Hits: 27

Aisha Tania Sinantan Sikoko

Pijar, Medan. Perkembangan teknologi selama beberapa dekade ini tidak hanya bersinggungan dengan bidang sosial ataupun ekonomi, tetapi juga pada bidang jurnalisme. New media atau internet telah memungkinkan siapapun untuk menyebarkan informasi. Siapapun dapat menjadi jurnalis daring. Padahal seorang jurnalis memiliki serangkaian kode etik yang perlu diperhatikan, namun dunia tanpa batas telah mengaburkan aturan jurnalisme di kalangan masyarakat.

Dengan membawa topik “Masih Adakah Jurnalisme”, Saroni Asikin, redaktur pelaksana Suara Merdeka dalam sesi pemaparan materi menyampaikan bahwa menjelang pemilihan Presiden Pilpres 2014, jurnalisme sedang berada dalam tahun kesedihan yaitu ketika jurnalisme online mulai hidup. “Belum mati, namun mulai tergerogoti virus yang lebih parah”.

Ia juga menjelaskan beberapa elemen yang harus dimiliki oleh sebuah berita, antara lain isi harus mengungkapkan fakta bukan asumsi dan narasumber. Dalam berita harus memenuhi konsep Frame of Reference dan Field of Experience. Pada kenyataannya elemen ini sering dikesampingkan dilihat dari banyaknya ditemui berita yang tidak memenuhi syarat.

“Hoaks adalah kebohongan. Kalau hoaks berarti bukan berita. Hoaks mengungkapkan kebohongan. Kabar bohong bukan berita, karena konsep yang disebut berita bukan kabar. Kabar itu bukan berita,” ucap Saroni dalam menyampaikan pendapatnya tentang apa itu hoaks.

Suasana hari pertama acara melalui Zoom.
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Meskipun banyak berita yang tidak layak sebar, bukan berarti seluruh informasi yang ada di masyarakat harus ditiadakan. Informasi bisa menambahkan pengetahuan tentang hal yang tidak dapat dijangkau secara langsung, sekaligus menyesatkan. Saroni menyampaikan bahwa tanpa sadar berita adalah kebutuhan manusia.

Selain Saroni, Acara Pelatihan Jurnalistik Dasar (PJD) oleh Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang (UNNES) 2020 yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom meeting dan Whatsapp selama dua hari yang dimulai dari Minggu (6/12) hingga Senin (7/12). PJD ini diisi oleh Muhammad Dafi Yusuf dari Jurnalis serat.id dan suara.com dengan membawa topik “Teknik Menulis Berita”, serta Agung Sedayu yang merupakan editor majalah Tempo memaparkan materi “Jurnalistik dan Perkembangan Informasi”.

Mengangkat tema “Eksistensi Produk Jurnalistik”, acara tahunan yang diikuti oleh 100 peserta untuk membekali para anak magang BP2M ini juga dihadiri oleh peserta umum diluar mahasiswa UNNES seperti LPM Dimensi Polines asal Semarang, Jombang, Sulawesi Selatan, dan Medan. “Dengan adanya PJD ini ada gambaran imajinasi, bagaimana pers mahasiswa bekerja di lingkarannya,” ungkap Aksana Maulida selaku Pimpinan Umum BP2M UNNES.

“Terima kasih, kakak-kakak yang sudah menyelenggarakan PJD ini. Sangat bermanfaat,” ucap Fina salah satu peserta PJD BP2M UNNES 2020 melalui grup Whatsapp.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

 

 

Leave a comment