Pacu Jawi, Budaya Masyarakat Sebagai Ungkapan Rasa Syukur

Sumber foto: goodnewsfromindonesia.id

Sabrina Silvani Silvani/ Suryani Agata Sitanggang

Pijar, Medan. Bukan hal yang baru lagi, ketika produk budaya dari daerah Sumatra di kenal sampai ke kancah internasional. Tradisi ini terbilang unik, diwariskan oleh nenek moyang kepada masyarakat di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Hebatnya tradisi ini tidak pudar sama sekali ditengah kemajuan teknologi, masih sangat melekat dan, rutin dilakukan oleh warga setempat. Tradisi ini berlangsung 3 kali dalam setahun, setiap usai masa panen di empat Kecamatan (Pariangan, Lima Kaum, Rambatan, dan Sungai Tarab) yang biasanya dibarengi dengan pesta desa atau biasa disebut alek pacu jawi oleh masyarakat setempat. Namun, sekarang telah berubah menjadi atraksi wisata yang digemari banyak wisatawan dalam negeri maupun luar negeri dan didukung penuh oleh pemerintah.

Karena keunikan yang dimiliki pertandingan Pacu Jawi ini bahkan dalam cara penilaiannya, tradisi ini semakin diminati dan dikenal oleh masyarakat luas. Pacu Jawi kini menjadi asset berharga yang dimiliki daerah Sumatra Barat yang harus di jaga dan dilestarikan. Pacu Jawi menggunakan 2 ekor sapi yang berlari di dalam lumpur, namun yang menjadi tantangannya adalah sapi yang dikendalikan oleh seorang joki dengan bambu sebagai sarana penyambung kedua ekor sapi tersebut adalah harus berlari lurus. Pemenang tidak ditentukan dari kecepatannya melainkan sebarapa lurus sapi tersebut berlari. Filosofi dari pacu jawi adalah gambaran bahwa pemimpin dan rakyat dapat berjalan bersamaan.

Seorang joki akan berusaha mengendalikan laju dan arah kedua ekor sapi tersebut,tak jarang pula seorang joki terkena terpaan lumpur, karena ia berada di belakang sapi. Ekspresi wajah dari joki yang sangat energik ini juga yang menambah daya tarik dari sisi fotografi. Saat pertandingan ini terjadi, seorang joki sering dijadikan objek foto oleh seorang fotografer. Karena di dalam pertandingan Pacu Jawi ini banyak momen langka yang begitu bagus dapat diambil. Misalnya, ekspresi wajah dari seorang joki yang sedang berusaha secara habis-habisan, berteriak, dan ditambah terpaan lumpur yang mengenai wajahnya menjadikan hasil foto begitu bagus dan penuh makna. Sesekali terdengar diiringi alunan musik Minang yang ikut memeriahkan pertandingan. Suara teriakan dari para penonton yang sedang menyemangati sapi dukungannya pun ikut menambah ketegangan dan keseruan.

Seorang joki sedang mencoba mengendalikan sepasang sapi saat diadakannya lomba pacu jawi yang biasanya dilakukan di sepetak lahan persawahan (Sumber foto: traverse.id)

Kata Pacu Jawi sendiri berasal dari bahasa Minang yang artinya “balapan sapi”. Biasanya area pertandingannya menggunakanan sebidang sawah dengan ukuran 60-250 meter dan berlumpur. Kedalaman lumpur dalam lintasan dapat mencapai 30cm. Sapi yang digunakan biasanya sapi jantan yang berumur 2 sampai 13 tahun.

Sapi yang dipertandingkan sudah dilatih terlebih dahulu, mereka akan mulai berlari saat diberi aba-aba. Terkadang, joki dapat saja terjatuh untuk mempertahankan kestabilan diri dalam mengarahkan sapi, karena perilaku sapi yang begitu agresif. Salah satu cara untuk mempercepat lari sapi adalah joki kadang menggigit ekor salah satu sapi agar berlari lebih cepat. Tak jarang sapi lari ke arah yang salah atau malah berlari ke arah penonton. Lumpur sawah pun terciprat kemana-mana, termasuk ke arah penonton.

Ada pula ajang jual beli sapi, dimana penonton dapat membeli sapi yang dipertandingkan. Keuntungan finansial inilah yang membuat para pesertanya semakin bersemangat dalam mengikuti lomba ini. Apalagi sapi yang dianggap baik oleh penonton harga jualnya akan meningkat mencapai 2 atau 3 kali lipat harga aslinya. Manfaat dari pacu jawi ini selain sebagai sarana hiburan bagi masyarakat dan sarana sosialisasi bagi para wisatawan lokal maupun internasional juga dapat meningkatkan harga jual sapi untuk meningkatkan kualitas hidup para peternak.  Namun, banyak yang mengira Pacu Jawi ini sama dengan Karapan Sapi yang berasal dari Madura. Walaupun terlihat sama, namun keduanya memiliki perbedaan. Salah satu yang paling mencolok adalah lahan yang digunakan sebagai area pertandingan. Pacu Jawi dari Sumatra Barat di lakukan diatas sebidang sawah yang berlumpur, sedangkan Karapan Sapi menggunakan area tanah kering dan datar.

Kabar gembira untuk kita semua, sampai saat ini tradisi Pacu Jawi dari Sumatra Barat masih mampu bertahan dan eksis ditengah banyaknya trend baru yang bermunculan. Tugas kita sebagai generasi muda yang akan melanjutkan seluruh warisan budaya Indonesiaadalah menjaga, melestarikan dan, tetap mempelajarinya. Agar, seluruh kekayaan negara Indonesia tidak hilang dimakan waktu.

(Editor: Muhammad Farhan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *