Hits: 71

Pijar, Medan. Siapa sangka bahwa keterampilan ini menjadi suatu gaya hidup yang menarik sekaligus bermanfaat. Meski kerap dipandang negatif karena identik dengan dunia malam, namun ternyata, itu tidak menyurutkan minat kawula muda di Kota Medan untuk mempelajari Flair Bartending, yaitu seni meracik minuman ala seorang Bartender.
Hal ini terlihat saat sejumlah anak muda yang berasal dari komunitas F3B (Flair For Friend Bartender) asyik melemparkan banyak botol dan gelas ke udara di salah satu Central Square Kota Medan. Saat ini 20 orang lebih telah tergabung dalam komunitas F3B ini untuk mempelajari teknik akrobatik dalam meracik minuman bagi para tamu yang datang ke suatu acara.
Dalam dunia gemerlap, profesi Bartender sudah tidak asing lagi, bahkan seorang Bartender sangat dibutuhkan untuk menarik perhatian para pengunjung. Untuk menjadi seorang Bartender, seseorang harus mampu menguasai 27 gaya, misalnya seperti gaya melempar dan menangkap. Keseimbangan pun menjadi sangat penting dalam hal ini, agar botol dan gelas tidak terjatuh dan pecah atau mencederai sang Bartender.
Salah satunya adalah Rahman, yang pernah bekerja di sejumlah club di Kota Medan. Meracik beragam jenis minuman menjadi suatu minuman yang kaya rasa sudah menjadi keahliannya hingga saat ini. Pada awalnya, ia tertarik melihat aksi seorang Bartender terkenal dari Jakarta yang menebar virus Flair Bartending ke Medan pada tahun 2000. Namun karena perkembangan dunia malam di Kota Medan masih jauh tertinggal, ia pun harus mencari informasi dari interenet untuk menambah wawasannya. Selain itu ia juga membangun relasi dengan para Bartender senior untuk sekedar berbagi pengalaman demi memperluas pengetahuannya.
Pada tahun 2007 ia mulai bekerja di salah satu club malam di Kota Medan. Barulah ia benar-benar merasakan gegap gempita dunia yang masih tabu dikalangan masyarakat awam tersebut. Pertama kali terjun sebagai seorang Bartender, dirinya mengakui bahwa pandangan negatif masyarakat tidak dapat dihindarkan. Namun ia berusaha menyikapi hal tersebut dengan positif, menurutnya club malam tidak selalu membawa pengaruh negatif pada seseorang.
” Wajar ini dianggap negatif, ini bukan budaya Indonesia. Bagi saya dunia malam itu tergolong entertaiment, siapa saja bisa datang. Tapi kembali lagi, semua tergantung pribadi dan tujuannya positifkah atau negatifkah “, ungkapnya.
Flair Bartending pertama kali diperkenalkan pada tahun 1800-an oleh Jerry “Profesor” Thomas di Amerika Utara. Kehadiran para Bartender tentu tidak lepas dari perkembangan Bar dari masa ke masa. Kehadiran Bar di Amerika pada mulanya hanya terdiri dari kayu pemisah yang disebut Barrier. Kayu pemisah tersebut ditujukan untuk memisahkan antara si penjual dan si pembeli. Pada saat itu, tidak tersedia tempat duduk bagi para pembelinya melainkan mereka minum sambil berdiri dan bersandar pada papan Barrier.
Bartender kerap dianggap sebagai seseorang yang melakukan akrobat sambil menuangkan minuman berakohol kepada tamu. Namun ternyata tidaklah selalu alkohol, ada dua jenis minuman yang dapat disajikan oleh para Bartender dari segi prosesnya. Adapun Mocktail yaitu racikan sari buah yang dicampur dengan soda non-alkohol. Sedangkan Cocktail adalah jenis minuman campuran yang mengandung alkohol. Sebelum membuat sebuah minuman seorang Bartender harus memiliki pengetahuan yang disebut dengan Knowledge Bar, yaitu pengetahuan menakar kadar alkohol dan rasa dari sebuah minuman.
Bagi anda yang ingin berkecimpung dalam Flair Bartending namun enggan terjerumus dalam dunia malam, anda tetap bisa mengepakkan sayap selebar para Bartender profesional lainnya. Peluang pekerjaan dibidang ini pun terbuka luas, menuntut anda bisa dengan cakap meracik Mocktail untuk para tamu di Bar Juice hotel-hotel berbintang. Apalagi kini banyak perlombaan yang mengikutsertakan Flair Bartender sebagai kategori lomba. Bahkan, bisa menjadi salah satu sumber penghasilan yang lumayan. Seperti yang diungkapkan Rahman yang telah mendapat gelar Bar Captain, dalam melakukan aksinya untuk menghibur para tamu ia bisa dibayar sekitar Rp 500.000,- s/d Rp 1.000.000,- selama 10 menit saja.

Hampir 10 tahun berkecimpung di dunia Bartending, beragam cedera akibat pecahan botol kaca pernah ia alami saat beraksi dihadapan para tamunya. Hingga kini luka itu masih terlihat berbekas. Saat ini Rahman mengaku tidak lagi silau akan dunia malam. Justru di usianya yang yang menginjak 31 tahun, ia hanya ingin mewariskan ilmu yang dimilikinya kepada pemuda Medan yang tertarik pada keterampilan ini. Rasa jatuh cinta pada Flair Bartending ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Ia pun tak mengangkat dagu dari para anggota komunitasnya yang datang langsung untuk belajar Flairing Bartender.
” Banyak peminatnya, namun tidak banyak yang serius menekuninya. Saya siap mendampingi siapapun yang ingin belajar”, ujarnya saat ditemui di Lapangan Merdeka (26/1) lalu.
Setiap hari Senin komunitas F3B menyempatkan waktu untuk latihan di Lapangan Merdeka di Jalan Balai Kota, Medan. Menurutnya Rahaman, Latihan setiap hari sangat penting untuk melatih perkembangan seluruh gerakan bahkan dengan berlatih setiap hari tidak menutup kemungkinan seseorang dapat melahirkan gaya-gaya yang lebih inovatif. Perlengkapan yang dibutuhkan untuk latihan yaitu botol Flairing (replika botol beer yang terbuat dari Fiber) dan juga Shaker (gelas). Untuk mendapatkan perlengkapan tersebut juga tidak mudah, Rahman mengatakan bahwa alat-alat tersebut diimpor langsung dari Malaysia sehingga harganya pun sedikit mahal.
Berangkat dari dunia malam ia pun kini telah meninggalkan hiruk-pikuk didalamnya, namun tanpa meninggalkan seni yang telah menjadi hobi-nya. Menurutnya, gaya hidup seorang Bartender tidak berhenti sebatas Bar namun telah berkembang menjadi hal yang lebih positif yaitu menghibur orang dan sebagai sarana lain untuk berolahraga, aktif bergerak saat melemparkan botol dan shaker ke udara ternyata mampu menguras keringat.
“ Seiring dengan niat, saya jadi lupa merokok karena lebih sering latihan Bartender sih”, ungkapnya sambil tertawa.
Sementara itu, Daniel salah seorang anggota F3B mengaku sejak ikut latihan bersama komunitasnya sejak 2011 lalu telah memiliki sebuah pekerjaan tetap disalah satu Cafe di kota Medan sebagai seorang Bartender juga. Hal itu tak terlepas dari Rahman yang terus mendorongnya untuk aktif ikut perlombaan hingga menawarkannya pekerjaan.
“ Saya menolak untuk tampil di Bar karena saya tidak cukup berani dengan lifestyle di tempat itu. Sehingga saya lebih menjadikan Flairing ini sebagai gaya hidup saya untuk berolahraga dan menghibur orang lain sajalah” ujar Daniel menutup wawancara sore itu. [nk]
