Septrian Arnike Maharani br. Tarigan / Nadya Divariz Bhayitta Syam

Pijar, Medan. Beberapa waktu yang lalu, di tengah malam, suasana Indonesia sempat panas karena Undang Undang Cipta Kerja disahkan. Ricuh? Pasti. Pro-kontra masyarakat hadir di semua media yang mau ‘mendengarkan’ suara mereka. Salah satunya dengan menaikkan tagar #MosiTidakPercaya di Twitter.

Di kehidupan politik, mosi tidak percaya adalah sebuah pernyataan dari Dewan Perwakilan Rakyat tentang ketidakpercayaan pada kebijakan milik pemerintah. Lalu jika DPR lupa berpendapat, bukankah ini saatnya untuk bersuara?

Tapi ada beberapa hal yang pelru digarisbawahi tentang mosi ketidakpercayaan dan pengaruhnya di Indonesia. Sebesar itukah? Atau hanya seperti riak air di pantai yang kadang tidak kita sadari ada dan membelai kaki dengan lembut.

Jika di negara dengan sistem parlementer mampu menggulingkan sebuah pemerintahan, maka di sini mosi tak percaya adalah sebuah hak. Satu dari tiga hak yang didapatkan ketika menjabat menjadi anggota DPR, seperti yang tertulis di hukumonline.com. Mungkin itu juga alasan tuntutan ini diracik sedemikian rupa dengan berbagai cara, seperti melalui lagu misalnya.

Bicara tentang hal itu akhirnya akan mengingatkan beberapa orang pada band asal Jakarta, Efek Rumah Kaca. Terbentuk sejak 2001 dan dikenal dengan keberaniannya menyuarakan politik, Efek Rumah Kaca juga kali ini hadir dengan lagu Mosi Tidak Percaya. Apakah single yang ini dirilis hanya karena ikut-ikutan?

Efek Rumah Kaca dan keberaniannya bicara politik dengan musik.
(Sumber Foto: medium.com)

Jawabannya, bukan. Lagu yang sejalan dengan tagar heboh di Twitter kemarin itu justru dirilis jauh sebelum dia popular, tepatnya pada 2007 silam.  Kembali hits karena liriknya terinspirasi dari kisah aksi masyarakat yang menuntut reformasi politik di Indonesia.

Sederhana, istimewa, dan tepat sasaran. Kata demi kata yang disusun hingga menciptakan bait lagu, menggambarkan penderitaan masyarakat akan janji manis yang disampaikan oleh pemerintah. Kepercayaan yang diberikan seolah ternodai dengan janji-janji palsu yang tak kunjung ditepati.

Menyandang penghargaan Indonesia Cutting Edge Music Awards 2010 untuk Album Terbaik, membuktikan bahwa musiknya cukup dinikmati. Apalagi, bagi para penggemar Efek Rumah Kaca. Dengan lirik yang menggugah hati para pendengar, lagu ini sukses menuai banyak pujian dari berbagai kalangan. Kecuali pemerintah, mungkin.

Saat ini memang Mosi Tidak Percaya cukup mewakili rasa yang dialami masyarakat Indonesia. Pun dulu saat pertama kali lagu ini dirilis. Tapi, akan sampai kapan?

Kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

Penggalan lirik ini terlihat menyedihkan. Bagai ironi, karena yang terjadi saat ini harusnya adalah “kami tak percaya, tapi bisa apa kami?”. Hanya lagu, pada saat ini, yang dapat dijadikan wadah untuk mengeluarkan aspirasi. Namun setelah itu, ke media mana aspirasi akan dibawa lagi?

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment