Hits: 53

Rais Sihombing

Benak Lasma belum cukup kuat untuk mengingat senyum hangat sang ayah ketika berangkat pergi…dan tak kembali. Tiap dia bertanya, suara lembut nan rapuh ibu selalu menjawab “Ayah pergi dibawa kapal besar. Layarnya kuning terbentang lebar saat dihembuskan  angin. Ayah pasti berada di tempat yang lebih baik sekarang”.

Rasa kesal dirasakan oleh Lasma kecil dengan pikiran bocahnya. “Jika memang ayah sayang denganku, mengapa dia tidak mengajakku pergi, Bu?” ungkapnya kepada Ibu. Tertawa ringan, Ibu memeluk dan mengelus kepala Lasma dengan lembut. Ibu menjawab, “Nanti kita bakal ketemu ayah kok, sabar ya anak Ibu.”

Waktu berjalan dan Lasma beranjak remaja. Satu hal yang berubah, dia akhirnya tahu akan kepergian sang ayah. 16 tahun lalu ayah berangkat menuju Daratan Utama dengan harapan akan pekerjaan yang lebih baik untuk menghidupi Ibu dan Lasma. Nahas, ombak menerjang kapal yang membawa ayah. Begitulah ayah dijemput oleh Yang Mahakuasa.

Di usianya kini, Lasma sudah mulai paham dan terbiasa dengan yang namanya kematian. Dimulai dari cerita ayah, kemudian nenek yang sakit parah, adik sepupu Niel yang tenggelam ketika bermain di sungai, hingga Bibi tertua yang dibunuh oleh suaminya sendiri.

Pemakaman demi pemakaman dihadirinya. Namun dia belum sepenuhnya mengerti akan perasaannya sendiri ketika melihat ini semua. Nangis dan air mata sudah pasti, tetapi ada hal lain yang lebih besar, sesuatu yang dia tidak tahu dan bertahun-tahun mengganjal di dalam hatinya.

Hingga dunianya berubah dua tahun kemudian. Sakit parah yang diderita Ibu berhasil merenggut nyawanya. Pagi hari yang dingin, Lasma menemukan bahwa sudah tidak ada detak jantung yang tersisa di raga Ibu. Lasma akhirnya menangis dan memeluk tubuh dingin sang Ibu.

Pusara tempat perisitirahatan sang Ibu ditimpa sinar lembut sang mentari sore hari. Ibu dikubur di tempat yang indah, dataran tinggi yang langsung menghadap laut Kanoa di bagian selatan pulau.

“Semoga Ibu suka disini ya, semoga Ibu juga tenang karena sudah bertemu Ayah di sana,” ucapnya sembari mengecup nisan bertuliskan nama sang Ibu.

Hari berganti, Lasma memulai kembali hidupnya. Sedih dan rindu  akan selalu ada dalam hati, namun dia harus bertahan hidup. Akhirnya dia bekerja di toko jahit pak tua Jonas. Walaupun dengan gaji yang tidak seberapa, Lasma setidaknya dapat terlena dan disibukkan dari kesedihannya akan sang Ibu.

Beberapa tahun kemudian, Lasma tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Dulu kita melihatnya sebagai gadis belia tanggung yang baru lulus SMA, kini dia sudah terkenal karena kemampuan menjahitnya yang sangat lihai. Hal inilah yang membuat para pemuda di kampung itu tertarik dengan Lasma.

Namun semua pemuda itu kalah dengan Arman, pemuda suruhan Om Luhut, si juragan kapal yang cerewet. Tiap pagi menuju toko jahit, Lasma selalu memperhatikan Arman merapikan jala dan menambatkan tali kapal di dermaga. Dalam benaknya selalu Armanlah yang mengisi.

Arman mengetahui hal itu dan merasakan hal yang sama. Tiap pagi dia keluar dan bekerja merapikan jala hanya untuk menyaksikan Lasma berjalan sepanjang dermaga. Kedua insan ini merasakan ketertarikan yang sama. Mulailah ikatan terjalin antara Lasma dan Arman. Dalam waktu yang singkat, akhirnya mereka menikah.

Kehidupan pernikahan mereka berjalan dengan harmonis. Terlebih lagi kabar bahagia datang dari keluarga kecil ini. Ternyata Lasma hamil. Arman sangatlah bahagia. 9 bulan dia menanti kehadiran sang anak.  Namun nahas, Lasma kecelakan dan mengalami keguguran.

Semenjak itu Lasma sering bersedih hati dan tidak semangat menjalani hidup. Jabang bayi yang dinantikannya telah pergi bahkan sebelum dia dapat menghirup udara dunia ini. Hatinya sangat sakit, begitu juga Arman.

Perlahan, Lasma mencoba bertahan dan kembali menjalani hidup. Sudah terbiasa dia dengan fase ini. Mencoba ikhlas setelah kepergian orang yang dicintanya. Selalu dalam hatinya dia bertanya, “Akankah ada lagi yang kusayang bakal dijemput oleh Dia yang di atas?”

Saat ini, situasi ekonomi mereka sedang terpuruk. Hal ini mengharuskan Arman untuk mencari pekerjaan lain. Temannya menawarkan pekerjaan kepadanya sebaga buruh di Daratan Utama. Lasma sangat keberatan dengan hal itu, mengingat akan peristiwa ayahnya yang membuatnya takut akan mengalami hal yang sama.

Tetapi Arman meyakinkan Lasma. “Tidak mungkin kutinggalkan kau sendiri. Aku akan kembali, percayalah.”

Walaupun dengan berat hati, akhirnya Lasma pun menyetujui keputusan sang suami. Tepat di akhir pekan, Lasma mengantar kepergian sang suami ke dermaga. Arman memeluk Lasma dan mengecup keningnya. “Aku akan rutin mengirim surat kepadamu, berjanjilah untuk membalasnya selalu”.

Dengan itu Arman menaiki kapal dan menjauh hingga tenggelam dari pandangan mata.

Betul yang dijanjikannya, Arman selalu mengirim surat setiap minggu. Akhirnya Lasma mulai terbiasa dengan jarak yang ada. Bulan ke bulan berganti menjadi tahun, namun di tahun ketiga surat semakin jarang dikirim. “Mungkin dia sangat sibuk” dalam hati Lasma. Hingga tidak ada lagi surat yang dikirim. Lasma gelisah tak karuan. Untuk berangkat ke Daratan Utama dia membutuhkan uang yang tidak sedikit, tetapi untuk tetap disini hatinya sangat bimbang.

Sebulan kemudian, terjawab semua pertanyaan itu. Arman mengirim surat yang mengatakan bahwa dia telah menikah lagi dan mempunyai anak di sana. Dia mengakui semua kesalahannya dan mengatakan dirinya khilaf. Namun yang paling menyakitkan, Arman meminta Lasma untuk melupakanya dan mengirim segepok uang sebagai bentuk permintaan maaf.

“Apakah aku setidak berharga itu Arman??” Lasma membatin. Cobaan apa lagi yang kau berikan, Tuhan? Isak tangis Lasma sangatlah pilu bahkan kau tak akan sanggup mendengarnya. Pria yang dipercayanya menjadi belahan jiwa sehidup semati tega mengkhianati dirinya yang selalu peduli dan menunggu kabarnya di sini. Berulang-ulang dia mengirim surat tanpa henti namun tetap tak ada balasan dari Arman.

Akhirnya Lasma menyerah. Dia sudah melepas kekasih hatinya dengan ikhlas, begitu juga dengan kehidupan ini.  Surat yang terakhir kalinya dia tulis untuk sang suami menjadi bentuk perpisahan atas segalanya. Lasma berterima kasih atas segala memori indah yang mereka miliki, dia juga berharap agar Arman dapat hidup bahagia dengan wanita itu.  Di akhir dia mengatakan.

“Mungkin lebih baik aku bertemu ayah, ibu, juga anakku. Tempat mereka pasti akan lebih baik.”

Tepat di esok pagi, Lasma berjalan memandang jauh menuju titik di mana laut dan langit bertemu. Satu persatu orang pergi meninggalkannya. Hingga akhirnya dia berada di titik bertemu dengan kematiannya sendiri.

Akhirnya dia tahu. Kematian adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Dunia yang fana ini, sudah terlalu sering menyakiti, terlalu keras untuk dijalani. Sudah tepat waktunya untuk bertemu ayah.

“Seperti inikah rasanya? Baiklah kalo begitu.”

“ Bertemu ayah dan ibu mungkin lebih baik.”

Leave a comment