Syarifah Natasyah Adelia / Achmad Syah Galang Ramadhan

Pijar, Medan. Siasat membunuh tanpa menyentuh, sepenggal kalimat yang dapat tergambar dalam film The Witches. Film bergenre komedi dan fantasi ini diangkat dari sebuah kisah novel klasik dengan judul sama. Film ini merupakan hasil besutan dari sutradara Robert Zemeckis yang kolaborasi dengan Guillermo del Toro dan Kenya Barris. Rilis pada tanggal 22 Oktober lalu, The Witches dibintangi oleh para aktor ternama seperti Anne Hathaway, Octavia Spencer, Stanley Tucci dan aktor muda Jahzir Kadeem.

Mengambil latar waktu tahun 1968, The Witches menceritakan tentang perkumpulan rahasia para penyihir jahat yang bertugas untuk memusnahkan setiap anak di dunia tanpa harus mengotori tangan untuk membunuh.

Awal cerita bermula dari seorang anak laki-laki (Jahzir Kadeem) yang kehilangan kedua orang tuanya dikarenakan sebuah kecelakaan. Anak tersebut kemudian diasuh oleh neneknya (Octavia Spencer). Meski anak tersebut awalnya sulit menerima keadaan bahwa orang tuanya telah tiada, namun sang nenek terus berusaha untuk menghiburnya sampai pada akhirnya anak umur delapan tahun itu dapat meredakan kesedihannya.

Hingga pada suatu hari, anak laki-laki tersebut bertemu dengan salah penyihir saat berada di sebuah toko. Sang nenek yang mengetahui hal tersebut, langsung mengajak cucunya untuk pergi ke sebuah hotel nan megah dengan tujuan untuk menghindari sang penyihir jahat. Namun tanpa mereka sadari, para penyihir juga ternyata melakukan pertemuan di hotel tersebut. Di sana para penyihir berencana untuk memusnahkan anak-anak yang ada di dunia dengan menggunakan ramuan yang dapat mengubah anak-anak menjadi seekor tikus.

Sang anak laki-laki yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan penyihir pun berusaha untuk menghentikan rencana tersebut. Bersama teman-teman barunya dan sang nenek, ia mencoba untuk menyelamatkan anak-anak dari muslihat jahat para penyihir.

Film The Witches ini termasuk ke dalam film keluarga yang dapat ditonton oleh setiap kalangan. Melihat sedikitnya adegan yang mengandung kekerasan, membuat film ini layak untuk ditonton oleh anak-anak. Alur cerita yang menarik dengan narasi oleh pemeran utama juga membuat film ini ringan untuk ditonton ketika sedang berkumpul dengan keluarga.

Akting Anne Hathaway dalam film tersebut juga tidak kalah menarik perhatian para penonton. Memerankan karakter antagonis, Anne berhasil menghidupkan kesan jahat yang dimiliki oleh seorang penyihir. Dengan bantuan dari make up effect yang luar biasa, menambah kengerian dalam film tersebut .

Pada film ini, para penyihir digambarkan sebagai seorang wanita berkepala botak dengan adanya iritasi di kepala mereka dan anggota tubuh yang tidak lengkap. Penampilan karakter penyihir tersebut diharapkan akan menakutkan anak-anak. Namun sangat disayangkan penggambaran karakter seperti ini dianggap keliru. Hal ini dilihat dari pengilustrasian jari penyihir dalam novel aslinya yang seharusnya memiliki lima jari. Akan tetapi Zemeckis mengubah ulang penampilan penyihir tersebut dengan hanya memiliki tiga jari saja, di mana hal ini merupakan ketidaknormalan anggota tubuh di dunia nyata.

Tentunya hal ini menimbulkan kontroversi yang mana nantinya akan menimbulkan persepsi salah terhadap para penyandang disabilitas. Dengan representasi penyihir yang seperti itu maka justru dapat membuat anak-anak beranggapan bahwa orang-orang dengan kondisi yang berbeda (disabilitas) merupakan hal yang menakutkan dan menyeramkan. Penggambaran karakter jahat yang serupa semestinya harus dihindari. Karena untuk dapat menunjukan karakter yang seram dan jahat, tidak harus memandang fisik.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment