pun melebarkan sayapnya hingga ke Panti Asuhan Denai dan Panti Asuhan Padang Bulan. Panti asuhan dipilih sebagai tempat mengajar agar kegiatan belajar mengajar lebih fokus di satu tempat secara teratur.
Materi yang diajarkan bermacam-macam, mulai dari pelajaran umum seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Fisika, Biologi. Tidak hanya itu, mereka juga memberi pelajaran tambahan seperti fotografi, kerajinan tangan, seni tari hingga bahasa asing. Materinya pun disesuaikan dengan materi pelajaran SD, SMP, dan SMA. Selain itu, mereka juga sering mengadakan diskusi film untuk menambah wawasan anak-anak panti dalam bidang sinematografi. Hal tersebut dilakukan agar anak-anak panti tidak jenuh dalam proses belajar
Fajar, mahasiswa Ilmu komunikasi FISIP USU ini awalnya sempat ragu ketika diajak bergabung sebagai pengajar volunteer. Kesibukan kuliah di semester 6 membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk mengajar. Namun, karena kesadaran akan pentingnya berbagi, Fajar bersedia bergabung dan membantu mendokumentasikan kegiatan Triple-P. Ia juga sempat beberapa kali mengajar fotografi dan membuat film dokumenter tentang Triple-P.
Pada saat ditemui tim www.mediapijar.com pada 20 Mei 2013 lalu, Reza Pahlevi yang merupakan salah satu volunteer yang mengajar Bahasa Esperanto mengatakan, bahwa ia mengalami kesulitan saat awal mengajar anak-anak panti. Apalagi bahan ajar yang ia berikan kepada anak panti adalah Bahasa Esperanto yang jarang terdengar sehingga terdengar asing bagi anak panti. Menurutnya, Bahasa Esperanto adalah bahasa netral dimana semua orang bisa menggunakan bahasa tersebut. Kesulitan yang dialami para pengajar volunteer tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap mengajar. Mulai dari jauhnya lokasi panti hingga surutnya motivasi anak-anak panti untuk belajar.
“Saya awalnya tidak tahu bagaimana cara memahami anak-anak panti yang beragam dan sulit ditebak. Namun, saya pelan-pelan belajar memahami karakter mereka hingga saya pun menikmatinya,” tutur humas Triple-P tersebut (20/2) lalu.
Dikutip dari wikipedia.com, Esperanto dikembangkan pada 1877-1885 oleh L.L. Zamenhof. Kata berasal dari Bahasa Esperanto, ‘Esperanto’ sendiri berarti “seseorang yang berharap”. Lambat laun istilah tersebut digunakan untuk menyebut bahasa itu sendiri. Tujuan utama Zamenhof adalah untuk membuat bahasa netral yang mudah dipelajari dan digunakan sebagai bahasa perantara oleh berbagai orang yang memiliki bahasa ibu yang bermacam-macam.
Selain kegiatan belajar mengajar, Pemuda Peduli Panti juga mengadakan bakti sosial yang dananya dikumpul secara suka rela dari anggota. Komunitas ini juga berencana untuk membantu tiga orang siswa mereka untuk kuliah di PTN tahun 2013 ini dengan bantuan donator. Selain itu,mereka mengevaluasi hasil kerja antar volunteer.
Di usia yang masih sangat muda ini, Pemuda Peduli Panti beharap agar siswa-siswi yang mereka bimbing dengan sepenuh hati tersebut mampu memotivasi anak-anak panti asuhan lainnya untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu, dengan adanya komunitas volunteering ini, diharapkan mampu menyadarkan para pemuda akan pentingnya berbagi. Sehingga tidak hanya menumbuhkan empati, tetapi juga memperkaya kualitas diri. (bwn)



2 Comments
Heidi Goes
Saya senang baca artikel ini. Yang mau belajar bahasa Esperanto sendiri, bisa belajar di website id.lernu.net atau lihat bahan yang lain di website saya. Di Facebook juga ada grup “Esperanto di Indonesia” dan “Esperanto – Medan”. Silakan gabung!
Terima kasih.
Heidi Goes
dari Belgia
Heidi Goes
Saya senang baca artikel ini. Yang mau belajar bahasa Esperanto sendiri, bisa belajar di website id.lernu.net atau lihat bahan yang lain di website saya (https://www.sites.google.com/site/esperantoenindonezio/esperanto/belajarEsperanto). Di Facebook juga ada grup “Esperanto di Indonesia” dan “Esperanto – Medan”. Silakan gabung!
Terima kasih.
Heidi Goes
dari Belgia