Illustrator: Jenni Sihombing

Desember Berakhir di November  

Jenni Sihombing

Pernah suatu kali terjadi gesekan antara untaian dan sebuah gelagak. Mereka bertemu dan terbentur, pecah lalu menciptakan sebuah percikan hebat. Mungkin ada sebuah penyesalan yang tetap mengikat dan mengerat diri.

Desember bulan penuh keceriaan, November bulan penggelapan. Lonceng, tinsel, dan gingerbread man seraya melambangkan kisah klasik Desember kita. Berawal dari sebuah cemara dengan segala pernak-perniknya nan eksotis, namun bukan arti yang sebenarnya.

Kenapa ya? Mungkin karena tak berbalas atau lebih tepatnya tidak dibalas.

Kubuka jendela tapi tidak utuh kelihatannya, dan mungkin ini adalah salahku.

Pernah tidak menaruh hati pada seseorang tapi tak berbalas?

Pernah suatu ketika aku bertemu dengan seorang pria berwajah manis, dengan penggambaran karakter yang ceria. Sekilas dia tampak sangat hangat sebelum akhirnya menjadi sangat dingin. Berbeda denganku, tidak biasa bagiku bertemu dengan seseorang lalu berteman dengan hangat. Kalau begitu yang ini luar biasa karena aku bisa berteman hangat dengan seseorang.

Malam itu aku menyukainya sebagai seorang teman, sahabat. Atau mungkin tidak, sebab rasanya hangat. Kala itu kami berbincang tentang banyak hal, dan membicarakan segala sesuatunya. Kami menertawakan berbagai hal dan itu benar-benar membahagiakan. Kami sematkan satu demi satu perhiasan di pohon cemara sampai dia tersipu malu dipandangi oleh kami. Mungkin terdengar biasa saja di mata orang lain. Tapi, malam itu menjadi suatu momen pembentuk kedekatan kami. Setiap cerita dan detik-detik tawa kami terekam sudah dan kupeluk erat.

Suatu ketika, aku mencarinya dan sayangnya dia pergi lebih awal untuk meraih gelar sarjananya di sana. Aku hanya bisa mendoakannya dari kejauhan yang jauh. Padahal ingin kulanjut semua cerita yang masih tertunda. Namun, apa daya tak mungkin kupaksakan keinginan ini.

Memasuki tahun berikutnya, aku berharap akan bertemu dengan keadaan yang sama. Tersenyum dan melanjutkan cerita yang belum terselesaikan. Malam itu, dia bukan lagi orang yang aku kenal dulu. Wajahnya dingin dan aku tak tahu harus memulai dari apa. Aku ingin memulai cerita tapi sikapnya menunjukkan tidak tertarik mendengarkan ceritaku. Kupandang wajahnya lekat-lekat berharap itu bukanlah dia. Sayangnya itu benar dia, dia yang sekarang bukan dia yang dulu lagi.

Tak tahu harus bicara apa membuatku diam, begitupun dengannya. Beberapa minggu berjalan dalam diam dan berakhir dengan rasa canggung yang tak terobati dari diri ini. Setiap kali bertemu dengannya, sama sekali tidak ada senyum, sapa atau sekadar menatap sejenak. Akhirnya hal itu membentuk karakter yang baru dan menuruti kemauan hati untuk tidak lagi bicara.

Suatu waktu kami tengah duduk berdua, dia kembali membuka perbincangan seolah kembali membuka lembaran putih lagi. Dia sudah mencoba, tapi aku mengurung diri. Dia bertanya tentang sana dan sini tapi aku tak memberikan balasan yang hangat. Mungkin seharusnya aku tidak seegois itu, dia sudah mencoba untuk meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Tapi diri ini mengeras dan membatu. Akhirnya lonceng tidak lagi berdering di antara kami, dan kali ini aku yang menghentikan lonceng tersebut.

Berbulan-bulan lamanya waktu terus saja berjalan dan jam dinding terus saja berputar. Tahun kembali mengingatkan kita ke zaman waktu kita bertemu, dan keadaan masih tetap sama dan terjiplak kaku di antara kita. Ada sebuah penyesalan? Pasti ada, dan untuk itu aku ingin memperbaiki keadaan seperti semula. Tapi sepertinya keadaan berbalik, kali ini kau yang tidak memberikan kesempatan. Setidaknya berikan sedikit waktu saja untuk kita kembali berbagi cerita dan kembali menertawakan berbagai hal termasuk yang tidak lucu sekalipun.

November pun tiba dan…..

Mendengar kabar dari layar ponsel itu, aku sangat berharap mereka bercanda. Tapi kenapa, ada beberapa orang di kontakku membuat status yang sama. Aku mencoba mencerna keadaan dan merenungkan pelan-pelan. Terakhir, kubuka akun media sosial yang lain untuk menemukan informasi valid dari keluarganya. Lalu kudapati sebuah gambar wajahmu yang lusuh dan tertidur pulas.

“Selamat jalan abang, kucoba untuk mengikhlaskan keadaan yang ada. Tenanglah di sana abangku tersayang,” begitu pesan status yang kutemukan dari sanak saudaranya.

Aku kaku, terdiam, dan kemudian membisu sampai hiruk pikuk kota tak lagi meresap di telingaku. Aku berpikir, dan mencoba mencerna apa yang sudah aku lihat. Berharap semuanya adalah salah, dan aku hanya sedang bermimpi. Aku terus terdiam, berharap agar aku segera terbangun dari mimpiku.

“Ayo bangun, ayo bangun, bangun….,” pintaku pada diri ini yang padahal tidak sedang bermimpi.

Aku masih….. terdiam dan merasa semua masih baik-baik saja bahkan sampai pada aku benar-benar melihat wajah itu sudah membiru dan terbaring kaku. Semuanya seolah sebuah mimpi di luar kendali. Aku baik-baik saja dan masih sangat terkendali, mungkin karena memori di antara kita sempat berubah. Memori terbaru yang ada hanyalah kita sama-sama dingin dan tak lagi saling menyapa.

Waktu terus berjalan, dan aku pun punya kesibukan. Aku lupa, seharusnya aku ikut menghantarkanmu setidaknya untuk yang terakhir kalinya saat bersatu bersama tanah. Tapi aku tak sampai berpikir sejauh itu. Aku pulang setelah melihat itu benar adanya kau, dan tak menitikkan air mata sedikit pun. Rasanya masih seperti mimpi sampai sebelum aku membuka kembali memori awal perjumpaan kita.

Kududuk termenung menatap layar ponsel dan membuka status satu persatu. Wajahmu tersenyum di gambar yang mereka unggah tapi gambarnya tidak sesuai. Kali ini bukan karena kata-katanya yang tidak sesuai melainkan senyuman ceriamu yang kembali membawa memori ke masa kita bertemu pertama kali.

Mataku menitikan air mata lalu berubah deras kembali mencerna keadaan yang ada. Gingerbread man yang dulu ternyata sudah tidak ada lagi, ia terkubur bersama memori. Dada sontak terasa sesak dan air mata tak kunjung usai menyesali perbuatan bodohku. Andai saja aku tidak seegois dulu. Aku lupa, dia sudah mencoba memperbaiki kesalahan. Hanya saja aku keras dan bodoh. Seketika aku membenci keadaan dan diriku sendiri. Aku belum sempat memperbaiki keadaan yang dulu. Kenapa rasanya sangat menyakitkan, rasanya ada luka dalam yang terbuka. Aku menangis, merintih menangisi kebodohan ku dan kepergian yang tak lagi kembali. Rasanya ingin menghujat diri menangisi kepergianmu.

Namun apa daya, yang lama telah pergi dan yang dapat kulakukan hanyalah menerima keadaan. Dikau tak memberi sedikit kesempatan untukku melambaikan tangan atau berlari kearahmu. Melepaskan senyuman hangat yang memecah suasana seperti awal kita jumpa. Cuma penyesalan dan air mata yang tersisa disela-sela diamku mengingat dirimu.

Diriku menyesal dengan sangat, tak tahan membayangkan wajah ceria itu dan setiap cerita kita menyatu bersama tanah. Aku hanya berharap semoga yang aku lihat hanyalah mimpi, agar aku bisa bertemu dengan wajah ceria itu sekali lagi.

Tenanglah di sana

Satu saat nanti kita akan mengobrol panjang kali lebar

Kali ini aku tak kan lagi cuek

Kamu tenanglah di sana, kapan kita bertemu kita akan mengobrol tentang bayak hal.

 

Akan kita sambung cerita yang dulu belum terselesaikan

Jangan lupa, siapkan senyuman terbaikmu di sana nanti…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *