Jurnalis Rentan Mengalami Kekerasan Seksual

Sumber Foto: instagram.com/aji_jakarta

Esra Natalia Margaretha

Pijar, Medan. Pada Catatan Tahunan Komnas Perempuan (2020), setidaknya ada 431.471 kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan yang terjadi pada ranah personal, komunitas/publik, dan juga negara. Sedangkan pada data Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) membuktikan bahwa kasus pelecehan seksual dapat terjadi oleh siapa saja, tanpa memandang gender, waktu, dan jenis pakaian. Maka dari itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengadakan survei mengenai kekerasan seksual yang terjadi pada Jurnalis. Di mana survei ini sudah disebar semenjak bulan Agustus 2020 lalu kepada seluruh Jurnalis di Indonesia. Dan hasilnya, hanya ada 34 Jurnalis yang berani mengisi survey tersebut dan 25 di antaranya pernah mengalami kekerasan seksual.

Pada Sabtu (16/01), AJI Jakarta mengadakan Peluncuran Survei dan Diskusi Publik Daring Kekerasan Seksual di Kalangan Jurnalis. Survei ini dilakukan sebagai bahan rujukan pembentukan SOP internal AJI Jakarta dan sebagai bentuk komitmen dari Divisi Gender, Anak, dan Kelompok Marjinal AJI Jakarta dalam mendorong iklim kerja yang aman bagi semua jurnalis. Diskusi publik yang dipandu oleh Fadiyah, selaku salah satu anggota AJI Jakarta ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom meeting dan siaran langsung melalui kanal Youtube official Aji Jakarta.

Widia Primastika, selaku anggota divisi tersebut memaparkan hasil survei yang telah mereka sebar selama beberapa bulan dalam diskusi publik. Selain Widia Primastika, mereka juga mengundang beberapa pembicara untuk turut ikut dalam diskusi publik ini, yaitu Agus Sudibyo sebagai anggota Dewan Pers, Nenden S. Arum sebagai Komite Keselamatan Jurnalis, Justitia Avilla Veda sebagai Kolektif Advokat untuk Keadilan Gender, dan juga Wahyu Dhyatmika sebagai Asosiasi Media Siber Indonesia.

Dalam pemaparannya, Widia menjelaskan bahwa ada 25 responden yang mengaku mengalami kekerasan seksual, namun ketika ditanyakan bentuk-bentuk kekerasan seksual tersebut, terdapat lebih dari 25 jawaban. Yang mana artinya satu orang mengalami lebih dari satu kekerasan seksual. Dan kejadian itu paling banyak terjadi ketika sedang melakukan peliputan atau sedang di luar waktu kerja. Sedangkan untuk pelaku kekerasan seksual itu sendiri, paling banyak dilakukan oleh narasumber, baik pejabat publik ataupun non pejabat publik dan sesama Jurnalis beda kantor atau bahkan teman sekantor.

Sekitar 63,3% responden mengaku pernah melaporkan kasus kekerasan seksual tersebut, tetapi hanya 1 dari 32 kasus saja yang pernah diproses dan diberikan pendampingan. Sisanya banyak yang tidak ditanggapi dan tidak direspon, bahkan banyak yang diintimidasi. Sedangkan responden yang memilih untuk tidak melapor alasannya yaitu merasa tidak ada gunanya, tidak punya bukti yang cukup atau bahkan takut tidak dipercaya.

Mengenai hal tersebut, AJI Jakarta merekomendasikan agar organisasi Jurnalis dan juga perusahaan media memiliki SOP Penanganan Kekerasan Seksual yang komprehensif dan berperspektif korban.

“Menurut saya, SOP itu bukan solusi atau menjadi jawaban untuk semuanya, tetapi menjadi pintu masuk. SOP itukan prosedur operasi standar, jadi tata cara sebetulnya. Menjadi kerangka bagaimana menangani kasus kekerasan seksual. Nah, sekarang ini tata caranya saja belum ada. Kalau kita sudah punya kesepakatan tentang tata cara penanganan, tata cara perlindungan korban, pemulihan, dan juga sebelum terjadi, tata cara pencegahan. Itu semua masuk dalam kerangka SOP, jadi draft SOP-nya itu sebaiknya mencakup semua atau keempat aspek itu,” ujar Wahyu Dhyatmika.

“Dari Komite Keselamatan Jurnalis, tentunya akan mendukung. Kita sama-sama bergerak bersama untuk menangani atau setidaknya kita mencoba bagaimana kita bisa mengurai permasalahan kekerasan seksual yang memang tadi sudah nyata adanya. Pasti KKJ akan mendukung seratus persen untuk bagaimana kita ikut berpartisipasi dalam penanganan kasus kekerasan seksual di Jurnalis,” ucap Nenden S. Arum sebagai kata penutupnya.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *